Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Karhutla Bisa Mengubah Suara Orang Utan, Ini Penjelasannya
ilustrasi orang utan (pexels.com/Nathan J Hilton)
  • Studi iScience 2023 pada empat orang utan jantan dewasa di Kalimantan menemukan paparan asap karhutla membuat mereka lebih jarang mengeluarkan panggilan panjang.

  • Selama terpapar asap, panggilan panjang orang utan terdengar lebih rendah, kasar, dan mengalami perubahan getaran, yang diduga terkait respons tubuh terhadap polutan.

  • Perubahan karakteristik suara masih teramati hingga dua bulan setelah kabut asap reda; dampak jangka panjang serta pengaruhnya terhadap komunikasi belum dipastikan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menghancurkan habitat satwa, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan dan perilaku mereka. Salah satu dampak yang ditemukan peneliti adalah perubahan suara orang utan saat terpapar asap kebakaran. Suara merupakan bagian penting dari komunikasi orang utan, termasuk untuk menyampaikan informasi kepada individu lain.

Ketika asap menyelimuti habitatnya, orang utan dapat mengalami perubahan frekuensi dan karakteristik suara yang dikeluarkan. Temuan ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak selalu terlihat secara langsung dari kondisi fisik satwa. Lantas, bagaimana asap karhutla bisa mengubah suara orang utan? Simak penjelasan lengkapnya berikut!

1. Asap karhutla membuat orang utan lebih jarang bersuara

ilustrasi orang utan (pexels.com/Klub Boks)

Asap karhutla ternyata dapat memengaruhi frekuensi orang utan mengeluarkan suara. Berdasarkan studi yang terbit dalam jurnal iScience pada 2023, peneliti mengamati empat orang utan jantan dewasa di hutan rawa gambut Kalimantan selama kebakaran hutan pada 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang utan lebih jarang mengeluarkan panggilan panjang ketika terpapar asap kebakaran.

Panggilan panjang merupakan suara keras yang biasanya dikeluarkan orang utan jantan dewasa dan dapat terdengar hingga jarak jauh di dalam hutan. Suara ini berperan dalam komunikasi, termasuk membantu orang utan menyampaikan keberadaan mereka kepada individu lain. Peneliti menduga perubahan tersebut berkaitan dengan respons tubuh terhadap paparan asap yang memengaruhi kondisi fisiologis orang utan.

Temuan ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya terlihat dari kerusakan habitat, tetapi juga dapat memengaruhi perilaku vokal satwa. Namun, penelitian tersebut melibatkan empat individu, sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi untuk semua orang utan.

2. Kualitas suara orang utan berubah saat terpapar asap

ilustrasi orang utan (pexels.com/Brett Jordan)

Selain membuat orang utan lebih jarang bersuara, asap karhutla juga dapat mengubah karakteristik suara yang mereka keluarkan. Studi yang sama menemukan bahwa panggilan panjang orang utan jantan terdengar lebih rendah dan kasar selama periode paparan asap. Peneliti juga mencatat perubahan pada getaran suara yang membuat panggilan terdengar berbeda dari biasanya.

Perubahan tersebut diduga berkaitan dengan respons tubuh terhadap paparan polutan dalam asap kebakaran. Menariknya, beberapa perubahan karakteristik suara tersebut masih teramati hingga dua bulan setelah kabut asap mereda. Temuan ini menunjukkan bahwa dampak asap karhutla terhadap orang utan dapat berlangsung lebih lama daripada periode kebakarannya.

3. Dampak perubahan suara bisa bertahan setelah asap mereda

ilustrasi orang utan (pexels.com/Wesley Klijnstra)

Perubahan suara orang utan yang masih teramati setelah asap mereda menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak selalu berakhir ketika kualitas udara membaik. Mengutip dari Cornell Chronicle yang merujuk pada studi yang sama (iScience, 2023), peneliti menjelaskan bahwa perubahan karakteristik suara tersebut masih terlihat hingga dua bulan setelah paparan asap berakhir. Temuan ini mengindikasikan bahwa efek paparan asap terhadap kondisi fisiologis orang utan berpotensi berlangsung lebih lama daripada periode kebakaran.

Meski begitu, penelitian tersebut belum memastikan kapan suara orang utan akan kembali seperti semula. Peneliti juga belum mengetahui secara pasti apakah perubahan suara ini mengganggu komunikasi orang utan dengan individu lain. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami dampak jangka panjang asap karhutla terhadap kesehatan dan perilaku orang utan.

Karhutla tidak hanya mengancam habitat orang utan, tetapi juga dapat memengaruhi frekuensi dan karakteristik suara mereka. Temuan ini menjadi pengingat bahwa dampak asap terhadap satwa dapat bertahan bahkan setelah kebakaran mereda, meskipun efek jangka panjangnya masih perlu diteliti lebih lanjut. Menurutmu, upaya apa yang perlu dilakukan untuk melindungi orang utan dari dampak asap karhutla?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article