Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Masjid Qiblatain, Saksi Bersejarah Perubahan Kiblat Umat Islam
Masjid Qiblatain, Kota Madinah, Arab Saudi (commons.wikimedia.org/المهندس نجاح السلامي)
  • Masjid Qiblatain di Madinah menjadi saksi sejarah perubahan arah kiblat umat Islam dari Yerusalem ke Makkah pada tahun ke-2 Hijriah saat Rasulullah memimpin salat Zuhur.
  • Perintah perubahan kiblat turun sebagai jawaban atas doa Rasulullah, menandai kemandirian spiritual umat Muslim dan memperkuat hubungan historis dengan Ka'bah yang dibangun Nabi Ibrahim.
  • Masjid ini telah mengalami berbagai renovasi besar hingga era modern, kini berdiri megah dengan dua kubah utama, dua menara tinggi, serta area ibadah terpisah untuk pria dan wanita.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Masjid Qiblatain berdiri di wilayah Madinah sebagai situs yang merekam momen penting dalam sejarah awal Islam. Bangunan ini menyimpan catatan tentang peristiwa di tahun ke-2 Hijriah, ketika perintah untuk mengubah arah kiblat turun saat jemaah sedang melaksanakan ibadah. Kejadian tersebut mengubah arah pusat orientasi salat umat Muslim dari Yerusalem menuju Makkah secara permanen.

Situs ini awalnya merupakan bangunan sederhana yang dibuat menggunakan bata lumpur dan pelepah kurma. Seiring waktu, lokasi ini berkembang menjadi struktur bangunan modern dengan kubah putih dan menara tinggi yang mencolok di area Madinah. Area dalamnya menyimpan jejak ketaatan para sahabat yang langsung mengubah posisi berdiri mereka mengikuti instruksi Rasulullah tak lama setelah wahyu turun. Mari kita telusuri fakta-fakta sejarah di balik masjid ini.

1. Asal-usul nama lokasi Bani Salamah

Masjid Qiblatain, Kota Madinah, Arab Saudi (commons.wikimedia.org/CR Guru PK)

Masjid ini memiliki nama asli Masjid Bani Salamah karena terletak di perkampungan klan Bani Salamah yang merupakan bagian dari suku Khazraj. Dilansir People of Madina, penamaan "Al-Qiblatain" atau Masjid Dua Kiblat muncul karena peristiwa bersejarah di mana jemaah diperintahkan mengubah arah salat saat ibadah masih berlangsung. Nama ini melekat kuat untuk membedakan situs tersebut dengan pemukiman lain di Madinah pada masa itu.

Secara administratif pada zaman dahulu, wilayah ini merupakan area pinggiran Madinah yang dihuni oleh klan-klan kecil. Keberadaan masjid di desa Bani Salamah menjadi sangat penting setelah peristiwa tersebut, mengubahnya dari sekadar tempat ibadah lokal menjadi pusat perhatian sejarah bagi seluruh umat Muslim. Identitas klan Khazraj yang mendiami wilayah ini pun akhirnya selalu dikaitkan dengan peristiwa perpindahan arah kiblat tersebut.

2. Momen perubahan kiblat dalam dua rakaat

Masjid Qiblatain, Kota Madinah, Arab Saudi (commons.wikimedia.org/Bluemangoa2z)

Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah awalnya melaksanakan salat dengan menghadap ke Baitul Maqdis di Yerusalem. Masih dari laman People of Madina, Imam Ibn Kathir menyebutkan bahwa perintah untuk berbalik arah ke Ka'bah turun setelah Rasulullah menyelesaikan dua rakaat pertama salat Zuhur. Perubahan ini terjadi secara instan tanpa memutus rangkaian ibadah yang sedang berjalan.

Perintah perubahan arah kiblat ini kemudian menetapkan Ka'bah di Makkah sebagai pusat orientasi salat bagi umat Islam. Perubahan tersebut menandai momen penting dalam sejarah awal Islam karena arah kiblat yang digunakan umat Muslim menjadi berbeda dari sebelumnya.

