Denah Dome of the Rock. Bagian Tengah (أ): Menunjukkan Batu Sakhrah, yaitu batu besar yang berada tepat di bawah kubah utama. Lingkaran Tengah (6 & 7): Barisan tiang melingkar yang menopang struktur kubah utama. Segi Delapan Dalam: Lorong melingkar yang memungkinkan peziarah berjalan mengelilingi batu suci tersebut. Dinding Luar: Dinding berbentuk segi delapan sempurna dengan empat pintu utama. (commons.wikimedia.org/براء)
Pemilihan bentuk segi delapan pada denah Dome of the Rock bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah keputusan arsitektural yang penuh makna. Dalam tradisi arsitektur Islam, bentuk segi delapan berfungsi sebagai jembatan matematika dan simbolis antara bentuk persegi dan lingkaran. Persegi melambangkan dunia atau bumi yang nyata, sedangkan lingkaran merupakan simbol alami bagi kesempurnaan surga yang abadi.
Dengan menggunakan konfigurasi ini, Dome of the Rock secara visual melambangkan hubungan harmonis antara bumi dan surga. Segi delapan hadir sebagai langkah transisi yang menghubungkan stabilitas manifestasi duniawi dengan kemurnian spiritual di atasnya. Melalui desain ini, bangunan tersebut tidak hanya menjadi mahakarya seni, tetapi juga menjadi representasi fisik dari pertemuan antara dimensi manusia dan Sang Pencipta.
Dome of the Rock tetap berdiri kokoh hingga hari ini sebagai simbol keagungan arsitektur dan spiritualitas. Meskipun situasi politik di sekitarnya terus dinamis, kemegahan kubah emasnya tetap menjadi pemandangan paling ikonik di cakrawala Yerusalem yang dihormati oleh berbagai umat di seluruh dunia.