Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kisah Kelam Irma Grese, Algojo Nazi yang Dihukum Mati di Usia 22 Tahun
potret Irma Grese muda (commons.wikimedia.org/John Silverside)
  • Irma Grese, lahir di Jerman tahun 1923, tumbuh dalam keluarga miskin dan mengalami masa kecil penuh tragedi sebelum bergabung dengan organisasi Nazi di usia muda.
  • Pada usia 18 tahun, ia menjadi penjaga kamp konsentrasi Ravensbrück lalu dipromosikan ke Auschwitz sebagai pengawas senior yang dikenal karena kekejamannya terhadap tahanan perempuan.
  • Setelah ditangkap pasukan Inggris tahun 1945, Irma Grese diadili atas kejahatan kemanusiaan dan dieksekusi gantung pada usia 22 tahun sebagai salah satu penjahat perang Nazi termuda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam sejarah dunia, Nazi dikenal sebagai salah satu partai politik paling kontroversial karena keterkaitannya dengan rangkaian kejahatan kemanusiaan berskala besar. Partai politik asal Jerman yang identik dengan simbol swastika ini lekat dengan sosok diktator Adolf Hitler. Namun, membicarakan Nazi tidak hanya berarti membahas Hitler semata. Di baliknya, terdapat sejumlah tokoh lain dengan jejak kehidupan yang tak kalah kelam dan kontroversial. Salah satunya adalah Irma Grese, penjaga kamp konsentrasi yang dikenal karena kekejamannya dan akhirnya dihukum mati dengan cara digantung pada usia 22 tahun. Meski namanya tidak sepopuler Hitler, perjalanan hidup Irma Grese menyimpan kisah gelap yang mencerminkan brutalnya sistem Nazi. Lantas, seperti apa kisah lengkap kehidupannya? Mari kita ungkap fakta-faktanya satu per satu.

1. Memiliki latar belakang keluarga yang kelam

potret Irma Grese muda (commons.wikimedia.org/John Silverside)

Irma Grese lahir pada 7 Oktober 1923 di Wrechen, Jerman, dari keluarga kelas pekerja sebagai anak ketiga dari lima bersaudara. Masa kecilnya diwarnai tragedi ketika sang ibu meninggal akibat bunuh diri saat Irma berusia 12 tahun, sebuah peristiwa yang memberi dampak besar pada kondisi psikologis dan kehidupan keluarganya.

Kesulitan hidup terus berlanjut ketika Irma berhenti sekolah pada usia 15 tahun akibat perundungan. Tanpa pendidikan formal, ia bekerja serabutan di pertanian dan toko untuk bertahan hidup. Dalam situasi sosial dan ekonomi Jerman yang tidak stabil saat itu, Irma kemudian bergabung dengan organisasi Nazi, sebuah keputusan yang kelak membawanya ke dalam pusaran sejarah kelam Perang Dunia II, seperti dikutip dari laman All That Interesting.

2. Bergabung dengan Kamp Konsentrasi saat usia 18 tahun

potret barak wanita di kamp Auschwitz (commons.wikimedia.org/Unknown author)

Mengutip laman All That Interesting, pada usia 18 tahun, Irma Grese mulai bekerja sebagai penjaga di kamp konsentrasi Ravensbrück, sebuah kamp yang diperuntukkan khusus bagi perempuan. Di tempat ini, ia memasuki sistem kamp Nazi dan menjalani peran yang kelak membentuk reputasinya dalam struktur kekuasaan Schutzstaffel (organisasi paramiliter elit) di lingkungan kamp konsentrasi.

Karirnya meningkat tajam ketika pada Maret 1943 ia dipindahkan ke kamp Auschwitz dan diangkat sebagai Oberaufseherin atau Pengawas Senior Schutzstaffel. Jabatan tersebut menjadikannya penjaga perempuan berpangkat tertinggi kedua di Auschwitz, memberinya kewenangan luas atas para tahanan perempuan dan menjadikannya sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam hierarki penjaga kamp tersebut.

3. Kekejaman Irma Grese di Auschwitz

potret simbol swastika NAZI (commons.wikimedia.org/Fibonacci)

Sebagai pengawas senior, Irma Grese bertanggung jawab mengawasi lebih dari 18.000 tahanan perempuan. Namanya dikenal luas karena kebrutalan dan kekejamannya, dengan berbagai kesaksian menyebut ia kerap menggunakan cambuk, pistol, serta anjing gembala Jerman untuk menakut-nakuti dan menyiksa para tahanan di bawah pengawasannya.

Selain kekerasan fisik, Grese juga diduga melakukan penyiksaan emosional dan seksual terhadap para tahanan. Ia sering terlibat langsung dalam proses seleksi, menentukan siapa yang dianggap tidak lagi “layak bekerja” dan kemudian dikirim ke kamar gas. Perannya menjadikan ia salah satu simbol paling kelam dari sistem kekerasan terorganisasi di kamp konsentrasi Nazi.

4. Ditangkap oleh pasukan Inggris pada April 1945

potret Irma Grese saat ditangkap di Belsen (commons.wikimedia.org/Unknown author)

Pada Maret 1945, menjelang runtuhnya Jerman Nazi, Irma Grese dipindahkan ke kamp konsentrasi Bergen-Belsen. Kamp tersebut kemudian dibebaskan oleh pasukan Inggris pada April 1945, yang menemukan kondisi kemanusiaan sangat memprihatinkan. Dalam operasi pembebasan itu, Grese ditangkap oleh tentara Inggris bersama sejumlah penjaga Nazi lainnya, menandai berakhirnya perannya dalam sistem kamp konsentrasi dan awal proses pertanggungjawaban hukum atas kejahatan kemanusiaan yang telah dilakukannya, seperti dikutip dari laman All That Interesting.

5. Dihukum mati pada usia 22 tahun

ilustrasi hukuman gantung (commons.wikimedia.org/ArtWithTammy)

Irma Grese diadili dalam Pengadilan Bergen-Belsen bersama 44 terdakwa lainnya atas berbagai kejahatan perang yang dilakukan di kamp konsentrasi Nazi. Dalam persidangan tersebut, ia dinyatakan bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk keterlibatannya dalam penyiksaan dan pembunuhan para tahanan, berdasarkan kesaksian korban serta bukti yang diungkap di pengadilan, seperti dilansir laman All That Interesting.

Sebagai konsekuensi dari putusan itu, Grese dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi dengan cara digantung pada 13 Desember 1945. Saat itu usianya baru 22 tahun, menjadikannya salah satu dan sering disebut sebagai penjahat perang Nazi termuda yang dieksekusi setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Kisah Irma Grese menunjukkan bahwa kejahatan besar dalam sejarah tidak hanya dilakukan oleh pemimpin tertinggi, tetapi juga oleh individu-individu yang menjadi bagian dari sistem yang kejam. Di usia yang sangat muda, Grese terlibat dalam berbagai tindakan kekerasan dan pelanggaran kemanusiaan akibat ideologi Nazi yang ekstrem. Perjalanannya menjadi pengingat penting bahwa kebencian, rasisme, dan penyalahgunaan kekuasaan dapat membawa dampak yang sangat merusak dan tidak boleh terulang kembali di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team