Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
lesula (commons.wikimedia.org/ Hart JA, Detwiler KM, Gilbert CC, Burrell AS, Fuller JL, et al.)
lesula (commons.wikimedia.org/ Hart JA, Detwiler KM, Gilbert CC, Burrell AS, Fuller JL, et al.)

Dunia primata memang seperti gak ada habisnya untuk dibahas. Maklum, menurut New England Primate Conservancy, ada 522 species primata yang tersebar di berbagai belahan dunia. Jumlah tersebut terus bertambah seiring dengan penemuan terbaru. Salah satu primata yang 'baru ditemukan' pada era 2000-an ialah lesula.

Lesula (Cercopithecus lomamiensis) merupakan monyet dunia lama yang hidup di Cekungan Lomami, Republik Demokratik Kongo, Afrika. Dunia sains baru menyadari keberadaan spesies ini di tahun 2007. Dilansir Animalia, lesula merupakan spesies monyet kedua yang eksistensinya terungkap sejak tahun 1984.

Ingin tahu lebih banyak soal lesula? Simak ulasannya berikut ini ya!

1. Memiliki ciri fisik yang khas

lesula (commons.wikimedia.org/ Christina Bergey)

Lesula merupakan keluarga monyet guenon yang memiliki lengan dan ekor yang panjang. Mereka memiliki bulu yang berwarna pirang dengan bagian wajah dan telinga yang tidak ditumbuhi bulu. Lebih lanjut, lesula juga memiliki ciri khas kulit berwarna biru pada bagian pantat dan perineum. Laman Fact Animal menyebutkan jika warna biru tersebut merupakan penanda lesula dalam kondisi sehat dan akan segera memudar ketika lesula mati.

New England Primate Conservancy melansir jika terdapat perbedaan ukuran badan bagi lesula jantan dan betina. Pada lesula jantan dewasa, panjang badannya berkisar antara 47-65 cm dengan bobot 4-7,1 kg. Sementara itu lesula betina biasanya berukuran panjang sekitar 40-42 cm dengan berat 3,5-4 kg.

2. Merupakan satwa endemik Kongo dan baru ditemukan tahun 2007

peta persebaran lesula (commons.wikimedia.org/ John A. Hart, Kate M. Detwiler, Christopher C. Gilbert, Andrew S. Burrell, James L. Fuller, Maurice Emetshu, Terese B. Hart, Ashley Vosper, Eric J. Sargis, Anthony J. Tosi)

Lesula hidup di wilayah hutan primer yang berada di Cekungan Lomami dan Sungai Tshuapa di Republik Demokratik Kongo. Monyet ini telah dikenal oleh warga lokal dan beberapa dijadikan peliharaan, namun keberadaannya belum terekspos ke dunia luar.

Animalia menyebutkan baru pada Juni 2007, para peneliti menemukan seekor lesula yang dipelihara oleh penduduk sebuah desa di Opala. Di tahun yang sama, dalam sebuah penjelajahan di kawasan Obenge para biologist dapat menyaksikannya secara langsung di habitatnya, Sungai Lomami.

Para peneliti merasa primata yang baru ditemuinya punya kemiripan dengan monyet hamlyn (monyet berwajah burung hantu/Cercopithecus hamlyni). Namun, populasi monyet hamlyn tercatat berada di timur Sungai Lualaba, Kongo, bukan di Lomami.

Penelitian morfologi, genetik dan analisis suara kemudian dilakukan untuk mengetahui apa monyet di Lomami merupakan spesies yang berbeda dari monyet hamlyn. Setelah lima tahun diteliti, akhirnya pada tahun 2012 para peneliti resmi mengkonfirmasi bahwa lesula merupakan spesies yang berbeda dengan Cercopithecus hamlyni.

Satwa herbivora ini kemudian dinamai Cercopithecus lomamiensis. New England Primate Conservancy melansir bahwa lomamiensis pada nama latin lesula diambil dari sungai tempatnya ditemukan, Sungai Lomami.

