ilustrasi La Nina (commons.wikimedia.org/NOAA Climate.gov)
La Nina memiliki pengaruh besar terhadap pola curah hujan global, khususnya di kawasan Pasifik Barat seperti Indonesia dan Asia Tenggara. Peningkatan suhu permukaan laut di wilayah barat Pasifik mendorong terbentuknya hujan lebat yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor. Oleh karena itu, pemahaman terhadap fenomena ini sangat penting untuk mitigasi risiko dan perencanaan kebencanaan di negara-negara tropis.
Selain itu, interaksi antara La Nina dan fenomena atmosfer lain seperti Madden-Julian Oscillation berdasarkan catatan dari National Aeronautics and Space Administration, interaksi antara La Nina dan fenomena atmosfer lain menunjukkan bahwa cuaca ekstrem tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor tunggal. Kombinasi keduanya dapat memperkuat atau justru melemahkan dampak curah hujan di suatu wilayah. Pemantauan berbasis satelit seperti TRMM menjadi alat penting untuk memahami dinamika iklim ini secara lebih akurat dan mendukung sistem peringatan dini terhadap cuaca ekstrem di masa depan.
Januari menjadi periode ketika hujan mencapai puncaknya di Indonesia. Curah hujan yang tinggi bukan hanya membentuk karakter iklim kawasan tropis, tetapi juga membawa dampak nyata bagi kehidupan sehari-hari, mulai dari pertanian hingga potensi bencana hidrometeorologi. Memahami alasan ilmiah di balik “bulan paling basah” ini penting agar masyarakat dan pemerintah dapat lebih siap menghadapi risiko, sekaligus memanfaatkan musim hujan secara lebih bijak dan berkelanjutan.