Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
kolase perbandingan gajah semak afrika dan gajah hutan afrika, bisa membedakannya? (commons.wikimedia.org/Wich'yanan L | Charles J. Sharp)
kolase perbandingan gajah semak afrika dan gajah hutan afrika, bisa membedakannya? (commons.wikimedia.org/Wich'yanan L | Charles J. Sharp)

Secara taksonomi, keluarga gajah (famili Elephantidae) terbagi atas tiga spesies berbeda, yakni gajah asia (Elephas maximus), gajah semak afrika (Loxodonta africana), dan gajah hutan afrika (Loxodonta cyclotis). Nah, gajah asia sendiri kemudian dibagi lagi atas tiga subspesies berbeda, sekalipun ketiganya hidup dalam wilayah yang relatif berjauhan. Kondisi ini berbeda dengan dua spesies gajah yang ada di Afrika. 

Dua gajah yang ada di Afrika itu sama sekali tak berbagi genetik yang sama layaknya subspesies pada gajah asia. Oleh karena itu, pastinya terdapat beberapa perbedaan antara kedua jenis gajah itu, sekalipun keduanya hidup dalam wilayah yang berdekatan. Nah, kali ini, kita akan mencari tahu soal apa saja perbedaan yang dimiliki antara gajah semak afrika dengan gajah hutan afrika. Tanpa berlama-lama lagi, langsung cari tahu jawabannya di bawah ini, ya!

1. Beda peta persebaran, habitat, dan makanan favorit

seekor gajah semak afrika yang sedang menunjukan dominasi di area sabana (commons.wikimedia.org/Yathin S Krishnappa)

Pemberian nama kedua spesies gajah ini tentu sudah menunjukkan preferensi habitat pilihannya masing-masing. Namun, ternyata dalam hal peta persebaran, sebenarnya gajah semak afrika dan gajah hutan afrika tidak terpisah terlalu jauh, lho. Secara umum, peta persebaran dua spesies gajah ini terletak di Afrika Tengah dan Afrika Selatan. Nah, perbedaannya baru terlihat pada negara yang dihuni kedua gajah ini.

Dilansir Animalia, setidaknya ada dua puluhan negara yang jadi rumah bagi gajah semak afrika. Sementara untuk pilihan habitatnya, gajah semak afrika bisa ditemukan di kawasan sabana, padang rumput, daerah yang kering, dan terkadang pinggiran hutan. Pilihan makanan raksasa ini biasanya berupa daun, akar pohon, rerumputan, buah, sampai tanaman lain yang bisa mereka jumpai.

Sedangkan gajah hutan afrika hanya ditemukan di wilayah Senegal hingga Republik Demokratik Kongo. Habitat pilihan mereka tentunya berupa hutan hujan tropis, walaupun terkadang mereka juga bisa "main" ke daerah sabana, dilansir Animalia. Berbeda dengan gajah semak afrika yang tak memiliki banyak variasi makanan, gajah hutan afrika bisa mengonsumsi berbagai jenis buah, kulit kayu, jamur, dan daun-daunan. Menariknya, terkadang gajah hutan afrika juga mengonsumsi mineral dan garam yang terdapat pada lubang air tertentu.

2. Beda ukuran

induk dan anak gajah hutan afrika yang berada di aliran sungai (commons.wikimedia.org/Thomas Breuer)

Secara ukuran, gajah semak afrika lebih besar ketimbang saudaranya. Bahkan, mereka inilah yang menjadi mamalia darat terbesar yang ada di dunia. Britannica melansir kalau rata-rata ukuran gajah semak afrika dewasa mencapai panjang 3—7 meter, tinggi 3,2—4 meter, dan bobot 2,5—6,7 ton. Bahkan, individu terbesar yang pernah dicatat memiliki bobot mencapai 12 ton! Tentunya, gajah semak afrika jantan tumbuh lebih besar ketimbang betinanya.

Di sisi lain, gajah hutan afrika punya ukuran yang tak berbeda jauh dari gajah asia. Dilansir Britannica, panjang tubuhnya berkisar antara 1—3 meter, tinggi 2,4—3 meter, dan bobot antara 1,8—5,4 ton. Meski lebih kecil, asupan makanan gajah hutan afrika lebih besar ketimbang saudaranya. Sebab, dalam satu hari biasanya mereka akan mencari sekitar 100—300 kg makanan untuk memenuhi kebutuhan hariannya.

