Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi curah hujan ekstrem
ilustrasi curah hujan ekstrem (pexels.com/Kaique Rocha)

Intinya sih...

  • Pengaruh Monsun Asia atau Monsun Timur Laut

  • Posisi Matahari dan ITCZ yang menguat

  • Suhu permukaan laut yang masih hangat

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Januari kerap jadi bulan yang “basah kuyup” di beberapa wilayah Indonesia. Curah hujan Januari di banyak daerah kawasan ini meningkat drastis, membuat langit mendung, hujan lebat, hingga banjir menjadi pemandangan yang berulang. Dari Indonesia, Malaysia, hingga Filipina, awal tahun sering kali diwarnai oleh cuaca ekstrem yang terasa datang tanpa jeda.

Fenomena ini bukan kebetulan semata. Musim hujan Indonesia mencapai puncaknya pada Januari karena dipengaruhi oleh dinamika atmosfer global yang saling berinteraksi. Mulai dari pergerakan angin monsun, posisi matahari di sekitar khatulistiwa, hingga kondisi lautan yang masih menyimpan panas, semuanya berkontribusi menjadikan Januari sebagai bulan paling basah dalam setahun.

1. Pengaruh Monsun Asia atau Monsun Timur Laut

Peta kawasan Asean dan Indonesia (commons.wikimedia.org/Map_of_the_Association_of_Southeast_Asian_Nations.svg: Mangwanani)

Monsun Asia dapat dibagi menjadi dua sistem, yaitu Monsun Asia Timur dan Monsun Asia Selatan. Dilansir laman Intergovernmental  Panel on Climate Change (IPCC), berdasarkan indeks monsun musim panas yang diturunkan dari gradien tekanan permukaan laut rata-rata antara daratan dan lautan di wilayah Asia Timur menemukan adanya penurunan sistematis Monsun Musim Panas Asia Timur selama periode 1951 hingga 2000. Pelemahan Monsun Asia Timur sejak pertengahan abad ke-20 berkontribusi pada penurunan curah hujan daratan di sebagian Asia Tenggara, meskipun pengaruhnya bervariasi antarwilayah dan waktu.

Monsun Timur Laut, yang umumnya membawa massa udara lembap dari daratan Asia menuju Asia Tenggara pada musim dingin boreal, sangat dipengaruhi oleh dinamika skala besar serta perubahan sirkulasi atmosfer. Ketika terjadi pergeseran atau pelemahan sistem monsun, intensitas hujan di wilayah ASEAN dapat menurun, meningkatkan risiko kekeringan musiman, atau sebaliknya memicu hujan ekstrem di wilayah tertentu. Menurut The Guardian, monsun menjadi sumber utama hujan yang menopang pertanian dan kehidupan manusia. Namun, ketika intensitasnya meningkat atau berlangsung terlalu lama, monsun juga dapat berubah menjadi bencana berupa banjir dan kerusakan lingkungan.

2. Posisi Matahari dan ITCZ yang menguat

ilustrasi posisi matahari (commons.wikimedia.org/Tauʻolunga)

Dilansir laman The Guardian, monsun terkadang digambarkan seperti angin laut, di mana arah angin berubah pada pagi dan sore hari seiring perubahan suhu relative antara daratan dan laut. Pada awalnya angin bertiup ke arah laut, lalu berbalik arah ke daratan saat daratan mendingin. Namun para ahli meteorologi lebih memilih pergerakan musiman Zona Konvergensi Intertropis (Intertropical Convergence Zone or ITCZ).

ITCZ merupakan wilayah tempat angin dari belahan bumi utara dan selatan bertemu. Para pelaut dahulu mengenal ITCZ sebagai doldrums atau wilayah tanpa angin. Sejumlah besar air menguap dari samudra tropis yang hangat. Angin monsun musiman membawa udara hangat dan lembap ini ke daratan, di mana udara tersebut naik dan mengembun membentuk awan badai kumolonimbus yang menjulang tinggi dan menurunkan hujan lebat. Ketika ITCZ tetap berada di satu lokasi, suatu wilayah dapat mengalami badai hujan yang intens.

3. Suhu permukaan laut yang masih hangat

ilustrasi suhu permukaan laut (commons.wikimedia.org/NASA image by Jesse Allen, using AMSR-E data processed and provided by Chelle Gentemann and Frank Wentz, Remote Sensing Systems.)

Suhu permukaan laut atau Sea Surface Temperature, khususnya di Samudra Hindia dan wilayah barat Pasifik, berdampak signifikan terhadap pola curah hujan di Asia bagian akhir musim panas. SST yang lebih hangat cenderung mengubah sirkulasi atmosfer, memperkuat tekanan tinggi subtropics di Pasifik Barat Laut, dan memicu perubahan angin yang memengaruhi distribusi uap air di atmosfer. Akibatnya, sejumlah model iklim global mensimulasikan penurunan curah hujan di wilayah Laut Filipina dan Asia Timur ketika oleh tren kenaikan SST ini, meskipun respons tersebut bervariasi secara spasial.

Dilansir laman Jurnal Advancing Earth and Space Sciences, perubahan suhu permukaan laut memiliki peran penting dalam memengaruhi curah hujan monsun di Asia, terutama di akhir musim panas. Kenaikan SST global yang dipicu oleh pemanasan iklim dapat menjelaskan sebagian perubahan tren curah hujan historis di kawasan Asia, termasuk kemungkinan pengurangan hujan di beberapa wilayah monsun Asia Timur dan Asia Selatan. Interaksi antara SST, sirkulasi atmosfer, dan hujan menjadi komponen utama dalam memahami respons iklim regional terhadap perubahan iklim global.

4. Peran fenomena global La Nina

ilustrasi La Nina (commons.wikimedia.org/NOAA Climate.gov)

La Nina memiliki pengaruh besar terhadap pola curah hujan global, khususnya di kawasan Pasifik Barat seperti Indonesia dan Asia Tenggara. Peningkatan suhu permukaan laut di wilayah barat Pasifik mendorong terbentuknya hujan lebat yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor. Oleh karena itu, pemahaman terhadap fenomena ini sangat penting untuk mitigasi risiko dan perencanaan kebencanaan di negara-negara tropis.

Selain itu, interaksi antara La Nina dan fenomena atmosfer lain seperti Madden-Julian Oscillation berdasarkan catatan dari National Aeronautics and Space Administration, interaksi antara La Nina dan fenomena atmosfer lain menunjukkan bahwa cuaca ekstrem tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor tunggal. Kombinasi keduanya dapat memperkuat atau justru melemahkan dampak curah hujan di suatu wilayah. Pemantauan berbasis satelit seperti TRMM menjadi alat penting untuk memahami dinamika iklim ini secara lebih akurat dan mendukung sistem peringatan dini terhadap cuaca ekstrem di masa depan.

Januari menjadi periode ketika hujan mencapai puncaknya di Indonesia. Curah hujan yang tinggi bukan hanya membentuk karakter iklim kawasan tropis, tetapi juga membawa dampak nyata bagi kehidupan sehari-hari, mulai dari pertanian hingga potensi bencana hidrometeorologi. Memahami alasan ilmiah di balik “bulan paling basah” ini penting agar masyarakat dan pemerintah dapat lebih siap menghadapi risiko, sekaligus memanfaatkan musim hujan secara lebih bijak dan berkelanjutan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team