Comscore Tracker

Jung Jawa, Sang Penguasa Laut Nusantara yang Telah Hilang

Tidak semua orang tahu mengenai hal ini!

Sejak berabad-abad silam, Indonesia dikenal sebagai negara maritim yang telah menguasai ekspedisi laut untuk perdagangan. Sebenarnya Indonesia telah memiliki teknologi pelayaran yang menakjubkan sebelum bangsa Eropa menguasai teknologi pelayaran di dunia.

Hal ini telah diakui oleh seorang astronomer dari Yunani yang bernama Claudius Ptolemaeus, ia menyebut kapal yang dimiliki Indonesia dengan sebutan kolandiaphonta, yang artinya kapal dari Sumatera atau Jawa.

1. Apa itu Jung Jawa?

Jung Jawa, Sang Penguasa Laut Nusantara yang Telah HilangIlustrasi sebuah kapal Jung (Pixabay.com/ArtTower)

Pada abad ke-8 teknologi perkapalan yang dimiliki Nusantara mencapai puncak kejayaannya, ketika orang Jawa behasil membuat kapal terbesar dalam sejarah dunia. Masyarakat Jawa pada saat itu menyebutnya "Jung", yang artinya dalam bahasa Jawa kuno berarti perahu.

Catatan seorang penjelajah asal Portugis pada abad 16 yang bernama Tome Pires, menyebutkan nama seorang Pati Unus sebagai panglima yang memimpin armada pasukan laut dari sebuah kapal raksasa yang disebut dengan nama "Jung". Saking besarnya kapal ini bisa menampung sekitar seribu penumpang. 

Banyak ahli yang berpendapat bahwa kata "Jung" berasal dari bahasa Tiongkok. Tetapi dari para peneliti sejarah, seperti Paul Pelliot, Waruno Mahdi, hingga Manguin berpendapat bahwa kata ini lebih tua yang diperkirakan sekitar abad ke-10 masehi, dari riwayat pelayaran yang bermula pada masa Dinasti Sung .

2. Konstruksi yang dimiliki Jung Jawa

Jung Jawa, Sang Penguasa Laut Nusantara yang Telah HilangIlustrasi kontruksi yang dimiliki Jung Jawa (Pixabay.com/analogicus)

Kontruksi yang dimiliki oleh Jung Jawa sangat unik. Kayu yang digunakan dalam pembuatan ini menggunakan kayu jati yang digabung menjadi empat lapis, sehingga membuatnya kokoh. Kemudian lambung perahu dibentuk sebagai penyambung antara papan-papan pada lunas kapal, lalu disambungkan lagi ke pasak kayu.

Uniknya di sini tanpa menggunakan kerangka, baut, bahkan paku besi. Linggi haluan dan buritan kapal dibentuk secara lancip. Jung Jawa memiliki dua batang kemudi yang menyerupai dayung, dan didukung dengan empat buah layar berbentuk persegi dengan sekat menggunakan bambu.

Jung Jawa tertulis dalam catatan laporan sejarah pada abad 16 yang ditulis oleh Gaspar Correla. Dalam catatannya, ia menceritakan bahwa kapal raksasa dari Jawa yang tidak akan mempan ditembak oleh meriam terbesar pun, karena empat lapis kayu jati, mungkin hanya dua saja yang akan tertembus oleh peluru meriam tersebut.

Baca Juga: Hits di Masanya, 7 Fakta tentang Gladiator yang Harus Kamu Tahu

3. Menguasai laut Asia Tenggara

Jung Jawa, Sang Penguasa Laut Nusantara yang Telah HilangIlustrasi Jung Jawa sedang mengawasi lautnya. (Pixabay.com/Matyze)

Menurut hikayat Raja-raja Pasai menyebutkan bahwa, Kerajaan Majapahit menggunakan "Jung" sebagai kekuatan lautnya yang kuat, yang kemudian dikelompokkan menjadi 5 buah armada. Diperkirakan jumlah terbesar "Jung" Majapahit mencapai 400 kapal, dengan didampingi jenis Malangbang dan Kelulus yang tidak terhitung banyaknya.

Penulis sejarah pada abad ke 16 yang berasal dari Portugis, bernama Gaspar Correla mencatat mengenai pertemuan Alfonso Albuquerque dengan kapal raksasa yang dimiliki Majapahit yang terjadi diselat Malaka.

Catatan yang ditulis oleh Gaspar, menyebutkan bahwa kapal raksasa itu tidak mempan ditembak meriam yang terbesar. Hanya dua lapis papan yang bisa menembusnya dari empat lapis papan. Saat kapten mencoba untuk menaikinya bagian belakang kapal Flor de la Mar tidak bisa mencapai jembatannya.

4. Ciri-ciri Jung Jawa

Jung Jawa, Sang Penguasa Laut Nusantara yang Telah HilangIlustrasi ciri - ciri Jung Jawa (Pixabat.com/analogicus)

Para ahli membuat kesimpulan setelah mempelajari catatan-catatan tentang karakteristik "Jung Jawa" di antaranya:

  1. Memiliki ukuran sekitar 50 meter panjangnya dengan kapasitas yang bisa diangkut sebesar 500 hingga 1.000 orang, dengan kapasitas beban antara 250 hingga 1.000 ton.
  2. Dalam konstruksinya tidak menggunakan besi atau paku sebagai teknologi dalam pembuatannya. Orang Jawa menggunakan pasak sebagai perekat.
  3. Dinding yang digunakan terdiri dari lapisan papan yang terbuat dari kayu jati.
  4. Candik dengan dua bilah yang ditaruh di belakang dek kapal digunakan sebagai kemudi.
  5. Menggunakan empat buah layar besar ditambah dengan sebuah busur besar sebagai kemudi angin.

5. Hilangnya sang penguasa laut nusantara

Jung Jawa, Sang Penguasa Laut Nusantara yang Telah HilangIlustari hilangnya Jung Jawa. (Pixabay.com/Noupload)

Menurut pendapat Anthony Reid bahwa kegagalan Pati Unus di Malaka salah satu penyebab hilangnya kapal-kapal besar di pesisir utara Jawa. Kemudian bergesernya pemerintahan Mataram ke pedalaman membuat kapal-kapal yang disimpan di pesisir ditinggalkan. Kesalahan yang membuat pukulan besar bagi hilangnya kapal-kapal, ketika penguasa Mataram menghancurkan kota-kota yang menyimpan peninggalan-peninggalan galangan.

Catatan Randra F Kurniawan (2009), ketika perintah Amangkurat I pada tahun 1655, sebagai kebijakan represif Mataram. Ia memerintahkan untuk menutup pelabuhan dan menghancurkan kapal-kapal agar tidak memicu pemberontakan yang akhirnya memusnahkan para ahli pembuat kapal yang sejak masa Demak sendiri sudah tinggal sia-sia.

Ketika VOC mulai menguasai pelabuhan-pelabuhan pesisir pada pertengahan abad 18. kebijakan VOC melarang galangan kapal membuat kapal dengan ukuran melebihi 50 ton dan menempatkan pengawas di masing-masing kota pelabuhan menambah memperburuk keadaan.

Nah, itu tadi merupakan penjelasan mengenai Jung Jawa. Sebenarnya nenek moyang kita jauh lebih dulu memiliki teknologi dalam bidang pelayaran.

Baca Juga: 12 Fakta Ghost Army, Tentara dengan Trik Ilusi untuk Menipu Musuh

Dimas Tri Agustian Photo Writer Dimas Tri Agustian

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Ernia Karina

Berita Terkini Lainnya