3. Punya wajah sendu, sering dibilang mirip tokoh terkenal

lesula (commons.wikimedia.org/ Hart JA, Detwiler KM, Gilbert CC, Burrell AS, Fuller JL, et al.)

Salah satu keunikan lesula terletak pada fitur wajahnya. Mata dan kelopaknya menyerupai manusia, mereka juga punya wajah yang sendu dan sering disamakan seperti tokoh terkenal. The Guardian bahkan menyatakan jika tatapan lesula terlihat dalam dan rautnya menyiratkan kebijaksanaan bak lukisan potret Titus karya Rembrandt. Dalam sumber lain seperti Fact Animal, raut wajah lesula bahkan dibilang mirip aktor kenamaan Jake Gyllenhaal dan David Schwimmer. Memang iya?

4. Mengeluarkan suara 'boom' hanya saat fajar

lesula (instagram.com/ jackprimatesanctuary)

Salah satu yang membedakan lesula dari monyet lain ialah suaranya yang khas. Dilansir Scientific American, lesula jantan mengeluarkan bunyi boom yang dalam setiap fajar. Laman Fact Animal memperkirakan jika suara berfrekuensi rendah tersebut dihasilkan oleh kantong udara dalam laring lesula jantan dan digunakan sebagai cara berkomunikasi dengan sesamanya.

5. Merupakan hewan yang pemalu dan senang berada di daratan

lesula (instagram.com/ jackprimatesanctuary)

Primata kerap diasosiasikan sebagai hewan arboreal yang menghabiskan hampir seluruh waktunya di atas pohon. Tapi tidak demikian halnya dengan lesula. Berdasarkan pengamatan tingkah laku melalui camera trap, lesula lebih banyak beraktivitas di daratan seperti untuk grooming, mencari makan, atau berjalan dengan keempat kakinya (quadruped), meski terkadang ia juga memanjat ke atas pohon untuk beristirahat.

Menurut Animalia, lesula juga merupakan hewan yang pemalu. Mereka bepergian dalam kelompok kecil yang terdiri dari 5 individu atau kurang dari itu. Dilansir NE Primate Conservancy, meski pendiam dan pemalu, satwa yang aktif di siang hari ini ternyata dapat berbaur dengan damai bersama spesies lainnya. Contohnya ialah monyet guenon serigala (Cercopithecus wolfi), guenon ekor merah (Cercopithecus ascanius katangae), atau kolobus merah (Procolobus badius tholloni).

6. Berstatus vulnerable (rentan punah) karena berada di wilayah yang marak perburuan daging hewan liar

lesula (commons.wikimedia.org/ Christina Bergey)

Belum ada data yang menunjukkan berapa jumlah lesula yang tersisa di alam liar. Lesula sebenarnya bukan satwa yang menjadi kerap jadi target perburuan dan perdagangan satwa ilegal. Tapi, mereka tinggal di kawasan yang penduduk lokalnya masih melakukan bush meat hunting atau mengkonsumsi daging dari hewan liar.

Dengan semakin berkurangnya populasi hewan bush meat seperti babi hutan dan antelop duiker, para peneliti memperkirakan monyet seperti lesula bisa menjadi target perburuan selanjutnya. Selain itu, NE Primate Conservancy menyatakan habitat lesula juga rentan terdampak alih fungsi lahan menjadi kawasan agrikultur. Kedua hal tersebut tentunya bisa mengurangi populasi lesula yang hanya berada di kawasan Lomami.

Saat ini beberapa usaha melestarikan lesula mulai berjalan. Pemerintah Republik Demokratik Kongo meresmikan Taman Nasional Lomami yang di dalamnya terdapat habitat lesula serta satwa khas Kongo lainnya. Selain itu, upaya community engagement dan pelatihan konservasionis lokal juga dilakukan oleh para peneliti yang concern dengan keberlangsungan lesula. Semoga berbagai upaya menjaga populasi lesula bisa berhasil dan primata ini gak punah, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team