Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Selain Sapu-Sapu, Apa Ikan Invasif yang Merusak Ekosistem?
ilustrasi ikan arapaima (commons.wikimedia.org/Citron / CC-BY-SA-3.0)
  • Ikan sapu-sapu dan sejumlah spesies lain seperti nila, mujair, lele dumbo, louhan, arapaima, ikan mas, serta red devil dinilai mengancam keseimbangan ekosistem perairan Indonesia.
  • Setiap spesies invasif memiliki karakteristik berbeda—mulai dari sifat predator hingga kemampuan berkembang biak cepat—yang membuatnya mendominasi habitat dan menekan populasi ikan lokal.
  • Pemerintah dan peneliti menyoroti pentingnya pengendalian penyebaran ikan invasif untuk menjaga keanekaragaman hayati serta mencegah kerusakan ekosistem di berbagai wilayah perairan Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ikan sapu-sapu kini menjadi salah satu spesies invasif yang tengah disorot di Indonesia karena populasinya terus meningkat hingga sulit dikendalikan. Keberadaannya tidak hanya mengganggu keseimbangan ekosistem perairan, tetapi juga mengancam biota lokal serta kualitas air di berbagai wilayah. Kondisi ini membuat ikan sapu-sapu makin menjadi perhatian serius dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Selain sapu-sapu, masih ada banyak spesies lain yang juga berpotensi merusak ekosistem perairan. Apa saja jenis ikan invasif selain sapu-sapu yang perlu diwaspadai? Beberapa di antaranya ikan nila, mujair, lele dumbo, ikan mas, louhan, dan arapaima. Yuk, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

1. Ikan nila

Keberadaan ikan nila (Oreochromis niloticus) di berbagai perairan dunia sering kali menimbulkan masalah serius. Spesies ini dikenal sebagai salah satu ikan invasif yang penyebarannya sangat luas, bahkan hampir ke seluruh benua, kecuali Antartika. Di negara seperti Brasil, Australia, dan Amerika Serikat, ikan nila dianggap sebagai “wabah” karena populasinya sulit dikendalikan dan mampu mendominasi ekosistem perairan.

Di Indonesia sendiri, ikan nila mulai diperkenalkan sejak 1960-an sebagai komoditas perikanan. Namun, penyebarannya yang tidak terkontrol justru membawa dampak negatif, terutama di danau-danau Sulawesi yang kaya akan spesies endemik. Ikan nila bersaing dengan ikan lokal dalam mencari makanan dan habitat, bahkan berpotensi membawa penyakit.

2. Ikan louhan

Awalnya dikenal sebagai ikan hias, ikan louhan (flowerhorn cichlid) kini justru menjadi ancaman bagi ekosistem perairan. Ikan hasil persilangan ini memiliki sifat agresif dan nafsu makan tinggi sehingga termasuk predator berbahaya jika dilepas ke alam liar.

Di perairan umum, ikan louhan dapat memangsa ikan kecil dan telur ikan lokal, bahkan berpotensi menghasilkan keturunan hibrida yang lebih kuat. Keberadaannya telah dilaporkan mengganggu ekosistem di beberapa wilayah seperti Danau Matano dan Waduk Sempor. Selain menurunkan populasi ikan asli, louhan juga merusak keseimbangan rantai makanan sehingga keberadaannya perlu diwaspadai.

3. Ikan arapaima

Arapaima (Arapaima gigas) dikenal sebagai ikan air tawar raksasa yang berasal dari Sungai Amazon. Ukurannya yang bisa mencapai lebih dari 3 meter menjadikannya predator puncak di habitatnya. Ketika masuk ke perairan lain, ikan ini berpotensi menjadi ancaman besar bagi ekosistem lokal.

Kemampuan arapaima dalam memangsa ikan-ikan berukuran kecil hingga sedang membuatnya sangat berbahaya bagi spesies asli. Selain itu, daya tahannya terhadap berbagai kondisi lingkungan membuat ikan ini sulit dikendalikan jika sudah menyebar. Akibat risiko tersebut, pemerintah Indonesia bahkan melarang peredaran dan budidaya arapaima untuk mencegah dampak lebih luas terhadap keanekaragaman hayati.

4. Lele dumbo

Lele dumbo (commons.wikimedia.org/עוזי פז)

Lele dumbo (Clarias gariepinus) merupakan ikan asal Afrika yang masuk ke Indonesia pada 1980-an. Kini ikan ini dikenal sebagai spesies invasif berbahaya. Ikan ini memiliki kemampuan tumbuh sangat cepat dan dapat bertahan hidup di berbagai kondisi lingkungan, bahkan mampu berpindah tempat di daratan saat air mengering. Karakteristik ini membuat penyebarannya sulit dikendalikan.

