“Clearing the Air: A Review of the Effects of Particulate Matter Air Pollution on Human Health.” Journal of Medical Toxicology. Diakses Oktober 2026.
“Ambient Coarse Particulate Matter and Human Health: A Systematic Review and Meta-Analysis.” Environmental Health Perspectives. Diakses Oktober 2026.
“Long-term exposure to particulate matter on cardiovascular and respiratory diseases in low- and middle-income countries: A systematic review and meta-analysis.” Frontiers in Public Health. 2023. Diakses Oktober 2026.
“Short-term exposure to particulate matter (PM10 and PM2.5), nitrogen dioxide (NO2), and ozone (O3) and all-cause and cause-specific mortality: Systematic review and meta-analysis.” Environment International. 2020. Diakses Oktober 2026.
“WHO global air quality guidelines: particulate matter (PM2.5 and PM10), ozone, nitrogen dioxide, sulfur dioxide and carbon monoxide.” World Health Organization. Diakses Oktober 2026.
PM2.5 vs. PM10, Apa Bedanya dan Mana yang Lebih Berbahaya?

- PM10 berdiameter maksimal 10 mikrometer, sedangkan PM2.5 maksimal 2,5 mikrometer; keduanya jauh lebih kecil daripada diameter rambut manusia dan dapat terhirup.
- PM10 umumnya berasal dari debu jalan, tanah, dan konstruksi, sementara PM2.5 banyak dihasilkan pembakaran, kebakaran, industri, serta reaksi kimia gas di atmosfer.
- PM2.5 dapat mencapai bagian paru-paru untuk pertukaran oksigen dan dikaitkan dengan gangguan pernapasan serta risiko kardiovaskular; PM10 juga mengiritasi saluran napas, terutama pada kelompok rentan.
Saat kualitas udara memburuk, kita mungkin langsung menyalahkan asap kendaraan atau polusi dari aktivitas industri. Namun, tahukah kamu kalau udara yang terlihat biasa saja juga bisa mengandung partikel polutan berukuran sangat kecil, seperti PM2.5 dan PM10? Keduanya sering dibahas dalam pemantauan kualitas udara, tetapi punya ukuran dan karakteristik berbeda yang bisa memengaruhi kesehatan tubuh.
Nah, PM2.5 dan PM10 ini bukan sekadar istilah yang sering muncul saat membahas kualitas udara, lho. Keduanya merupakan partikel polusi dengan ukuran berbeda yang bisa masuk ke saluran pernapasan dan berdampak pada kesehatan. Lalu, apa sih yang membedakan PM2.5 dan PM10, dan mana yang lebih berbahaya bagi tubuh? Yuk, kenali perbedaannya supaya kamu lebih paham dengan polusi udara yang ada di sekitar kita!
1. PM2.5 dan PM10 punya ukuraran partikel yang berbeda

ilustrasi kabut asap (magnific.com/magnific) Pernah melihat kabut tipis di jalan atau asap dari kendaraan yang mengepul saat jam sibuk? Di balik kondisi itu, mungkin ada partikel polusi yang ukurannya terlalu kecil untuk dilihat oleh mata, seperti PM2.5 dan PM10. Angka yang terdapat dalam kedua istilah ini bukan hanya untuk membedakan nama, tetapi menunjukkan ukuran partikel yang ada di udara.
PM10 adalah partikel dengan diameter 10 mikrometer atau lebih kecil, sedangkan PM2.5 memiliki diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Untuk memberi gambaran, diameter rambut manusia sekitar 70 mikrometer, sehingga kedua jenis partikel ini jauh lebih kecil dari yang kita bayangkan. Dengan ukuran yang sangat kecil, PM2.5 dan PM10 dapat terhirup saat kita berada di luar ruangan, lho.
2. PM 2.5 dan PM10 berasal dari sumber yang beragam

ilustrasi kebakaran hutan (magnific.com/pvproductions) Saat melewati jalanan yang padat, kita cenderung mengaitkan polusi udara dengan asap dari kendaraan bermotor. Namun, PM2.5 dan PM10 memiliki banyak sumber yang beragam, mulai dari aktivitas industri, pembakaran bahan bakar, hingga debu yang beterbangan ketika jalan kering. Jadi, polusi udara gak hanya tentang asap hitam yang terlihat jelas di depan mata, ya.
PM10 banyak ditemukan dari debu jalanan, tanah, aktivitas konstruksi, serta partikel lain yang lebih besar. Di sisi lain, PM2.5 bisa berasal dari pembakaran bahan bakar, asap kebakaran, kegiatan industri, dan juga reaksi kimia gas tertentu di atmosfer. Menariknya, satu sumber polusi dapat menghasilkan lebih dari satu jenis partikel, sehingga keduanya bisa ada bersamaan di udara yang kita hirup.
3. PM2.5 bisa masuk lebih jauh ke dalam paru-paru

