Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
potret kepala dari ular sanca bulan
potret kepala dari ular sanca bulan (commons.wikimedia.org/Danleo~commonswiki)

Ular sanca bulan (Simalia boeleni) bisa dibilang adalah keluarga ular sanca (famili Pythonidae) dengan ciri khas warna tubuh yang unik. Soalnya, ada perbedaan warna tubuh antara individu dewasa dengan yang masih muda. Ketika baru menetas atau masih muda, ular sanca bulan punya sisik berwarna merah cerah, cokelat, dan krem di sekujur tubuh. Namun, ketika sudah dewasa, warna itu berubah jadi hitam dengan motif dan bagian perut kuning.

Secara ukuran, ular sanca bulan terbilang berukuran sedang kalau dibandingkan dengan kerabat yang lain. Panjang maksimal reptil ini sekitar 3—4,2 meter dengna boobt antara 9—27 kg. Selain soal keunikan warna dan ukuran tubuh, ular sanca bulan juga punya beberapa keunikan lain yang akan kita bahas dalam kesempatan kali ini. Maka dari itu, kalau penasaran, simak sampai tuntas, ya!

1. Peta persebaran dan habitat pilihan

ilustrasi peta persebaran ular sanca bulan (commons.wikimedia.org/Tigerpython)

Ular sanca bulan sebenarnya hewan endemik pulau Papua. Namun, mereka tersebar di Papua bagian Indonesia dan juga Papua Nugini. Kalau di bagian Indonesia, reptil ini berada di Pegunungan Papua, Yalimo, Yahukimo, Mamberamo Tengah, Lanny Jaya, Nduga, Tolikara, dan Lembah Baliem. Sementara itu, di Papua Nugini, mereka berada di pegunungan bagian timur, Morobe, Gunung Dayman, Lembah Musa, dan Pulau Goodenough, Animalia melansir.

Soal habitat pilihan, ular ini suka berada di hutan-hutan tropis dataran tinggi dan pegunungan. Walaupun terlihat sangat spesifik, sebenarnya ular sanca bulan itu terbilang sangat sulit ditemukan. Bukan hanya karena warna tubuh yang sangat berbaur dengan lingkungan, akses menuju habitat kesukaan mereka juga sangat sulit dijangkau oleh manusia.

2. Makanan favorit dan cara berburu

kepala ular sanca bulan yang sudah dewasa (commons.wikimedia.org/Tigerpython)

Tentunya ular sanca bulan tergolong karnivor sejati, tapi tidak berbisa. Dengan ukuran tersebut, mereka mampu mengonsumsi hewan-hewan dengan ukuran kecil maupun sedang. Dilansir AZ Animals, pilihan makanan favorit reptil ini terdiri atas kadal, kuskus, katak, kelelawar, dan pengerat berbagai ukuran. Waktu paling tepat untuk berburu bagi mereka adalah malam hari (hewan nokturnal).

Untuk mencari makanan itu, ular sanca bulan lebih banyak bergerak di atas tanah. Namun, jika dibutuhkan, sebenarnya mereka bisa memanjat pohon. Adapun, taktik yang dipakai untuk melumpuhkan mangsa sangat identik dengan spesies ular sanca lain. Menunggu di tempat yang membuat warna tubuh mereka berbaur secara sempurna dan melancarkan gigitan cepat saat target sudah dalam jangkauan serang. Proses berburu diakhiri dengan belitan maut yang semakin dieratkan ular sanca bulan setiap kali si mangsa menggerakkan anggota tubuh sampai akhirnya mati karena sesak nafas.

3. Reptil dengan banyak mitos-mitos lokal

Penampilan unik ular sanca bulan membuat ada begitu banyak cerita setempat yang terkait dengan mereka. (commons.wikimedia.org/Jpogi)

Sebagai reptil yang tinggal di Papua, ular sanca bulan terbilang “dekat” dengan masyarakat setempat. Maksudnya, ada banyak cerita dan mitos yang mengaitkan ular ini dengan kebudayaan masyarakat. Akibatnya, reputasi ular yang satu ini terbilang unik; dianggap sebagai jelmaan dewa, tapi kadang juga diburu untuk dikonsumsi.

