ilustrasi kucing (pixabay.com/Nennieinszweidrei)
Ketika karhutla meluas, kucing liar dapat kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan yang biasa ditemukannya. Berdasarkan studi yang terbit dalam jurnal Austral Ecology pada 2023, kebakaran hebat di Pulau Kangaroo, Australia, diikuti penurunan jumlah kucing liar yang terdeteksi di area terbakar, yang kemungkinan berkaitan dengan kematian langsung maupun kelangkaan mangsa setelah kebakaran. Hilangnya tutupan vegetasi akibat kebakaran juga dapat mengurangi tempat persembunyian dan mengubah kondisi habitat yang dibutuhkan hewan untuk bertahan hidup.
Penelitian yang terbit dalam jurnal Scientific Reports pada 2018 menemukan bahwa paparan asap kebakaran hutan di Kalimantan Tengah berkaitan dengan perubahan aktivitas dan keseimbangan energi orangutan Kalimantan, termasuk peningkatan waktu istirahat dan perubahan metabolisme setelah periode berasap. Meski penelitian tersebut tidak mengamati kucing liar, temuan ini menunjukkan bahwa asap karhutla dapat memengaruhi kondisi satwa. Selain itu, kebakaran juga berpotensi menghilangkan habitat dan tempat berlindung yang mereka butuhkan.
Karhutla bukan hanya menghanguskan pepohonan, tetapi juga dapat mengancam kehidupan kucing liar yang bergantung pada lingkungan sekitarnya. Kehilangan habitat, paparan asap, dan terbatasnya tempat berlindung membuat mereka menghadapi risiko yang tidak selalu terlihat selama kebakaran berlangsung. Karena itu, perlindungan satwa dan habitatnya perlu menjadi bagian dari upaya penanganan karhutla.