Menurut riwayat yang disampaikan oleh Al-Bara' ibn Azib, saat itu Rasulullah sedang mengunjungi Ummu Basyir dari Bani Salamah untuk jamuan makan, lalu ketika waktu Zuhur tiba, beliau mengimami salat bersama para sahabat. Kejadian ini tercatat dalam berbagai hadis, termasuk yang dihimpun dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, sebagai momen di mana dua rakaat pertama menghadap ke Yerusalem dan dua rakaat sisanya dilakukan menghadap ke Ka'bah di Makkah. Hal inilah yang mendasari penamaan masjid tersebut hingga sekarang.

3. Jawaban atas kerinduan Rasulullah

Masjid Qiblatain, Kota Madinah, Arab Saudi (commons.wikimedia.org/Muhammad Mahdi Karim)

Peristiwa perubahan arah kiblat merupakan respon terhadap doa Rasulullah yang dipanjatkan secara terus-menerus. Beliau memiliki keinginan kuat agar kiblat ibadah kembali ke Ka'bah, bangunan suci yang didirikan oleh Nabi Ibrahim. Surah Al-Baqarah ayat 144 yang berisi perintah pemindahan ini turun tepat di lokasi masjid tersebut sebagai jawaban langsung atas harapan yang sering beliau panjatkan kepada Allah SWT.

Ayat tersebut memberikan instruksi mengenai arah hadap salat sekaligus menghadirkan ketenangan batin bagi sang Nabi. Dengan berpindahnya kiblat, arah salat umat Islam memiliki fondasi sejarah yang kuat melalui jejak Nabi Ibrahim. Peristiwa tersebut menandai babak baru dalam kemandirian identitas spiritual umat Muslim yang membedakannya dengan tradisi-tradisi sebelumnya di wilayah tersebut.

4. Transformasi arsitektur lintas zaman

Masjid Qiblatain, Kota Madinah, Arab Saudi (commons.wikimedia.org/Ahmad2099)

Struktur Masjid Qiblatain telah melewati berbagai tahap pemugaran besar untuk menjaga nilai sejarahnya. Dilansir laman Visit Saudi, renovasi signifikan tercatat pada tahun 893 H oleh Shahin Al-Jamali dan berlanjut hingga masa Raja Abdulaziz Al Saud yang menambahkan menara serta tangga. Perombakan total terjadi pada tahun 1408 H (1987 M) di bawah pemerintahan Raja Fahd bin Abdulaziz untuk memperluas area tanpa menghilangkan karakter autentik Islamnya.

Saat ini, bangunan masjid mencakup area seluas 4.000 meter persegi yang terbagi menjadi tiga level fungsional. Lantai dasar digunakan untuk area wudu dan hunian imam, lantai utama seluas 1.250 meter persegi berfungsi sebagai ruang salat pria, sementara lantai atas seluas 400 meter persegi dikhususkan bagi jemaah wanita.

5. Detail estetika menjadi simbol kedalaman spiritual

Masjid Qiblatain, Kota Madinah, Arab Saudi (commons.wikimedia.org/Aiman titi)

Kemegahan visual masjid ini diperkuat dengan keberadaan dua kubah utama yang masing-masing setinggi 20 meter dan 17 meter. Masih dari laman Visit Saudi, arsitekturnya juga dihiasi oleh beberapa kubah kecil serta dua menara tinggi yang menambah keanggunan struktur bangunan. Halaman tengah yang asri dengan tanaman hijau memberikan sirkulasi cahaya alami dan ketenangan bagi para pengunjung yang datang.

Lokasinya yang berada sekitar 3,8 kilometer di sebelah barat laut Masjid Nabawi membuatnya menjadi salah satu masjid yang sering dikunjungi peziarah di Madinah. Posisi tersebut membuat Masjid Qiblatain mudah dijangkau oleh jamaah yang melakukan perjalanan religi di kota tersebut.

Masjid Qiblatain hingga kini tetap dikenal dalam catatan sejarah Islam karena peristiwa perubahan arah kiblat yang pernah terjadi di tempat tersebut. Kejadian ini menjadi salah satu momen penting pada masa awal perkembangan Islam di Madinah. Karena itulah, nama masjid ini terus disebut ketika membahas sejarah perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka'bah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team