Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Negara dengan Emisi Karhutla Tertinggi, Indonesia Nomor 1!

5 min read
5 Negara dengan Emisi Karhutla Tertinggi, Indonesia Nomor 1!
ilustrasi karhutla (unsplash.com/Greg Webber)
  • Indonesia mencatat estimasi emisi kebakaran tertinggi dunia, 2,257 juta ton karbon per hari pada 14–20 Oktober 2026; sebelumnya emisi mencapai 19,7 juta ton CO2 selama sepekan September.
  • Brasil berada di urutan kedua dengan 630 ribu ton karbon per hari, diikuti Australia 467 ribu ton, berdasarkan pemantauan Fire Emissions Watch milik CAMS.
  • Zambia dan Rusia melengkapi lima besar dengan masing-masing 137 ribu dan 109 ribu ton karbon per hari; seluruh angka merupakan estimasi satelit yang dapat diperbarui.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Indonesia seharusnya bangga jika menjadi nomor satu di dunia. Namun sayangnya, ini bukan tentang sebuah prestasi yang patut dirayakan, melainkan soal emisi dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pada 1–7 September 2026, emisi kebakaran di Indonesia mencapai 19,7 juta ton CO2, lebih dari sepertiga total emisi kebakaran global pada periode tersebut.

Angka ini menunjukkan bahwa kebakaran hutan bukan sekadar persoalan lahan yang terbakar, tetapi juga sumber emisi yang memperparah krisis iklim. Ironisnya, spanduk protes bisa diturunkan dalam hitungan jam, sementara karhutla dan emisinya tak bisa diselesaikan secepat itu. Lantas, negara mana saja yang menyumbang emisi kebakaran terbesar di dunia, dan bagaimana posisi Indonesia? Berikut beberapa fakta terbaru per Oktober 2026 yang perlu kamu tahu!

  1. 1. Indonesia

    ilustrasi kebakaran lahan gambut
    ilustrasi kebakaran lahan gambut (pexels.com/K)

    Indonesia masih menempati posisi pertama dalam daftar negara dengan emisi karbon dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tertinggi di dunia. Berdasarkan data Fire Emissions Watch milik Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), emisi kebakaran Indonesia mencapai 2,257 juta ton karbon per hari pada periode 14–20 Oktober 2026. Angka ini lebih dari tiga kali lipat Brasil, yang berada di posisi kedua dengan 630 ribu ton karbon per hari.

    Meski turun dibandingkan rata-rata 2,925 juta ton karbon per hari pada periode 1–14 Oktober, Indonesia tetap berada di urutan teratas. CAMS memperkirakan emisi kebakaran berdasarkan pengamatan satelit terhadap aktivitas kebakaran, sehingga angka tersebut mengukur emisi karbon, bukan luas lahan yang terbakar. Temuan ini sejalan dengan laporan Reuters pada September 2026 yang menyebut emisi kebakaran Indonesia mencapai 19,7 juta ton CO2 dalam sepekan, sementara angka terbaru CAMS masih merupakan estimasi yang dapat berubah seiring pembaruan data.

  2. 2. Brasil

    ilustrasi karhutla
    ilustrasi karhutla (unsplash.com/Matt Palmer)

    Brasil menempati posisi kedua dalam daftar negara dengan emisi karbon dari karhutla tertinggi pada periode 14–20 Oktober 2026. Data Fire Emissions Watch milik CAMS menyebut, emisi kebakaran Brasil mencapai 630 ribu ton karbon per hari. Angka ini jauh di bawah Indonesia yang mencatat 2,257 juta ton karbon per hari, tetapi menempatkan Brasil di posisi kedua dalam pemantauan tersebut.

