Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Hilal Kadang Kelihatan Kadang Tidak
ilustrasi hilal yang menandakan dimulainya bulan Ramadan dalam kalender Islam (commons.wikimedia.org/Roi.dagobert)

Intinya sih...

  • Hilal tidak sama dengan bulan sabit biasa, karena fase paling awal setelah konjungsi dan cahaya yang dipantulkan masih sangat sedikit.

  • Waktu pengamatannya sangat terbatas, hanya bisa diamati dalam waktu singkat setelah matahari terbenam sekitar 20—40 menit.

  • Kondisi atmosfer sangat berpengaruh, gangguan kecil di atmosfer seperti awan tipis, kabut, polusi, kelembapan tinggi, dan turbulensi udara dapat membuat hilal tidak terlihat.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjelang Ramadan, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama rutin menggelar pemantauan hilal di puluhan titik strategis untuk penentuan awal puasa. Proses ini merupakan perpaduan antara perhitungan astronomi (hisab) yang akurat serta observasi lapangan (rukyat) yang sah secara syariat.

Namun, dalam pelaksanaannya, tim di lapangan seringkali menghadapi tantangan yang membuat objek langit ini sulit ditemukan. Muncul pertanyaan di masyarakat mengenai fenomena ini, sebenarnya kenapa hilal kadang kelihatan kadang tidak? Yuk, simak penjelasan lengkap dari BMKG berikut!

Kenapa hilal kadang kelihatan kadang tidak?

Berdasarkan penjelasan dari BMKG, ada beberapa faktor ilmiah yang membuat hilal tidak selalu bisa teramati. Sebut saja karakter fisiknya yang sangat tipis, durasi kemunculannya singkat, hingga kondisi atmosfer. Supaya lebih jelas, kita bahas satu per satu di sini!

1. Hilal tidak sama dengan bulan sabit biasa

Tidak semua bulan sabit yang terlihat di langit bisa disebut hilal. Hilal adalah fase paling awal setelah konjungsi (ijtimak), ketika bulan baru saja keluar dari posisi segaris dengan matahari dan bumi. Pada fase ini, cahaya yang dipantulkan masih sangat sedikit sehingga bentuknya sangat tipis dan redup.

Posisinya juga masih sangat dekat dengan matahari saat terbenam hingga membuat kontrasnya dengan cahaya senja sangat rendah. Jika melihat bulan sabit yang sudah tinggi dan bersinar terang malam hari, itu bukanlah hilal, melainkan fase sabit muda yang sudah berusia beberapa hari.

2. Waktu pengamatannya sangat terbatas

ilustrasi bulan sabit (pexels.com/Philippe Donn)

Hilal hanya bisa diamati dalam waktu singkat setelah matahari terbenam. Umumnya, pengamat hanya memiliki sekitar 20—40 menit sebelum bulan ikut tenggelam di bawah ufuk.

Mengingat durasinya pendek, tim rukyat harus menyiapkan teleskop dan melakukan kalibrasi jauh sebelum magrib. Jika terlambat beberapa menit saja, peluang melihat hilal bisa hilang karena bulan sudah lebih dulu terbenam.

3. Kondisi atmosfer sangat berpengaruh

Banyak orang berpikir selama langit terlihat cerah, hilal pasti bisa dilihat. Padahal, menurut data observasi BMKG, kondisi atmosfer menjadi faktor penentu terbesar keberhasilan rukyat.

Hilal yang sangat tipis dan redup mudah “kalah” oleh gangguan kecil di atmosfer. Awan tipis saja bisa menutupinya. Kabut dan polusi menurunkan kontras antara hilal dan latar langit. Kelembapan tinggi mengurangi kejernihan, sementara turbulensi udara membuat citra tampak goyah.

Karena itu, sebelum pengamatan dilakukan, prakiraan cuaca, tutupan awan, dan visibilitas horizontal selalu dianalisis terlebih dahulu. Walaupun secara perhitungan astronomi memungkinkan, cuaca yang kurang mendukung tetap bisa membuat hilal tidak terlihat.

4. Ada batas kriteria visibilitas ilmiah

Hilal tidak dinyatakan mungkin terlihat hanya berdasarkan perkiraan mata. Ada parameter ilmiah yang digunakan untuk menilai kemungkinan visibilitasnya. Beberapa parameter utama meliputi tinggi hilal di atas ufuk, sudut elongasi (jarak sudut antara bulan dan matahari), serta umur bulan sejak ijtimak. Jika nilai-nilai ini belum mencapai ambang batas tertentu, maka secara teori hilal memang belum mungkin teramati, walaupun langit dalam kondisi cerah.

Indonesia mengikuti kriteria visibilitas regional yang disepakati negara-negara anggota MABIMS. Kriteria ini menjadi standar ilmiah bersama dalam menentukan kemungkinan terlihatnya hilal. Jadi, ketika hilal dinyatakan belum terlihat, itu bukan karena kelalaian, melainkan secara ilmiah memang belum memenuhi syarat observasi.

5. Pengamatan didukung teknologi canggih

Rukyat masa kini tidak lagi hanya mengandalkan mata telanjang. Banyak titik pengamatan sudah menggunakan teleskop berdiameter besar dan kamera digital yang sensitif terhadap cahaya rendah. Selain itu, ada sistem perekaman citra beruntun, bahkan beberapa lokasi dilengkapi fasilitas streaming dan verifikasi pusat. Jika ada indikasi hilal tertangkap kamera, pengamat harus mengirimkan beberapa citra untuk diverifikasi.

Data teknis alat yang digunakan juga dilampirkan sebagai bagian dari proses validasi. Jika hasilnya memenuhi syarat, barulah kesaksian tersebut disahkan secara resmi. Artinya, prosesnya tidak sembarangan dan tetap berbasis data.

Itulah berbagai alasan ilmiah kenapa hilal kadang kelihatan kadang tidak saat pemantauan dilakukan. Dari faktor atmosfer hingga kriteria tinggi ufuk, semuanya harus terpenuhi agar si sabit tipis bisa teramati. Semoga penjelasan BMKG ini menambah wawasan baru buatmu, ya.

FAQ seputar kenapa hilal kadang kelihatan kadang tidak

Kenapa hilal kadang kelihatan kadang tidak meski sudah masuk bulan baru?

Karena hilal adalah fase bulan yang sangat tipis dan redup setelah konjungsi. Secara astronomi bulan sudah masuk fase baru, tetapi secara visibilitas belum tentu cukup tinggi atau terang untuk terlihat.

Apakah kalau langit cerah hilal pasti terlihat?

Tidak selalu. Meskipun langit tampak cerah, faktor seperti kelembapan, polusi, dan turbulensi udara tetap bisa mengurangi kontras hilal sehingga sulit diamati.

Apakah pengamatan hilal hanya dengan mata telanjang?

Tidak. Saat ini rukyat juga menggunakan teleskop dan kamera sensitif cahaya rendah untuk membantu mendeteksi hilal, lalu hasilnya diverifikasi sebelum disahkan.

Editorial Team