Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Jenis Burung Charadriidae Terlangka, Salah Satunya Asli Indonesia!
ilustrasi sociable lapwing (wikimedia.org/The Great Mule of Eupatoria)
  • Keluarga burung Charadriidae mencakup berbagai jenis cerek dan trulek yang tersebar hampir di seluruh dunia, tapi beberapa spesiesnya kini berstatus terancam punah menurut IUCN.

  • Lima spesies paling langka meliputi cerek madagaskar, cerek pesisir, cerek selandia baru, sociable lapwing, dan javan lapwing yang merupakan burung endemik Indonesia.

  • Penurunan populasi burung Charadriidae disebabkan oleh perburuan, predator invasif seperti kucing liar dan tikus, serta rusaknya habitat pesisir dan lahan basah akibat alih fungsi lahan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Charadriidae merupakan salah satu keluarga burung terbesar yang terdiri dari berbagai jenis cerek dan trulek. Paruh yang lebih pendek dari kepala dan warna bulu yang tidak terlalu mencolok adalah beberapa ciri khas dari burung-burung Charadriidae.

Kecuali Antartika, cerek dan trulek juga dikenal sebagai jenis burung yang hampir dapat ditemukan di seluruh tempat. Meski begitu, di antara 66 spesies burung Charadriidae, beberapa diantaranya berstatus terancam punah menurut IUCN. Mari kita lihat jenis-jenis burung cerek dan trulek dengan populasi paling langka.

1. Cerek madagaskar

ilustrasi cerek madagaskar (wikimedia.org/Charles J. Sharp)

Cerek madagaskar (Charadrius thoracicus) merupakan salah satu burung penghuni padang rumput, rawa asin, juga laguna yang ada di bagian barat Pulau Madagaskar. Sebagai satu-satunya spesies cerek endemik Madagaskar, burung ini dapat dikenali dari keberadaan bulu hitam yang melingkari lehernya.

Cerek madagaskar memiliki kebiasaan membangun sarangnya di tempat-tempat dengan vegetasi yang tidak terlalu rapat. Secara spesifik, sarang cerek madagaskar paling banyak ditemukan di kawasan tepian danau alkalin. Baik cerek madagaskar jantan maupum betina sama-sama berbagi tanggung jawab dalam hal membangun dan menjaga sarangnya.

Menurut data dari IUCN, saat ini diperkirakan terdapat 1800-2300 individu dewasa burung cerek di habitat aslinya. Selain alih fungsi lahan basah menjadi area tambak udang, burung cerek sudah lama mengalami kegagalan pertumbuhan populasi akibat keberadaan predator. Predator mamalia seperti kucing liar, anjing luar, juga musang adalah ancaman bagi keberlangsungan populasi burung cerek karena kerap memakan telur-telurnya.

2. Cerek pesisir

ilustrasi cerek pesisir (wikimedia.org/Shaun Lee)

Cerek pesisir (Thinornis novaeseelandiae) adalah spesies burung cerek berukuran kecil dan menjadi salah satu hewan endemik Selandia Baru. Ciri khas cerek pesisir terletak pada bulu berwarna hitam di bagian mukanya serta garis putih melingkar tepat di atas matanya.

Area berbatu pesisir merupakan habitat utama dari cerek pesisir. Di sinilah mereka membangun sarang serta mencari makanannya yang berupa ikan kecil dan serangga kawasan pasang surut.

Meski semula hidup di seluruh pesisir daratan utama Selandia Baru, cerek pesisir kini hanya dapat ditemukan di Kepulauan Chatham dengan jumlah populasi sekitar 170 individu. Berkurangnya populasi cerek pesisir secara drastis di masa lalu berkaitan dengan keberadaan spesies invasif seperti kucing liar, tikus, juga burung laut skua sebagai predator.

3. Cerek selandia baru

ilustrasi cerek selandia baru (wikimedia.org/Karthicss)

Selain cerek pesisir, Selandia Baru juga punya spesies cerek endemik lainnya yaitu cerek selandia baru. Cerek selandia baru (Charadrius obscurus) merupakan spesies cerek terbesar dari genus Charadrius.

Terdapat dua subspesies dari cerek selandia baru yaitu cerek selandia baru utara yang hidup di Pulau Utara dan selandia baru selatan yang menghuni Pulau Stewart. Kedua jenis subspesies cerek selandia baru memiliki perbedaan baik dari sisi ukuran tubuh, warna bulu, hingga kebiasaan kawin.

Di antara kedua subspesies tersebut, cerek selandia baru selatan menjadi populasi yang paling terancam punah. Keberadaan kucing liar, tikus, hingga musang telah membuat terjadinya penurunan populasi cerek selandia baru selatan pada tahun 1950an. Saat ini diperkirakan hanya terdapat 80 individu cerek selandia baru selatan di Pulau Stewart.

4. Sociable lapwing

ilustrasi sociable lapwing (wikimedia.org/andrewbazdyrev)

Berbeda dengan ketiga spesies sebelumnya yang masuk dalam subfamili Charadriinae, sociable lapwing (Vanellus gregarius) merupakan salah satu spesies dari subfamili Vanellinae atau kelompok burung trulek. Burung ini memiliki kaki panjang serta paruh pendek dengan warna hitam juga kombinasi sayap berwarna abu-abu, coklat dan putih.

Sociable lapwing adalah burung migrasi yang akan membangun sarangnya di padang rumput di kawasan Rusia dan Kazakhstan. Ketika musim migrasi tiba, sociable lapwing akan terbang ke arah selatan menuju Turki, Irak, Saudi Arabia, hingga India.

Sociable lapwing merupakan salah satu contoh spesies burung migran yang populasinya semakin langka. Maraknya perburuan di jalur migrasi serta berkurangnya habitat padang rumput kerap disebut sebagai faktor utama penurunan signifikan populasi sociable lapwing.

5. Javan lapwing

ilustrasi spesimen javan lapwing (wikimedia.org/Naturalis Biodiversity Center)

Javan lapwing (Vanellus macropterus) atau trulek jawa merupakan salah satu burung asli Indonesia. Burung perandai berukuran besar ini memiliki kepala berwarna hitam, tubuh tertutupi bulu coklat, serta warna kuning di bagian kakinya.

Area padang rumput dan rawa di sekitar muara sungai adalah habitat asli javan lapwing. Biasanya, javan lapwing ditemukan hidup berkelompok dalam koloni yang kecil dan tidak memiliki kebiasaan bermigrasi.

Karena minimnya populasi javan lapwing yang masih terdeteksi, IUCN mengkategorikan spesies ini sebagai critically endangered dan possibly extinct. Kelangkaan populasi javan lapwing disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor seperti perburuan, serta alih fungsi kawasan muara sungai untuk aktivitas pertanian dan akuakultur.

Secara keseluruhan, burung dari famili Charadriidae memiliki karakteristik habitat yang sangat spesifik yaitu kawasan pesisir dan lahan basah. Ketika habitatnya sudah rusak atau bahkan beralih fungsi, burung cerek dan trulek akan mengalami kesulitan untuk bertahan hidup dan juga bereproduksi. Selain itu, keberadaan spesies invasif yang memakan telur-telurnya juga turut mempersulit pertumbuhan populasinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team