    Brasil memiliki kawasan hutan tropis yang luas, terutama Amazon, yang menghadapi tekanan dari pembukaan lahan dan kebakaran vegetasi. Namun, angka emisi nasional tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh emisi tersebut berasal dari kebakaran di Amazon. Penelitian yang terbit dalam jurnal Atmospheric Chemistry and Physics pada Oktober 2026 juga menunjukkan bahwa emisi karbon kebakaran di Brasil perlu diperhitungkan secara cermat karena estimasi berbasis inventaris kebakaran dapat berbeda dari perhitungan yang menggunakan pengamatan satelit terhadap karbon monoksida

  3. 3. Australia

    ilustrasi berada di tengah kabut asap karhutla.
    ilustrasi berada di tengah kabut asap karhutla. (pexels.com/Vadim Braydov)

    Per 14–20 Oktober 2026, Australia menempati posisi ketiga dalam daftar negara dengan emisi karbon karhutla tertinggi. Menurut data Fire Emissions Watch milik CAMS, emisi kebakaran Australia mencapai 467 ribu ton karbon per hari. Angka ini meningkat dibandingkan rata-rata 324 ribu ton karbon per hari pada periode 1–14 Oktober 2026, ketika Australia berada di posisi ketiga dengan emisi yang lebih rendah.

    Kebakaran vegetasi di Australia dapat melibatkan hutan, semak belukar, dan padang rumput, sehingga emisinya tidak selalu berasal dari kebakaran hutan saja. CAMS juga mencatat bahwa emisi kebakaran Australia dapat dipantau melalui indikator yang sama untuk membandingkan aktivitas kebakaran antarnegara. Namun, angka ini merupakan estimasi terbaru untuk periode 14–20 Oktober dan dapat berubah seiring pembaruan data.

  4. 4. Zambia

    ilustrasi karhutla
    ilustrasi karhutla (pexels.com/Michal Petráš)

    Zambia menempati posisi keempat dalam daftar negara dengan emisi karbon kebakaran tertinggi pada 14–20 Oktober 2026, menggeser Papua Nugini dari lima besar. Data Fire Emissions Watch milik CAMS mencatat emisi kebakaran Zambia mencapai 137 ribu ton karbon per hari. Pada periode 1–14 Oktober, angkanya masih sekitar 91 ribu ton karbon per hari, sehingga estimasi terbaru menunjukkan peningkatan.

    Kebakaran vegetasi di Zambia dapat terjadi di kawasan sabana dan padang rumput, bukan hanya di hutan. Diketahui, sekitar 50–70 persen wilayah Zambia didominasi oleh sabana, khususnya sabana berkayu. Oleh karena itu, besarnya emisi perlu dibaca bersama karakter vegetasi yang terbakar dan kondisi lingkungan setempat.

  5. 5. Rusia

    ilustrasi asap karhutla
    ilustrasi asap karhutla (unsplash.com/Matt Palmer)

    Rusia berada di peringkat kelima dalam daftar negara dengan emisi karbon kebakaran tertinggi pada periode 14–20 Oktober 2026. Dashboard CAMS mencatat emisi kebakaran Rusia sebesar 109 ribu ton karbon per hari, sedikit di bawah Zambia yang mencapai 137 ribu ton. Rusia memiliki kawasan hutan boreal yang luas, terutama di Siberia, tempat kebakaran hutan dapat melepaskan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer.

    Copernicus sebelumnya juga mendokumentasikan aktivitas kebakaran di wilayah timur jauh Rusia serta penyebaran asapnya ke kawasan lain di belahan bumi utara. Meski begitu, angka nasional untuk periode ini tidak cukup untuk memastikan lokasi kebakaran mana yang paling berkontribusi terhadap emisi. Data tersebut merupakan estimasi terbaru CAMS dan dapat berubah seiring pembaruan pengamatan satelit.

    Indonesia masih menjadi negara dengan estimasi emisi karbon kebakaran tertinggi di dunia pada periode 14–20 Oktober 2026, jauh melampaui negara-negara lain dalam daftar. Meski angkanya lebih rendah dibandingkan periode 1–14 Oktober 2026, perubahan estimasi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa karhutla telah terkendali. Data Fire Emissions Watch merupakan estimasi yang dapat berubah seiring pembaruan pengamatan, tetapi posisi Indonesia tetap menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla membutuhkan upaya serius dan berkelanjutan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More