3. Beda bentuk gading dan telinga

Sosok gajah semak afrika dewasa yang sedang menikmati suasana di sekitar wilayahnya. (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp)

Selain habitat dan ukuran, cara paling mudah untuk membedakan gajah semak afrika dengan gajah hutan afrika adalah melihat bentuk gading dan telinganya. The Call To Conserve melansir kalau bentuk gading gajah semak afrika cenderung melengkung ke arah atas. Selain itu, telinganya lebih besar dan berbentuk layaknya benua Afrika karena berfungsi sebagai pendingin dari cuaca panas di habitat alaminya.

Sedangkan gajah hutan afrika memiliki gading yang melengkung ke arah bawah. Adapun, fungsi bentuk gading ini dimanfaatkannya untuk menggali tanah atau mencari sesuatu di area tanah dengan lebih mudah. Bentuk telinga mereka cenderung oval dan lebih kecil dari saudaranya sebab mereka tak terlalu memerlukan fungsi mendinginkan tubuh dari telinga yang berukuran besar mengingat habitatnya yang berada di hutan.

4. Beda jumlah kelompok

Meski sama-sama hidup berkelompok, jumlah anggota kelompok gajah hutan afrika lebih kecil ketimbang saudaranya. (commons.wikimedia.org/Jean-Paul Boerekamps)

Seluruh spesies gajah yang ada di dunia merupakan hewan sosial yang hidup dalam kelompok. Bahkan, keluarga hewan ini sangat terkenal dengan kekompakan kelompoknya dalam menghadapi apa saja. Nah, gajah semak afrika dan gajah hutan afrika juga sama-sama menyimpan karakteristik ini, hanya saja jumlah individu dalam satu kelompok antar dua spesies ini cukup berbeda.

Dilansir Animalia, kelompok gajah semak afrika biasanya diisi sekitar 10 ekor betina dan beberapa anak-anaknya. Para pejantan dewasa biasanya akan hidup menyendiri atau mementuk kelompok kecil saja. Menariknya, ada kelompok gajah semak afrika yang memiliki hingga 100 individu di dalamnya. Mereka sangat kompak, saling menjaga satu sama lain, dan bahkan berkabung bersama jika ada anggota kelompoknya yang mati.

Untuk gajah hutan afrika, jumlah individu dalam kelompoknya terbilang lebih kecil, yakni sekitar 2—8 individu saja. Kelompok ini pun terkadang hanya terdiri atas keluarga yang masih satu darah, yakni seekor betina, anaknya yang menginjak masa remaja, dan anak yang masih muda. Sementara gajah hutan afrika jantan merupakan penyendiri dan hanya akan terlihat bersama gajah lain saat musim kawin. Menariknya, jika kebetulan bertemu, biasanya dua kelompok gajah hutan afrika akan saling menghindari kontak.

5. Beda status konservasi

potret kelompok gajah semak afrika yang sedang bergerak bersama di sungai (commons.wikimedia.org/Geoff Gallice)

Urusan status konservasi kedua jenis gajah ini bisa dibilang berbeda, tetapi sama-sama menghadapi ancaman yang sama. Gajah semak afrika sedikit lebih beruntung karena statusnya saat ini masih ada pada tingkat terancam punah (endangered) dengan jumlah individu tak lebih dari 400 ribu individu. Jumlah ini sebenarnya sudah bertambah signifikan karena pada perkiraan pada tahun 2016, disebutkan kalau populasi gajah semak afrika hanya berkisar 111 ribu, mengutip World Wildlife.

Sayangnya, populasi gajah hutan afrika justru lebih buruk ketimbang saudaranya. Mereka dikategorikan sebagai hewan yang sangat terancam punah (critically endangered) karena jumlah individu yang tercatat sekitar 150 ribu saja. Jumlah ini telah menurun sekitar 62 persen dalam kurun waktu 2002—2011 saja. Kalau melacak dua abad sebelumnya, bahkan populasi kedua spesies gajah yang ada di Afrika ini masih ada pada angka 26 juta sekitar tahun 1800-an.

Ancaman yang dihadapi kedua spesies gajah asal Afrika ini tentunya sama, yakni manusia beserta aktivitasnya. Gading mereka masih dinilai sangat berharga sehingga perburuan liar masih terus terjadi hingga hari ini. Selain itu, kerusakan habitat secara masif masih berlangsung sehingga membuat ruang gerak kedua spesies gajah ini semakin menyempit.

Tentunya, upaya konservasi maksimal sudah, sedang, dan masih akan diupayakan berbagai pihak. Dalam beberapa tahun terakhir pun tren kenaikan populasi gajah-gajah afrika mulai terlihat seiring dengan kontrol terhadap perburuan yang membaik. Jika populasi gajah bisa berada pada angka yang stabil, maka hal tersebut bisa jadi salah satu contoh keberhasilan konservasi yang pernah kita lakukan terhadap hewan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team