Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Fakta Hujan Meteor Delta Aurigid, Puncaknya Minggu Ini!
ilustrasi hujan meteor Delta Aurigid (unsplash.com/Han Mo)

Langit malam Oktober 2026 kembali dihiasi fenomena hujan meteor, salah satunya Delta Aurigid yang mencapai puncaknya minggu ini, tepatnya 11 Oktober 2026. Hujan meteor tersebut menarik karena periode aktivitasnya relatif singkat dibandingkan sejumlah hujan meteor lainnya. Selain itu, Delta Aurigid memiliki karakteristik unik, mulai dari arah kemunculannya hingga jumlah meteor yang bisa diamati dari Indonesia.

Fenomena ini terjadi ketika Bumi melewati jalur debu dan serpihan yang ditinggalkan benda langit di sepanjang orbitnya. Ketika partikel tersebut memasuki atmosfer Bumi, gesekan dengan udara membuatnya berpijar dan terlihat sebagai meteor. Lalu, apa saja fakta menarik tentang hujan meteor Delta Aurigid yang puncaknya berlangsung minggu ini? Yuk, simak di bawah ini!

1. Delta Aurigid hanya aktif selama 9 hari

ilustrasi hujan meteor Delta Aurigid (unsplash.com/Justin Wolff)

Hujan meteor Delta Aurigid hanya aktif selama 9 hari, yaitu 10–18 Oktober 2026. Mengutip dari laman In-The-Sky.org, hujan meteor ini diperkirakan mencapai puncak aktivitas pada 11 Oktober 2026, dengan titik pancar berada di rasi Auriga. Dari Jakarta, Delta Aurigid mulai bisa diamati sekitar pukul 22.31 WIB ketika titik pancarnya terbit di ufuk timur.

Hujan meteor ini kemudian tetap dapat disaksikan hingga menjelang fajar atau sekitar pukul 05.09 WIB. Waktu terbaik untuk mengamati Delta Aurigid ialah menjelang fajar, sekitar pukul 04.00 WIB, saat titik pancarnya berada paling tinggi di langit. Puncak aktivitasnya sendiri diperkirakan berlangsung sekitar pukul 00.00 WIB pada 12 Oktober. Karena itu pengamatan setelah titik pancar terbit pada malam 11 Oktober menjadi waktu yang patut dipilih.

2. Asal-usul Delta Aurigid masih belum diketahui

ilustrasi mengamati hujan meteor di malam hari. (pexels.com/Raman deep)

Hujan meteor terjadi ketika Bumi melewati aliran debu dan serpihan kecil di ruang angkasa yang kemudian memasuki atmosfer serta berpijar sebagai meteor. Dilansir NASA Jet Propulsion Laboratory (JPL), aliran meteor biasanya berasal dari debu yang dilepaskan oleh komet dan tersebar di sepanjang orbit benda induknya. Pada sejumlah hujan meteor, astronom sudah mengetahui benda induknya, seperti Taurid Selatan yang dikaitkan dengan Komet 2P/Encke.

Namun, Delta Aurigid belum memiliki komet induk yang diketahui secara pasti. Dalam database IAU Meteor Data Center, hujan meteor ini masih berstatus working list. Artinya, asal-usul material yang membentuk aliran Delta Aurigid masih menjadi bagian yang belum terpecahkan dan membutuhkan penelitian lebih lanjut.

3. Hanya menghasilkan 1–2 meteor per jam

ilustrasi hujan meteor Delta Aurigid (pexels.com/Pavel Polyakov)

Delta Aurigid merupakan hujan meteor dengan aktivitas yang relatif rendah dibandingkan sejumlah hujan meteor lainnya. Mengutip laman In-The-Sky.org, Delta Aurigid memiliki zenithal hourly rate (ZHR) sekitar dua meteor per jam pada kondisi ideal, yakni ketika langit benar-benar gelap dan titik pancarnya berada tepat di atas kepala. Namun, kondisi pengamatan nyata tidak pernah sepenuhnya ideal sehingga jumlah meteor yang terlihat biasanya lebih sedikit.

Dari Jakarta, misalnya, pengamat diperkirakan hanya bisa melihat hingga sekitar 1 meteor per jam saat puncak aktivitas. Meski jumlahnya sedikit, Delta Aurigid tetap menarik diamati karena puncaknya berdekatan dengan fase bulan baru. Artinya, cahaya Bulan diperkirakan hanya memberikan gangguan sedikit sehingga meteor bisa terlihat lebih jelas di langit malam.

Meski tak sebanyak hujan meteor lainnya, Delta Aurigid tetap menjadi fenomena langit yang menarik untuk diamati. Periode aktivitasnya yang singkat, asal-usul yang masih belum diketahui, dan puncaknya yang berdekatan dengan bulan baru membuat hujan meteor ini punya keunikan tersendiri. Jadi, sudah siap berburu kilatan Delta Aurigid di langit malam?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article