Dilansir AZ Animals, salah satu cerita lokal tentang ular sanca bulan yang unik adalah sosok dewa yang kehilangan bulu indahnya secara perlahan-lahan karena melarikan diri dari pertarungan. Seiring waktu, bulu tersebut hilang total dan meninggalkan bentuk seperti sosok ular berwarna hitam yang identik dengan ular sanca bulan. Maka dari itu, ular ini sering dikaitkan sebagai sosok dewa yang kehilangan bentuk aslinya.

Dari cerita itu, ada mitos lain dari ular sanca bulan yang mengakibatkan masyarakat setempat melakukan perburuan. Bagi banyak suku di Papua, memburu dan memakan ular sanca bulan dipercaya dapat memberikan kekuatan spesial saat hendak melakukan perang. Jadi, kebiasaan itu hanya dilakukan oleh petarung suku dan spesifik dilakukan ketika hendak terjun ke medan perang.

4. Sistem reproduksi

potret ular sanca bulan dalam masa transisi usia remaja ke dewasa (commons.wikimedia.org/Danleo~commonswiki)

Musim kawin bagi ular sanca bulan berlangsung saat musim hujan dimulai atau sekitar November—April. Mereka termasuk hewan ovipar alias betina hanya bertelur saja dan membiarkan telur memasuki masa inkubasi secara eksternal. Sebagai hewan soliter, reptil ini baru akan berinteraksi dengan calon pasangan terdekat saja ketika mendekati musim kawin.

Snake State melansir kalau betina mampu menghasilkan 5—10 butir telur dalam satu musim kawin. Telur-telur itu diletakkan di bawah celah akar pohon, batang pohon yang sudah tumbang, atau celah batu dengan vegetasi lebat. Hanya betina yang menjaga area sekitar sarang sampai anak-anak menetas. Setelah itu, ia akan pergi, sementara anak-anaknya sudah harus hidup secara mandiri. Di alam liar, ular sanca bulan diketahui mampu hidup selama 20 tahun atau lebih jika dipelihara manusia.

5. Status konservasi

ular sanca bulan yang dipelihara di Denver Zoo, Colorado, AS (commons.wikimedia.org/Dick Culbert)

Berdasarkan catatan IUCN Red List, status konservasi ular sanca bulan ternyata tergolong Data Deficient (DD). Adapun, maksud dari status ini adalah tim IUCN masih sulit untuk menentukan populasi secara keseluruhan. Penyebabnya satu, yakni medan yang sangat sulit untuk disambangi manusia jika ingin melakukan pendataan. Alhasil, kita tak tahu secara pasti masih ada berapa dan apa tren populasi dari ular sanca bulan di luar sana.

Padahal, IUCN juga memberikan beberapa potensi ancaman serius bagi ular sanca bulan. Disebutkan kalau reptil ini rentan diburu untuk dikonsumsi masyarakat setempat ataupun diperjualbelikan sebagai hewan peliharaan. Selain itu, kerusakan habitat karena pembukaan lahan untuk infrastruktur dan ekstraksi sumber daya oleh manusia juga jadi ancaman, malah jadi yang lebih serius.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, ular sanca bulan kadang diperjualbelikan untuk pecinta reptil. Hanya saja, ular hasil tangkapan liar itu terbilang ilegal sehingga kebanyakan ular sanca bulan yang dijual merupakan hasil kembang biak. Masalahnya, mengembangbiakkan ular yang satu ini terbilang sangat sulit. Akibatnya, harga seekor anakan ular sanca bulan itu bisa dihargai sampai 11 ribu dollar AS, lho.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team