ilustrasi kafe (Pexels.com/Huy Phan)
Selain definisi Ray Oldenburg, Mark Nevins dari Forbes berpendapat kalau third place sesederhana tempat yang bisa membuat seseorang lepas dari dua tempat utamanya (rumah dan kantor). Dengan berada di tempat netral itu, kita akan lebih mudah rileks dan melakukan refleksi. Inilah yang kemudian membuat banyak asumsi kalau third place krusial untuk menjaga kewarasan atau kesehatan mental.
Apakah asumsi itu benar? Ini tercantum dalam studi yang dilakukan Narae Lee pada 2022 berjudul "Third place and Psychological Well-Being: The Psychological Benefits of Eating and Drinking Places for University Students in Southern California, USA" terhadap 772 mahasiswa University of California Irvine. Hasilnya menunjukkan korelasi positif dari keberadaan third place, seperti kafe dan taman kota, terhadap kondisi psikis mereka.
Lebih lanjut, Finlay dkk dalam jurnal berjudul "Closure of Third Places? Exploring Potential Consequences for Collective Health and Wellbeing" menjelaskan, dampak psikis yang diciptakan third place, antara lain: rasa kebersamaan, persepsi akan keamanan, kepercayaan diri, dan keamanan. Tempat ketiga juga mendorong orang untuk aktif secara fisik dan mental, yakni dengan pergi ke luar rumah dan menjalin koneksi.
Oldenburg selaku pencetus terma ini juga percaya kalau tempat ketiga adalah embrio dari demokrasi. Orang bisa mengekspresikan opini mereka serta bertukar ide dan pikiran secara sehat. Dengan segala peran tadi, tak berlebihan bila third place disebut punya kontribusi besar dalam hidup manusia.