Selain dampak langsung terhadap manusia, kekeringan ekstrem turut berdampak pada lingkungan sekitar. Dilansir Commonwealth of Massachusetts, kekeringan meningkatkan potensi kebakaran lahan karena material mudah terbakar semakin banyak, sementara ketersediaan air semakin terbatas. Selain itu, kehidupan makhluk lain juga dapat terpengaruh, semisal tanaman yang semakin layu hingga hewan yang kesulitan memperoleh makanan dan minuman.
5 Mitigasi Kekeringan Ekstrem demi Lindungi Diri dan Lingkungan

Kekeringan ekstrem menyebabkan pasokan air berkurang dan meningkatkan risiko kebakaran lahan.
Masyarakat perlu menghemat dan menyimpan air serta mengenali karakteristik wilayah tempat tinggal.
Menjaga kesehatan, mengurangi polusi, dan melaporkan dampak kekeringan kepada pihak berwenang penting untuk kita lakukan.
Dalam beberapa bulan ke belakang, masyarakat Indonesia sedang mengalami musim kemarau ekstrem yang ditandai dengan suhu relatif tinggi, curah hujan yang berkurang drastis, sampai kekeringan di mana-mana. Kondisi tersebut jelas membuat aktivitas menjadi tidak nyaman karena sulitnya memperoleh akses air untuk berbagai keperluan hingga mulai bermunculan penyakit akibat cuaca panas di tengah-tengah masyarakat.
Dari sini, peran semua orang jadi sangat penting supaya kita bisa mengatasi situasi sulit bersama-sama. Untuk itu, selain mengikuti arahan pemerintah maupun pihak berwenang lain, tak ada salahnya bagi kita untuk memitigasi hal-hal krusial apa saja yang dapat dilakukan untuk menghadapi kekeringan ekstrem. Agar makin siap menghadapi cuaca ekstrem yang sedang berlangsung belakangan ini, simak ulasan di bawah ini sampai tuntas, ya!
1. Jaga ketersediaan air yang masih ada

seorang perempuan sedang memasok cadangan air (pexels.com/Mehmet Turgut Kirkgoz) Bencana kekeringan ekstrem selalu identik dengan kurangnya pasokan air yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Oleh sebab itu, menjaga ketersediaan air yang masih ada jadi solusi paling utama agar aktivitas tetap bisa berjalan normal dengan beberapa penyesuaian. Adapun, beberapa langkah penyesuaian agar ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari kita tetap terjaga pasti selalu berkaitan dengan penghematan.
Dilansir Commonwealth of Massachusetts, mengurangi penggunaan air harian jadi langkah utama yang harus kita laksanakan agar suplai air rumah tangga ataupun industri tidak cepat habis. Kalau biasanya kita memakai 3 ember air untuk keperluan harian, perlahan memotong penggunaan jadi 1 sampai 2 ember air saja sudah jadi langkah awal yang sangat baik. Jangan sampai beranggapan dengan masih tersedianya pasokan air di sumur ataupun jaringan pipa air milik pemerintah dalam volume normal jadi tanda kalau ketersediaannya akan selalu ada sepanjang bencana kekeringan melanda.
Justru ketersediaan itu harus dimanfaatkan untuk menampung cadangan air yang cukup seandainya masa kekeringan ini berlangsung dalam waktu yang panjang. Membuat tempat penampungan air tambahan atau kalau perlu memanfaatkan penggunaan air secara berulang pada aktivitas tertentu, semisal menyiram tanaman dengan air bekas mencuci bahan pangan atau membersihkan kamar mandi, dapat jadi cara jitu untuk menampung cadangan air. Selain itu, ketika terjadi hujan di daerah, usahakan untuk menampung air tersebut sebagai cadangan darurat.
2. Kenali karakteristik wilayah

potret wilayah yang habis terlahap kebakaran lahan (pexels.com/Christian Palau) Salah satu upaya mitigasi utama selain mengatur ketersediaan air bersih ialah kenal dengan wilayah tempat kita tinggal. Meski secara umum seluruh wilayah Indonesia berada di zona tropis dengan dua musim berbeda, karakteristik lingkungan pada masing-masing daerahnya jelas sangat berbeda. Artinya, penanggulangan atas potensi kekeringan ekstrem pun turut berbeda-beda.
Dilansir National Drought Mitigation Center, perbedaan tersebut meliputi jenis tanah, vegetasi di sekitar lingkungan, hingga prakiraan cuaca ketika kemarau panjang. Sebagai contoh, ketika kita tahu kalau karakteristik wilayah kita memiliki sebaran tanah gambut yang luas, vegetasi relatif padat dan mudah kering, serta curah hujan yang sangat sedikit saat kemarau, kewaspadaan pada potensi kebakaran lahan maupun upaya menghemat air harus ditingkatkan.
Kalau seandainya kita tinggal di wilayah dengan curah hujan yang masih cukup sekalipun sedang kemarau panjang, bukan berarti kewaspadaan malah jadi dilonggarkan. Kamu tetap perlu menjaga pasokan air. Selain itu, waspadai potensi penyakit yang mungkin muncul ketika perubahan cuaca yang ekstrem. Terakhir, saling mengingatkan antarlapisan jadi langkah mitigasi utama yang dapat dilakukan.
3. Tidak menyebarkan berbagai jenis polusi

