Jangkrik (pexels.com/Petr)
Serangga memiliki sistem peredaran darah terbuka yang berbeda baik dalam struktur maupun fungsi dari sistem peredaran darah tertutup yang ditemukan pada manusia dan vertebrata lainnya. Sistem peredaran tertutup, darah selalu terkandung di dalam pembuluh, yakni arteri, vena, kapiler, atau kantung. Sementara itu, pada sistem terbuka darah atau disebut hemolimfa menghabiskan sebagian besar waktunya mengalir bebas di dalam rongga tubuh di mana ia melakukan kontak langsung dengan semua jaringan dan organ internal.
Sistem peredaran darah pada serangga bertanggung jawab atas pergerakan nutrisi, garam, hormon, dan limbah metabolisme ke seluruh tubuhnya. Selain itu, sistem ini memainkan peran penting dalam pertahanan, seperti halnya dalam menutup luka melalui reaksi pembekuan, membungkus, dan menghancurkan parasit internal atau penyerang lainnya, dan pada beberapa spesies mampu menghasilkan atau menyimpan senyawa yang tidak enak, yang mana secara tidak langsung memberikan perlindungan terhadap predator.
Adanya sifat hidrolik (cair) darah juga penting. Tekanan hidrostatik yang dihasilkan secara internal oleh kontraksi otot digunakan untuk memfasilitasi penetesan, pergantian kulit, perluasan tubuh dan sayap setelah pergantian kulit, gerakan fisik, reproduksi, dan evaginasi jenis kelenjar eksokrin tertentu. Pada beberapa serangga, darah membantu termogulasi, dapat membantu mendinginkan tubuh dengan menghantarkan panas berlebih dari otot terbang yang aktif atau dapat menghangatkan tubuh dengan mengumpulkan dan mengedarkan panas yang diserap saat berjemur di bawah sinar matahari.
Pembuluh dorsal merupakan komponen struktural utama dari sistem peredaran darah serangga. Tabung ini berbentuk membentang memanjang melalui toraks dan abdomen, di sepanjang bagian dalam dinding tubuh dorsal. Pada sebagian besar serangga, ini adalah struktur membran yang rapuh yang mengumpulkan hemolimfa di abdomen dan mengalirkannya ke depan menuju kepala.