Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa NASA Memilih Samudra Pasifik untuk Splash Down?
Pesawat Orion Artemis II mendarat di Samudra Pasifik di bawah parasut, 10 April 2026. (NASA/Bill Ingalls)

  • NASA memilih Samudra Pasifik untuk splashdown karena wilayahnya luas, aman, dan fleksibel terhadap perubahan cuaca saat kapsul kembali dari luar angkasa.
  • Splashdown adalah metode pendaratan kapsul di laut dengan bantuan parasut untuk memperlambat kecepatan setelah reentry yang menghasilkan panas ekstrem.
  • Pendaratan di air dipilih karena lebih aman bagi astronot, mengurangi risiko kerusakan kapsul, serta membuat desain pesawat ruang angkasa lebih sederhana dan efisien.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mendarat di permukaan air atau splashdown sudah jadi metode ikonik yang digunakan oleh NASA untuk memulangkan astronaut. Hal itu sudah dimulai sejak era Mercury hingga misi terakhir Artemis II. Teknik ini memanfaatkan parasut dan permukaan laut sebagai bagian dari proses pendaratan kapsul setelah kembali dari luar angkasa.

Sebenarnya kenapa NASA memilih Samudra Pasifik untuk splash down? Hal ini berkaitan dengan faktor keamanan, luas wilayah, hingga fleksibilitas saat proses kembali ke Bumi. Supaya lebih paham, yuk, simak penjelasan lengkapnya!

1. Kenapa NASA memilih Samudra Pasifik untuk splash down?

Pada awalnya, wilayah Samudra Atlantik dipilih karena mendukung peluncuran roket dari Amerika Serikat ke arah timur sehingga bisa memanfaatkan rotasi Bumi untuk efisiensi bahan bakar. Selain itu, Atlantik juga penting sebagai zona pemulihan darurat jika terjadi abort saat peluncuran. Namun, untuk misi yang kembali dari orbit Bumi, kapsul masih punya fleksibilitas untuk menyesuaikan waktu reentry (masuk kembali ke atmosfer) sehingga lokasi splashdown bisa diubah sesuai kondisi cuaca.

Berbeda dengan misi dari Bulan seperti dalam program Apollo program milik NASA, kapsul langsung melakukan reentry tanpa mengorbit Bumi terlebih dahulu. Hal ini membuat fleksibilitas perubahan lokasi pendaratan jadi sangat terbatas sejak meninggalkan orbit Bulan.

Mengingat perjalanan dari Bulan ke Bumi memakan waktu beberapa hari dan cuaca bisa berubah, Samudra Pasifik dipilih sebagai lokasi utama karena wilayahnya jauh lebih luas. Dengan area target besar, jalur masuk kapsul masih bisa disesuaikan dalam batas tertentu agar tetap mendarat pada zona aman sehingga meningkatkan margin keselamatan misi.

2. Apa itu splash down?

Artemis II berhasil mendarat di air (dok. NASA)

Splashdown adalah proses pendaratan pesawat ruang angkasa dengan bantuan parasut di permukaan air, biasanya di lautan. Bagian yang melakukan pendaratan ini adalah kapsul, ujung roket yang membawa astronot dan menjadi satu-satunya bagian yang kembali ke Bumi.

Saat kembali dari luar angkasa, kapsul melaju dengan kecepatan sangat tinggi dan memiliki energi kinetik besar. Untuk memperlambatnya, kapsul memanfaatkan gesekan dengan atmosfer Bumi yang menghasilkan gaya hambat. sekaligus mengubah energi tersebut menjadi panas sangat tinggi.

Suhu saat reentry bisa mencapai sekitar 1.500 derajat Celsius hingga lebih, membuat kapsul dikelilingi aliran udara super panas. Meski begitu, gesekan udara saja tidak cukup untuk memperlambat kapsul hingga kecepatan aman. Karena itu, digunakan parasut berukuran besar untuk mengurangi kecepatan secara signifikan sebelum menyentuh permukaan. Metode ini sudah lama digunakan oleh NASA sejak era Mercury program, Gemini program, hingga Apollo program.

3. Kenapa splashdown dipilih untuk pendaratan?

Salah satu alasan utama splashdown digunakan adalah karena faktor keamanan saat pendaratan. Air berperan sebagai peredam alami yang mampu menyerap benturan ketika kapsul menyentuh permukaan. Dibandingkan pendaratan di darat (touchdown), laut memberikan efek bantalan yang lebih aman bagi astronot. Ini penting karena meskipun kapsul sudah diperlambat dengan parasut, kecepatannya masih cukup tinggi saat mendarat. Dengan jatuh ke air, risiko cedera pada kru dan kerusakan pada kapsul bisa ditekan.

Di sisi lain, metode ini juga membuat desain pesawat ruang angkasa jadi lebih sederhana dan efisien. Kapsul tidak perlu dilengkapi roda atau sistem pendaratan yang kompleks seperti pada wahana yang mendarat di darat. Hal ini membantu mengurangi bobot sekaligus meminimalkan potensi kerusakan saat reentry.

Dari penjelasan di atas, bisa dipahami bahwa alasan kenapa NASA memilih Samudra Pasifik untuk splash down dipengaruhi oleh banyak faktor penting, mulai dari kondisi cuaca hingga luas area pendaratan. Semua ini dilakukan demi memastikan proses kembali ke Bumi berjalan aman dan terkendali.

FAQ seputar kenapa NASA memilih Samudra Pasifik untuk splash down

Kenapa NASA memilih Samudra Pasifik sebagai lokasi utama splashdown?

Itu karena wilayahnya sangat luas, sehingga memberi area pendaratan yang lebih aman dan fleksibel.

Apakah semua misi NASA selalu splashdown di Samudra Pasifik?

Tidak selalu, tapi Pasifik sering jadi pilihan utama untuk misi tertentu, terutama dari luar orbit Bumi.

Apa risiko jika splashdown tidak sesuai lokasi yang direncanakan?

Risikonya bisa menyulitkan proses evakuasi dan meningkatkan potensi bahaya bagi kru.

Referensi

"Splashdown". Chabot Space & Science Center. Diakses April 2026.
"Splashdown vs Touchdown: Why the Spacecraft Carrying Shubhanshu Shukla Will Land on Water". Hindustan Times. Diakses April 2026.
"How Will NASA Get the Artemis II Crew Safely Back on Earth? Here's the Science Behind Splashdown". PBS News. Diakses April 2026.
"Simpler, Safer: Why Spacecraft Prefer Splashdowns Over Landing on Ground". The Indian Express. Diakses April 2026.

Editorial Team