polusi asap akibat kebakaran lahan (pexels.com/HONG SON) Sebenarnya, dalam kondisi apa pun, menyebarkan polusi ke lingkungan jelas bukan hal yang bijak dan sepatutnya ditinggalkan. Sebab, polusi yang dilepas secara sembarangan tak hanya merusak lingkungan dan makhluk hidup di sekitarnya, tapi juga berpotensi memengaruhi kehidupan khalayak banyak. Ketika kekeringan ekstrem sedang melanda, menyebar polusi justru malah semakin menambah masalah yang sangat merugikan.
Kalau bicara soal polusi, mungkin masih ada yang berpikir kalau pelaku selalu berkaitan dengan limbah industri atau pabrik. Memang sektor tersebut selalu jadi penyumbang polusi terbesar dan harus tetap diawasi supaya tidak memperparah kondisi. Namun, bukan berarti kita sebagai masyarakat jadi abai terhadap jenis polusi yang turut kita lepaskan setiap harinya, baik secara sengaja maupun tak sengaja.
Sebagai contoh, membakar sampah pada saat cuaca terik dan kering menyebabkan polusi asap serta sangat berpotensi menyebabkan kebakaran lahan. Selain itu, asap kendaraan sehari-hari yang kadang selalu kita andalkan sekalipun pada mobilitas jarak pendek turut menyebar polusi udara yang dapat menyebar dan terisap orang lain karena keringnya wilayah sekitar.
Tak ketinggalan, persoalan sampah dapur juga turut menjadi masalah ketika kekeringan melanda. Sebab, ada potensi tercemarnya cadangan air yang tersisa, gangguan pada indra penglihatan akibat debu tertiup angin, hingga gangguan pernapasan akibat aroma tak sedap yang tersebar karena sampah yang membusuk. Oleh sebab itu, menumbuhkan kesadaran akan kebersihan lingkungan jelas jadi mitigasi yang penting untuk dilaksanakan, bahkan sebelum bencana kekeringan ekstrem melanda.
4. Menjaga kesehatan tubuh

melindungi diri dari sengatan panas dan debu (pexels.com/itsmeseher) Tak hanya mitigasi terhadap lingkungan sekitar, tubuh kita sendiri pun tak boleh terlewat dari persiapan dalam menghadapi kekeringan ekstrem. Mau sebaik apa pun kita menjaga lingkungan, jika tubuh sendiri tidak dijaga dalam kondisi prima, dampak buruk tetap akan dirasakan. Bencana kekeringan selalu identik dengan masalah kesehatan berupa sengatan panas dan beberapa penyakit turunannya. Karena itu, mengurangi aktivitas di bawah terik Matahari jadi salah satu langkah yang dapat diambil agar tubuh tidak mengalami sengatan panas yang berbahaya.
Harvard Health Publishing melansir kalau selama kekeringan, kita juga harus tetap menjaga kadar cairan di dalam tubuh. Memang, kita tetap harus menghemat penggunaan air, tapi konsumsi untuk tubuh sendiri tetap harus diatur agar tetap seimbang. Selain itu, pastikan air yang dikonsumsi ialah air yang bebas dari patogen berbahaya yang bisa saja terbawa debu ataupun polusi ketika angin kering berembus.
Terakhir, selalu periksa kualitas udara di wilayah tempat kita tinggal dan tempat yang dituju jika pada akhirnya terpaksa harus keluar ruangan. Bencana kekeringan sudah pasti memengaruhi kualitas udara karena polusi ataupun debu. Kalau sudah begitu, bukan tidak mungkin ada banyak virus, bakteri, sampai zat berbahaya lain yang berpotensi terhirup kalau memaksakan diri beraktivitas ke luar. Oh, ya, jangan lupa mengenakan masker, ya!
5. Selalu melapor pada pihak berwenang terkait dampak kekeringan ekstrem di sekitar

ilustrasi seorang perempuan membuat laporan terkait bencana pada pihak berwenang (pexels.com/Engin Akyurt) Seperti yang sudah dijelaskan di awal, mitigasi bencana kekeringan ekstrem tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan kemampuan satu pihak. Selain persiapan dari masing-masing individu, kerja sama dengan pihak berwenang juga jadi langkah jitu agar berbagai potensi masalah yang ditimbulkan bencana kekeringan ini dapat diatasi secara maksimal. Caranya pun bisa sangat beragam.
Sebagai contoh, perlu ada laporan jika ada sawah yang sudah kering dalam waktu panjang, kebakaran lahan, wilayah yang sedang kesulitan akses air, hingga individu atau kelompok masyarakat yang mulai mengalami gejala penyakit akibat kekeringan. Lewat laporan dari masyarakat, pihak berwenang sudah pasti dapat menyiapkan langkah yang tepat. Dengan begitu, mereka bisa mengatasi masalah yang masing-masing tempat alami akibat bencana kekeringan.
Beberapa mitigasi bencana kekeringan yang dapat kita lakukan bersama-sama agar dapat melewati masa sulit ini tanpa mengalami masalah yang berarti. Beberapa mitigasi yang disebutkan di atas pun sebenarnya bisa terus kita terapkan ketika menghadapi jenis bencana lain ataupun saat normal sekalipun. Karena itu, tak ada salahnya untuk menerapkan langkah-langkah mitigasi di atas sedini mungkin, ya!






















