3 Risiko Kesehatan yang Dialami Astronaut di Ruang Angkasa

- Astronaut menghadapi tantangan kesehatan serius di ruang angkasa akibat kondisi tanpa gravitasi dan paparan lingkungan ekstrem yang berbeda dari Bumi.
- Kehilangan kepadatan tulang, melemahnya otot, serta gangguan penglihatan akibat tekanan cairan di kepala menjadi risiko utama selama misi luar angkasa.
- Paparan radiasi tinggi dari Matahari dan sinar kosmik meningkatkan risiko kanker dan kerusakan jaringan, sehingga diperlukan perlindungan serta pemantauan ketat bagi astronaut.
Berbicara soal astronaut, banyak orang membayangkan petualangan seru menjelajah ruang angkasa. Profesi ini sering terlihat keren karena dipenuhi oleh teknologi canggih. Namun, di balik itu semua, ada tantangan besar yang diam-diam dihadapi oleh astronaut selama beraktivitas di ruang angkasa.
Seperti diketahui, lingkungan ruang angkasa sangat berbeda dari Bumi dan tidak selalu ramah bagi kesehatan. Kondisi tanpa gravitasi hingga paparan radiasi bisa memengaruhi tubuh dengan cara yang tidak biasa. Hal ini membuat astronaut harus menjalani berbagai latihan dan pemantauan kesehatan secara ketat.
Kira-kira, apa saja risiko kesehatan yang sebenarnya dialami astronaut di ruang angkasa? Simak penjelasan lebih lengkapnya di bawah ini!
1. Tulang dan otot melemah karena minim gravitasi

Berada di ruang angkasa kelihatannya memang seru karena bisa melayang bebas tanpa beban. Namun, kondisi ini justru membuat tubuh tidak bekerja seperti biasanya. Mengutip dari NASA, tanpa pengaruh gravitasi, tulang dapat kehilangan kepadatan hingga sekitar 1 persen per bulan.
Selain itu, otot juga melemah karena tidak digunakan untuk menopang tubuh. Hal ini terjadi karena tubuh tidak perlu melawan gravitasi seperti di Bumi. Apabila berlangsung lama, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko cedera saat astronaut kembali ke Bumi.
2. Gangguan penglihatan akibat tekanan di kepala

Di luar angkasa, cairan di dalam tubuh tidak tertarik ke bawah seperti di Bumi. Situasi ini membuat cairan cenderung berkumpul di bagian atas, yaitu kepala. Berdasarkan temuan NASA, kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan yang dikenal sebagai Spaceflight Associated Neuro-Ocular Syndrome (SANS).
Akibatnya, tekanan di sekitar mata dan otak bisa meningkat. Hal ini dapat mengubah bentuk mata dan memengaruhi kemampuan melihat. Dalam beberapa kasus, astronaut bahkan mengalami penglihatan kabur selama atau setelah misi.
Untuk mengatasinya, astronaut menjalani pemantauan kesehatan mata secara rutin selama misi. Mereka juga menggunakan alat dan teknik khusus untuk membantu mengatur distribusi cairan dalam tubuh. Selain itu, penelitian terus dilakukan untuk menemukan cara terbaik mencegah gangguan ini dalam jangka panjang.
3. Paparan radiasi lebih tinggi daripada di Bumi

Di Bumi, tubuh manusia terlindungi oleh atmosfer dan medan magnet dari paparan radiasi. Namun, perlindungan alami ini hampir tidak ada ketika berada di luar angkasa. Berdasarkan penjelasan NASA, astronaut terpapar radiasi yang jauh lebih tinggi karena lingkungan luar angkasa dipenuhi partikel berenergi besar.
Radiasi tersebut berasal dari Matahari serta sinar kosmik dari luar tata surya. Paparan ini dapat menembus tubuh dan memengaruhi sel-sel secara langsung. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut bisa meningkatkan risiko kanker, kerusakan jaringan, hingga gangguan pada sistem saraf.
Paparan radiasi menjadi salah satu pertimbangan utama dalam misi luar angkasa jangka panjang. Untuk menguranginya, pesawat dan stasiun luar angkasa dirancang dengan perlindungan khusus. Astronaut juga terus dipantau untuk memastikan paparan radiasi tetap dalam batas aman selama misi berlangsung.
Menjadi astronaut ternyata tidak seindah yang terlihat di layar kaca. Ada risiko kesehatan serius yang harus dihadapi di lingkungan ruanga angkasa yang ekstrem. Setelah mengetahui fakta ini, apakah kamu masih tertarik mengejar mimpi menjadi astronaut?


