ilustrasi paru-paru (magnific.com/rawpixel.com) Ukuran partikel ternyata memengaruhi seberapa jauh zat pencemar dapat masuk ke dalam sistem pernapasan. PM10 biasanya dapat menjangkau saluran pernapasan, termasuk mencapai bagian dalam paru-paru, sementara beberapa partikel yang lebih besar cenderung terhambat di hidung atau tenggorokan. Namun, dengan ukurannya yang lebih kecil, PM2.5 dapat masuk lebih dalam hingga mencapai bagian paru-paru di mana proses pertukaran oksigen berlangsung.
Situasi ini menjadikan paparan PM2.5 perlu mendapat perhatian khusus, terutama saat konsentrasinya tinggi atau terjadi dalam jangka waktu yang lama. Partikel yang sampai di bagian dalam paru-paru dapat menyebabkan peradangan dan memengaruhi kesehatan pernapasan. Namun, ini bukan berarti PM10 boleh dianggap aman, karena paparan partikel ini juga bisa memberikan dampak negatif bagi tubuh, lho.
4. Mana yang lebih berbahaya bagi kesehatan?

ilustrasi kualitas udara yang buruk (magnific.com/jcomp) Kalau harus memilih, PM2.5 sering kali menjadi fokus utama karena ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel ini untuk masuk lebih dalam ke paru-paru. Paparan PM2.5 dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, dari gangguan pernapasan hingga peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu, konsentrasi PM2.5 sering menjadi salah satu indikator penting dalam pemantauan kualitas udara.
Namun, bukan berarti PM10 selalu lebih ringan atau dapat diabaikan. Partikel ini juga bisa mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk kondisi seperti asma, terutama bagi individu yang sensitif terhadap polusi udara. Besarnya risiko tetap ditentukan oleh konsentrasi partikel, durasi paparan, komposisi zat pencemar, dan keadaan kesehatan masing-masing orang, ya.
5. Paparan PM2.5 dan PM10 bisa memengaruhi kelompok rentan

ilustrasi sesak napas (magnific.com/rawpixel.com) Polusi udara dapat berdampak pada siapa saja, namun ada kelompok tertentu yang lebih rentan saat terpapar PM2.5 dan PM10. Anak-anak, lansia, wanita hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau masalah pernapasan harus lebih memperhatikan kualitas udara di sekitar mereka. Bagi kelompok ini, terpapar polusi dapat memperburuk kesehatan atau menaikkan kemungkinan munculnya masalah tertentu.
Contohnya, seseorang yang memiliki asma mungkin akan mengalami batuk, sesak napas, atau gejala lain yang lebih sering kambuh saat kondisi udara memburuk. Selain itu, paparan terhadap partikel halus dalam jangka panjang juga berkaitan dengan risiko penyakit jantung dan paru-paru. Meskipun kamu merasa sehat dan gak mengalami gejala secara langsung, bukan berarti paparan polusi dalam jangka panjang dapat diabaikan, ya.6. Cara mengurangi paparan PM2.5 dan PM10 sehari-hari

ilustrasi masker medis (magnific.com/azerbaijan_stockers) Menghindari polusi udara sepenuhnya bukanlah hal yang mudah, terutama kalau kamu tinggal di wilayah dengan lalu lintas yang padat atau sering beraktivitas di luar ruangan. Namun, ada beberapa langkah sederhana yang bisa diambil untuk mengurangi paparan kedua jenis partikel ini. Salah satunya adalah dengan memeriksa informasi kualitas udara sebelum berolahraga atau melakukan aktivitas berat di luar.
Saat polusi sedang tinggi, kamu mungkin ingin membatasi aktivitas fisik di luar ruangan dan mencari tempat dengan udara yang lebih bersih. Jika harus beraktivitas di tengah polusi, masker respirator yang pas di wajah, seperti N95 atau KN95 yang memenuhi standar, dapat membantu menyaring partikel halus dengan lebih baik dibandingkan masker kain biasa. Nah, menjaga ventilasi dan menggunakan pembersih udara dengan filter HEPA di dalam ruangan juga bisa membantu mengurangi partikel, terutama ketika kondisi udara luar sedang buruk.PM2.5 dan PM10 sama-sama menjadi polutan udara yang perlu diwaspadai, meski keduanya memiliki ukuran dan karakteristik yang berbeda. PM2.5 sering dianggap lebih berisiko karena ukurannya yang lebih kecil memungkinkan partikel masuk lebih jauh ke paru-paru, tetapi PM10 juga bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Jadi, jangan hanya melihat udara dari seberapa bersih tampilannya, ya, karena memantau kualitas udara dan mengurangi paparan polusi juga penting untuk menjaga kesehatan sehari-hari.
Referensi






















![[QUIZ] Apakah Kamu Lebih Pintar dari Anak Kelas 2 SD? Buktikan di Sini](https://image.idntimes.com/post/20240917/apakah-kamu-lebih-pintar-dari-kelas-2-sd-2-797dda6fac07abb51e5215f6d384a270.jpg)