Kerusakan lingkungan kerap terjadi secara perlahan dan tidak langsung terasa oleh manusia. Air yang tampak jernih belum tentu bebas dari zat berbahaya, sementara perubahan kecil pada suhu atau kelembapan kerap luput dari perhatian. Di sinilah peran bioindikator lingkungan menjadi penting, karena keberadaan organisme tertentu dapat memberikan sinyal dini tentang kondisi ekosistem yang sebenarnya.
Amfibi, seperti katak, kodok, dan salamander, termasuk kelompok hewan yang paling sensitif terhadap perubahan lingkungan. Kulitnya yang tipis dan permeabel, siklus hidup yang bergantung pada air dan darat, serta telur yang tidak memiliki pelindung keras membuat amfibi sangat rentan terhadap pencemaran dan perubahan habitat. Karena kepekaan inilah, perubahan pada kesehatan dan populasi amfibi sering dijadikan indikator awal untuk menilai apakah suatu lingkungan masih berada dalam kondisi sehat atau mulai mengalami degradasi.
