Ke Mana Kucing Liar Berlindung saat Karhutla Terjadi?

Saat karhutla, kucing liar cenderung mencari tempat tertutup seperti kolong bangunan, bawah mobil, lubang tanah, atau semak lebat untuk meredakan ancaman dan stres.
Tempat persembunyian di luar tidak menjamin perlindungan dari panas maupun asap, yang dapat memicu iritasi mata, batuk, serta kesulitan bernapas pada kucing liar.
Kebakaran dapat menghilangkan habitat, lokasi berlindung, dan sumber makanan kucing liar; studi di Pulau Kangaroo mencatat penurunan kucing terdeteksi setelah kebakaran hebat.
Kucing liar tidak seperti kucing peliharaan yang bisa berlindung dengan aman di dalam rumah saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi. Mereka harus mencari tempat berlindung sendiri ketika api dan asap mulai mengancam lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini membuat beberapa orang penasaran, ke mana kucing liar pergi saat karhutla terjadi?
Apakah mereka bersembunyi di kolong bangunan, menyelinap ke semak-semak, atau mencari tempat lain yang dianggap aman? Sayangnya, tempat persembunyian tersebut belum tentu melindungi mereka dari paparan asap dan bahaya kebakaran. Oleh sebab itu, yuk, cari tahu ke mana kucing liar berlindung dan risiko apa saja yang bisa mereka hadapi saat karhutla di bawah ini!
1. Kucing liar cenderung mencari tempat tertutup untuk berlindung

ilustrasi kucing (pixabay.com/CharlesLeslieJr) Kucing liar yang menghadapi ancaman di lingkungannya dapat mencari tempat tersembunyi untuk berlindung. Berdasarkan studi yang terbit dalam jurnal PLOS ONE pada 2019, kucing yang diberi kotak persembunyian di tempat penampungan menunjukkan penurunan tanda-tanda stres perilaku lebih cepat dibandingkan kucing yang tidak mendapatkannya. Temuan ini menunjukkan bahwa tempat persembunyian dapat membantu kucing menghadapi situasi yang membuatnya stres.
Saat karhutla terjadi, kucing liar mungkin mencari tempat yang dianggap aman, seperti kolong bangunan, bawah mobil, lubang tanah, atau semak-semak yang lebat. Namun, tempat-tempat tersebut belum tentu melindungi mereka dari panas dan asap kebakaran. Karena itu, keberadaan tempat persembunyian tidak selalu menjamin kucing liar terhindar dari bahaya karhutla.
2. Bersembunyi belum tentu melindungi kucing dari asap karhutla

ilustrasi kucing (unsplash.com/engin ekyurt) Bersembunyi di kolong bangunan, bawah mobil, lubang tanah, atau semak-semak tidak menjamin kucing liar terhindar dari asap karhutla. Mengutip dari U.S. Environmental Protection Agency (EPA), asap kebakaran dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan hewan peliharaan, bahkan ketika mereka berada di dalam rumah. EPA menyarankan pemilik untuk menjaga hewan tetap di dalam ruangan, menutup pintu dan jendela, serta mengurangi paparan asap sebisa mungkin.
Hal ini menunjukkan bahwa kucing peliharaan yang berada di rumah saja masih berisiko terpapar asap jika partikel dari luar masuk ke dalam ruangan. Risiko serupa juga perlu diperhatikan pada kucing liar yang berlindung di luar karena tempat persembunyiannya belum tentu mampu menghalau asap. Paparan asap dapat menyebabkan batuk, iritasi mata, hingga kesulitan bernapas, sehingga kucing liar juga membutuhkan perlindungan dari dampak karhutla.
3. Kucing liar bisa kesulitan mencari tempat aman saat habitatnya terbakar

ilustrasi kucing (pixabay.com/Nennieinszweidrei) Ketika karhutla meluas, kucing liar dapat kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan yang biasa ditemukannya. Berdasarkan studi yang terbit dalam jurnal Austral Ecology pada 2023, kebakaran hebat di Pulau Kangaroo, Australia, diikuti penurunan jumlah kucing liar yang terdeteksi di area terbakar, yang kemungkinan berkaitan dengan kematian langsung maupun kelangkaan mangsa setelah kebakaran. Hilangnya tutupan vegetasi akibat kebakaran juga dapat mengurangi tempat persembunyian dan mengubah kondisi habitat yang dibutuhkan hewan untuk bertahan hidup.
Penelitian yang terbit dalam jurnal Scientific Reports pada 2018 menemukan bahwa paparan asap kebakaran hutan di Kalimantan Tengah berkaitan dengan perubahan aktivitas dan keseimbangan energi orangutan Kalimantan, termasuk peningkatan waktu istirahat dan perubahan metabolisme setelah periode berasap. Meski penelitian tersebut tidak mengamati kucing liar, temuan ini menunjukkan bahwa asap karhutla dapat memengaruhi kondisi satwa. Selain itu, kebakaran juga berpotensi menghilangkan habitat dan tempat berlindung yang mereka butuhkan.
Karhutla bukan hanya menghanguskan pepohonan, tetapi juga dapat mengancam kehidupan kucing liar yang bergantung pada lingkungan sekitarnya. Kehilangan habitat, paparan asap, dan terbatasnya tempat berlindung membuat mereka menghadapi risiko yang tidak selalu terlihat selama kebakaran berlangsung. Karena itu, perlindungan satwa dan habitatnya perlu menjadi bagian dari upaya penanganan karhutla.
