Dampak dari keberadaan lele dumbo tidak bisa dianggap sepele. Apalagi lele dumbo bersifat predator dan dapat memangsa ikan lain sehingga mengganggu keseimbangan rantai makanan di perairan. Selain itu, lele dumbo juga dapat mendominasi habitat dan mengancam keberadaan ikan endemik.

5. Ikan mas

Meski sering dianggap sebagai ikan konsumsi yang umum, ikan mas (Cyprinus carpio) termasuk salah satu spesies invasif paling merusak di dunia. Ikan ini berasal dari Eropa dan Asia Timur, tetapi kini telah menyebar hampir ke seluruh wilayah dunia. Kemampuannya beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan membuat ikan mas mudah berkembang di perairan baru.

Permasalahan muncul dari kebiasaan makan ikan mas yang mengaduk dasar perairan saat mencari makanan. Aktivitas ini dapat merusak vegetasi air, menghancurkan habitat organisme lain, serta meningkatkan pertumbuhan alga. Tidak hanya itu, ikan mas juga memakan telur ikan lain yang pada akhirnya menyebabkan penurunan populasi ikan lokal secara drastis.

6. Ikan red devil

Ikan red devil (Amphilophus citrinellus) merupakan salah satu ikan hias yang berubah menjadi spesies invasif setelah dilepas ke perairan umum. Ikan ini memiliki pertumbuhan yang cepat serta sifat agresif yang membuatnya mudah mendominasi habitat baru.

Perilaku red devil yang suka memangsa telur dan larva ikan lain menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan spesies lokal. Selain berdampak pada ekologi, keberadaannya juga merugikan secara ekonomi karena dapat menurunkan hasil tangkapan ikan bernilai tinggi. Salah satu contoh nyata adalah di Danau Toba di mana populasi red devil yang tidak terkendali telah mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.

7. Ikan Mujair

Ikan mujair (Oreochromis mossambicus) merupakan spesies asal Afrika yang telah lama diperkenalkan di Indonesia. Sekilas ikan ini tampak menguntungkan sebagai sumber pangan. Namun, di balik itu, mujair memiliki potensi invasif yang cukup tinggi karena kemampuannya berkembang biak dengan sangat cepat.

Salah satu keunikan mujair adalah cara melindungi telurnya di dalam mulut induk sehingga tingkat keberhasilan hidup anaknya lebih tinggi. Hal ini menyebabkan populasinya mudah meledak di perairan baru. Akibatnya, mujair sering kali mengalahkan ikan lokal dalam persaingan makanan dan habitat. Dampaknya sudah terlihat di beberapa wilayah seperti Danau Sentani dan Danau Poso di mana populasi ikan endemik mengalami penurunan signifikan.

Itulah berbagai jenis ikan invasif selain sapu-sapu yang memiliki dampak besar terhadap kelangsungan hidup ikan lokal. Kesadaran akan hal ini penting agar kita bisa ikut menjaga kelestarian ekosistem perairan.

FAQ seputar jenis ikan invasif selain sapu-sapu

Apa yang dimaksud dengan ikan invasif?

Ikan invasif adalah jenis ikan yang berasal dari luar habitat aslinya dan menyebar dengan cepat hingga mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.

Apa dampak ikan invasif bagi ekosistem perairan?

Ikan invasif bisa menurunkan populasi ikan asli, merusak habitat, serta mengganggu rantai makanan di perairan.

Bagaimana cara mencegah penyebaran ikan invasif?

Dengan tidak melepas ikan ke perairan umum sembarangan serta meningkatkan kesadaran tentang dampaknya terhadap lingkungan.

Referensi

"Invasi Ikan Nila di Perbatasan Indonesia-Filipina". UNAIR. Diakses April 2026.
"Catatan Pertama Keberadaan Ikan Lele Lokal (Clarias batrachus) di Pulau Kangean". UNAIR. Diakses April 2026.
"10 of the Most Invasive Fish Species in the World". Treehugger. Diakses April 2026.
"Ikan Mujair: Asal-usul Dan Habitatnya". IPB Digitani. Diakses April 2026.
"Arapaima, Ikan Raksasa yang Termasuk Invasif". Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Diakses April 2026.
Dadiono, Muh. Sulaiman, and Pratiwi Restu Murti. “Analisis Populasi Ikan Louhan (Cichlasoma X Paraneetroplus X Amphilophus) Di Waduk Sempor, Kabupaten Kebumen.” Clarias Jurnal Perikanan Air Tawar 4, no. 1 (April 13, 2023): 9–12.
Umar, Chairulwan, Endi Setiadi Kartamihardja, and Aisyah Aisyah. “DAMPAK INVASIF IKAN RED DEVIL (Amphilophus Citrinellus) TERHADAP KEANEKARAGAMAN IKAN DI PERAIRAN UMUM DARATAN DI INDONESIA.” Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia 7, no. 1 (May 1, 2015): 55.

Editorial Team