Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
3 Kejadian Kosmik yang Nyaris Menghancurkan Tata Surya di Masa Lalu
ilustrasi planet di tata surya. (unsplash.com/time)
  • Jupiter pernah bergerak mendekati Matahari sekitar 4,5 miliar tahun lalu, mengacaukan material pembentuk planet hingga hampir mengubah susunan tata surya sebelum akhirnya berbalik arah karena pengaruh Saturnus.
  • Antara 3,8–4,1 miliar tahun lalu, orbit planet raksasa belum stabil dan hampir memicu tabrakan besar yang bisa menghancurkan keseimbangan tata surya sebelum akhirnya sistem mencapai kestabilan.
  • Pada periode yang sama, Bumi mengalami hujan asteroid besar dengan energi dahsyat yang nyaris menghapus kehidupan awal dan membuat kondisi permukaan sangat ekstrem.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tata surya yang kita kenal saat ini terlihat stabil dan teratur dengan planet-planet yang bergerak pada orbitnya masing-masing. Namun, kondisi tersebut tidak terbentuk begitu saja. Pada masa awal pembentukannya, tata surya dipenuhi oleh dinamika yang kacau dan penuh tabrakan antar objek di luar angkasa.

Planet-planet raksasa bergerak, material beterbangan, dan keseimbangan belum sepenuhnya tercapai. Dalam proses ini, ada beberapa kejadian kosmik yang nyaris mengubah bahkan menghancurkan susunan tata surya seperti sekarang. Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa sistem yang kita tempati pernah berada di ambang ketidakstabilan.

Lalu, apa saja peristiwa yang hampir membuat tata surya musnah? Yuk, simak uraiannya berikut ini!

1. Jupiter bergerak mendekati Matahari dan mengacak tata surya (4,5 miliar tahun lalu)

ilustrasi planet Jupiter (pixabay.com/TBIT)

Jupiter dikenal sebagai planet raksasa yang kerap melindungi Bumi dari ancaman benda langit seperti asteroid. Namun, siapa sangka, planet terbesar di tata surya ini pernah nyaris menghancurkan dirinya sendiri pada sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu. Mengutip dari NASA, pada masa awal pembentukan tata surya, Jupiter tidak berada di posisinya seperti sekarang, melainkan sempat bergerak mendekati Matahari hingga mendekati wilayah orbit Mars.

Pergerakan ini dikenal sebagai Grand Tack Hypothesis, yang menjelaskan migrasi Jupiter ke arah dalam sebelum akhirnya berbalik arah. Fenomena tersebut terjadi karena interaksi antara Jupiter dengan gas dan material padat yang masih sangat melimpah di sekitar Matahari muda. Akibatnya, Jupiter mendorong dan mengganggu material pembentuk planet di bagian dalam tata surya.

Dampaknya cukup besar, bahkan diyakini memengaruhi ukuran Mars yang menjadi lebih kecil dibandingkan Bumi dan Venus. Untungnya, pergerakan Jupiter ini kemudian dihentikan oleh pengaruh gravitasi Saturnus yang terbentuk tidak lama setelahnya. Interaksi antara kedua planet raksasa tersebut membuat Jupiter berbalik arah dan bergerak kembali menjauh dari Matahari.

2. Orbit planet tidak stabil dan hampir picu tabrakan besar (3,8—4,1 miliar tahun lalu)

ilustrasi asteroid atau komet yang ada di luar angkasa. (pixabay.com/TBIT)

Pada fase awal tata surya, yaitu sekitar 3,8—4,1 miliar tahun lalu, orbit planet belum sepenuhnya stabil seperti sekarang. Dilansir NASA, pada saat itu, perubahan posisi dan interaksi gravitasi antar planet raksasa dapat mengacaukan keseimbangan sistem secara keseluruhan. Ketidakstabilan ini membuat sabuk asteroid menjadi tidak teratur dan melemparkan banyak objek ke arah bagian dalam tata surya.

Akibatnya, planet-planet seperti Bumi, Mars, dan Venus berada dalam risiko tinggi mengalami tabrakan besar. Fenomena ini juga berkaitan dengan periode yang dikenal sebagai Late Heavy Bombardment, yaitu ketika intensitas tabrakan meningkat secara drastis. Hal tersebut menunjukkan bahwa tata surya pernah berada dalam kondisi yang jauh lebih kacau dibanding sekarang.

Jika ketidakstabilan ini berlangsung lebih lama atau lebih ekstrem, tabrakan besar antar planet bisa saja terjadi. Dampaknya tidak hanya menghancurkan satu planet, tetapi juga berpotensi mengubah susunan tata surya secara keseluruhan. Beruntungnya, seiring waktu, sistem tersebut perlahan mencapai kestabilan hingga menjadi tata surya yang kita kenal saat ini.

3. Hujan asteroid besar hampir menghapus kehidupan di Bumi (3,8—4,1 miliar tahun lalu)

ilustrasi asteroid yang berada di luar angkasa. (unsplash.com/Javier Miranda)

Pada fase awal pembentukan tata surya, Bumi mengalami periode hujan asteroid besar yang sangat intens. Mengutip dari Britannica, pada masa ini tumbukan benda langit terjadi jauh lebih sering dibanding sekarang. Energi yang dihasilkan dari tumbukan tersebut pun sangat besar, bahkan dapat menciptakan kawah raksasa dan melepaskan energi setara ledakan nuklir.

Dalam beberapa kasus, dampaknya cukup ekstrem hingga mampu melelehkan permukaan batuan dan memanaskan lingkungan secara drastis. Lebih jauh lagi, para ilmuwan menduga bahwa kehidupan awal di Bumi bisa saja muncul berkali-kali, tetapi kemudian terhapus kembali akibat tumbukan besar. Bahkan, lautan diperkirakan bisa mendidih akibat energi dari hantaman asteroid tersebut.

Jika periode ini berlangsung lebih lama atau lebih intens, kehidupan mungkin tidak pernah memiliki kesempatan untuk berkembang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Bumi pernah berada dalam lingkungan yang sangat ekstrem. Bahkan, pada masa itu, Bumi nyaris tidak memungkinkan adanya kehidupan sama sekali.

Peristiwa-peristiwa kosmik di atas menjadi bukti bahwa tata surya tidak terbentuk dalam kondisi yang tenang, melainkan melalui proses yang penuh dinamika dan hampir kacau. Pada miliaran tahun lalu, sistem ini berada di ambang perubahan besar yang bisa saja menghasilkan susunan yang sangat berbeda dari sekarang. Menurutmu, apakah tata surya benar-benar sudah stabil, atau masih menyimpan potensi perubahan di masa depan? 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team