Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Ikan Sapu-Sapu Harus Dimusnahkan? Ini Bahayanya

Kenapa Ikan Sapu-Sapu Harus Dimusnahkan? Ini Bahayanya
ilustrasi ikan sapu-sapu (unsplash.com/Vaibhav Pixels/
Intinya Sih
  • Populasi ikan sapu-sapu di sungai Jakarta meningkat pesat dan mengancam ekosistem karena sifatnya invasif tanpa predator alami.

  • Ikan sapu-sapu merusak struktur sungai lewat lubang sarangnya yang memicu erosi dan banjir, serta berbahaya dikonsumsi karena mengandung logam berat dari polutan dasar perairan.

  • Pakar IPB menyarankan pengendalian terpadu melalui pencegahan penyebaran, penangkapan selektif berbasis komunitas, serta kontrol biologis dengan predator alami untuk menekan populasi ikan sapu-sapu.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ledakan populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta makin jadi perbincangan. Ikan yang awalnya dikenal sebagai pembersih akuarium ini kini banyak ditemukan di perairan alami, seperti Sungai Ciliwung dan Cideng. Kondisi ini membuat pemerintah mulai mengambil langkah untuk mengendalikan penyebarannya.

Namun, kenapa ikan sapu-sapu harus dimusnahkan? Dampaknya yang merusak ekosistem, mengancam ikan lokal, hingga memperparah kondisi lingkungan perairan membuat keberadaannya tidak bisa dibiarkan. Yuk, simak beberapa alasan kenapa ikan sapu-sapu berbahaya di sini!

Table of Content

1. Kenapa ikan sapu-sapu harus dimusnahkan?

1. Kenapa ikan sapu-sapu harus dimusnahkan?

Kalau dilihat sekilas, ikan sapu-sapu memang terlihat “berguna” karena membersihkan dasar perairan. Namun, di balik itu ada banyak dampak serius yang bikin spesies ini justru berbahaya bagi ekosistem dan manusia. Berikut beberapa alasan kenapa ikan sapu-sapu disebut hama.

  • Merusak keseimbangan ekosistem perairan

Ikan sapu-sapu termasuk spesies invasif yang tidak punya predator alami di perairan Indonesia. Akibatnya, populasinya bisa meningkat sangat cepat tanpa kontrol. Dalam kondisi seperti ini, ikan ini jadi mendominasi habitat dan mengganggu rantai makanan alami. Ikan endemik yang seharusnya berkembang jadi kalah bersaing, bahkan bisa terancam punah karena siklus regenerasinya terputus.

  • Merusak struktur sungai dan memicu banjir

Ikan sapu-sapu jantan punya kebiasaan membuat sarang dengan cara menggali lubang di tepi sungai. Kedalamannya bahkan bisa lebih dari satu meter. Kalau jumlahnya banyak, lubang-lubang ini bikin struktur tanah jadi rapuh dan berpori. Akibatnya, tebing sungai lebih mudah longsor, terjadi erosi, dan pendangkalan sungai yang pada akhirnya meningkatkan risiko banjir.

  • Berbahaya jika dikonsumsi manusia

Meski ada yang mencoba mengolahnya jadi makanan, sebenarnya ikan sapu-sapu berisiko tinggi untuk dikonsumsi. Sebagai pemakan dasar (benthic feeder), ikan ini menyerap berbagai polutan dari sedimen. Penelitian menunjukkan adanya kandungan logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium dalam tubuhnya, bahkan melebihi batas aman. Kalau dikonsumsi terus-menerus, zat ini bisa merusak organ tubuh, mulai dari ginjal hingga sistem saraf.

  • Sulit dikendalikan jika sudah menyebar luas

Begitu ikan ini berkembang pesat, penanganannya jadi jauh lebih sulit dan butuh biaya besar. Tanpa upaya pengendalian atau pemusnahan, dampaknya akan terus meluas. Karena itu, banyak ahli menyarankan langkah mitigasi seperti pengendalian populasi, regulasi ketat, hingga pemanfaatan alternatif non-konsumsi agar dampaknya bisa ditekan.

2. Cara mengendalikan populasi ikan sapu-sapu

Cara mengendalikan populasi ikan sapu-sapu
Petugas Gabungan Gelar Kerja Bakti Tangkap Ikan Sapu-sapu di depan Kali Mal Plaza Indonesia. (dok. Pemkot Jakpus)

Masalah ikan sapu-sapu tidak bisa diselesaikan dengan satu cara saja. Menurut Dr Charles PH Simanjuntak, pakar ikan dan konservasi ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB pengendalian yang paling efektif justru harus dilakukan secara terpadu. Berikut penjelasan lengkapnya.

  • Pencegahan sejak awal

Langkah pertama adalah mencegah penyebaran ikan sapu-sapu ke perairan alami. Ini bisa dilakukan lewat regulasi yang lebih ketat, terutama dalam perdagangan ikan hias.

Selain itu, penting juga meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melepas ikan sapu-sapu ke sungai atau danau. Untuk mendukung ini, teknologi seperti environmental DNA (eDNA) bisa dimanfaatkan sebagai sistem deteksi dini sehingga keberadaan ikan bisa diketahui sebelum populasinya melonjak.

  • Penangkapan yang selektif dan terarah

Kalau populasi sudah tinggi, penangkapan menjadi langkah yang perlu dilakukan. Namun, proses ini harus selektif, terutama dengan menargetkan ikan berukuran kecil (di bawah 30 sentimeter) agar lebih efektif menekan pertumbuhan populasi. Pelibatan masyarakat juga jadi kunci dalam metode ini, misalnya melalui perburuan berbasis komunitas.

Namun, agar dampaknya lebih signifikan, penangkapan harus dilakukan secara sistematis di sepanjang aliran sungai. Ikan yang sudah ditangkap pun perlu dimusnahkan untuk mencegah berkembang biak kembali.

  • Kontrol biologis (pemanfaatan predator alami)

Pendekatan terakhir adalah menggunakan predator alami seperti ikan baung dan betutu untuk membantu mengendalikan populasi. Meski begitu, metode ini hanya efektif pada fase awal kehidupan ikan sapu-sapu (juvenil). Karena itu, kontrol biologis tidak bisa berdiri sendiri dan tetap perlu dikombinasikan dengan pencegahan serta penangkapan.

Dengan berbagai dampak yang ditimbulkan, mulai dari merusak ekosistem hingga mengancam ikan lokal, sudah jelas kenapa ikan sapu sapu harus dimusnahkan. Upaya pengendalian ini bukan sekadar wacana, tapi langkah penting untuk menjaga keseimbangan perairan tetap terjaga.

FAQ seputar kenapa ikan sapu-sapu harus dimusnahkan

Kenapa ikan sapu-sapu dianggap berbahaya?

Karena ikan ini bersifat invasif, berkembang cepat, dan mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.

Apakah ikan sapu-sapu bisa menyebabkan banjir?

Bisa, karena kebiasaan menggali sarang di tepi sungai dapat merusak struktur tanah dan mempercepat erosi.

Apakah ikan sapu-sapu aman dikonsumsi?

Tidak direkomendasikan, karena berisiko mengandung logam berat seperti merkuri dan timbal.

Referensi

"Marak Berantas Ikan Sapu-Sapu di Jakarta, Pakar IPB University Sarankan Tiga Strategi Efektif". IPB University. Diakses April 2026.
"Lonjakan Populasi Ikan Sapu-Sapu Alarm Kerusakan Ekosistem Perairan Indonesia". UNAIR. Diakses April 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Lea Lyliana
EditorLea Lyliana
Follow Us

Latest in Science

See More