Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Ikan Sapu-Sapu Merusak Ekosistem? Ini Alasannya

Kenapa Ikan Sapu-Sapu Merusak Ekosistem? Ini Alasannya
ilustrasi ikan sapu-sapu (commons.wikimedia.org/Matthew Mannell)
Intinya Sih

  • Ikan sapu-sapu mengganggu rantai makanan dengan memakan sumber nutrisi organisme kecil, membuat aliran energi ekosistem jadi tidak seimbang.
  • Populasi ikan lokal terancam karena ikan sapu-sapu lebih kuat, cepat berkembang biak, dan memakan telur serta larva ikan lain.
  • Perilaku menggali dan mencari makan ikan sapu-sapu merusak habitat, meningkatkan kekeruhan air, serta mempercepat erosi tepi sungai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sapu-sapu dikenal sebagai ikan pembersih akuarium. Kemampuannya memakan lumut dan sisa kotoran membuat ikan ini bermanfaat. Namun, ketika berada di perairan alami, perannya justru berubah dan bisa menimbulkan berbagai gangguan pada lingkungan.

Kenapa ikan sapu-sapu merusak ekosistem? Beberapa penyebabnya karena ikan ini mengganggu rantai makanan, merusak habitat, hingga mengancam ikan lokal. Populasinya yang cepat dan daya tahannya yang tinggi juga membuatnya sulit dikendalikan. Untuk memahami lebih dalam dampaknya, simak penjelasan lengkapnya berikut.

Table of Content

Kenapa ikan sapu-sapu merusak ekosistem?

Kenapa ikan sapu-sapu merusak ekosistem?

Ikan sapu-sapu dapat merusak ekosistem perairan karena perilaku makan, reproduksi, dan adaptasinya yang sangat agresif. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh organisme air, tetapi juga lingkungan dan aktivitas manusia di sekitarnya. Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Mengganggu rantai makanan di perairan

Ikan sapu-sapu dikenal sebagai pemakan dasar (benthic feeder) yang mengonsumsi alga, detritus, lumpur, dan berbagai bahan organik di dasar perairan. Sekilas terlihat tidak berbahaya, tapi kebiasaan makan ini justru mengganggu keseimbangan rantai makanan. Ikan ini menghabiskan sumber makanan utama bagi organisme kecil seperti serangga air dan mikroorganisme yang menjadi pakan ikan lokal.

Akibatnya, ikan-ikan asli yang bergantung pada organisme tersebut kehilangan sumber makanan. Selain itu, nutrisi yang seharusnya mengalir ke berbagai tingkat trofik dalam rantai makanan justru “terjebak” dalam bentuk kotoran ikan sapu-sapu. Nutrisi ini hanya bisa dimanfaatkan oleh bakteri dan pengurai sehingga aliran energi dalam ekosistem jadi tidak seimbang.

2. Mengancam populasi ikan lokal

Ikan sapu-sapu memiliki ukuran tubuh yang lebih besar, daya tahan tinggi, dan kemampuan berkembang biak cepat. Hal ini membuatnya lebih unggul dibandingkan ikan lokal yang umumnya kecil, memiliki umur pendek, dan sensitif terhadap perubahan lingkungan. Akibatnya, terjadi persaingan tidak seimbang dalam memperebutkan makanan dan habitat.

Tidak hanya itu, sebagai pemakan dasar, ikan sapu-sapu juga berpotensi memakan telur dan larva ikan lain secara tidak sengaja. Dampaknya, regenerasi ikan lokal terganggu dan populasinya bisa terus menurun. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati di perairan.

3. Merusak habitat dan tumbuhan air

Kenapa Ikan Sapu-Sapu Merusak Ekosistem
ilustrasi ikan sapu-sapu (commons.wikimedia.org/5snake5)

Perilaku ikan sapu-sapu yang sering “mengaduk” dasar perairan saat mencari makan dapat merusak habitat alami. Mereka bisa mencabut atau merusak tanaman air yang berfungsi sebagai tempat berlindung, berkembang biak, dan sumber makanan bagi organisme lain. Tanaman yang rusak juga bisa membentuk lapisan di permukaan air yang menghalangi sinar matahari.

Dampak lainnya, kondisi ini membuka peluang bagi tumbuhan invasif untuk tumbuh lebih cepat. Ketika tanaman asli berkurang, keseimbangan ekosistem terganggu dan kualitas lingkungan perairan menurun. Habitat yang tadinya stabil berubah menjadi tidak ramah bagi banyak spesies.

4. Meningkatkan kekeruhan dan polusi air

Saat mencari makan, ikan sapu-sapu sering mengaduk lumpur dan sedimen di dasar perairan. Aktivitas ini menyebabkan partikel-partikel halus naik ke permukaan sehingga air menjadi keruh. Kekeruhan ini menghambat penetrasi cahaya matahari yang dibutuhkan tanaman air untuk fotosintesis.

Selain itu, sedimen yang terangkat juga membawa nutrisi berlebih seperti nitrogen dan fosfor. Hal ini bisa memicu ledakan alga (algal bloom) yang justru memperburuk kualitas air. Dalam kondisi tertentu, peningkatan alga dapat menurunkan kadar oksigen terlarut dan membahayakan organisme lain di perairan.

5. Menyebabkan erosi tepi sungai

Ikan sapu-sapu memiliki kebiasaan membuat lubang atau sarang di tepi sungai untuk berkembang biak. Jika jumlahnya banyak, lubang-lubang ini bisa membentuk koloni besar yang melemahkan struktur tanah di sekitar tepi sungai. Alhasil, tebing menjadi lebih mudah longsor, terutama saat hujan deras atau arus air meningkat.

Erosi ini tidak hanya merusak lingkungan fisik, tetapi juga meningkatkan jumlah sedimen di dalam air. Sedimentasi yang tinggi bisa menutup habitat dasar, mengganggu kehidupan organisme air, dan memperparah kekeruhan. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa mengubah bentuk dan karakteristik sungai itu sendiri.

Melihat berbagai dampaknya, kenapa ikan sapu-sapu merusak ekosistem tak lagi jadi hal yang bisa diabaikan. Kehadirannya bisa merusak lingkungan dan mengancam keberlangsungan ikan lokal.

FAQ seputar kenapa ikan sapu-sapu merusak ekosistem

Kenapa ikan sapu-sapu merusak ekosistem?

Karena mereka mengganggu rantai makanan, merusak habitat, dan mengalahkan ikan lokal dalam mencari makan.

Apakah ikan sapu-sapu berbahaya bagi ikan lain?

Ya, mereka bisa memakan telur dan larva ikan lain serta bersaing memperebutkan makanan.

Kenapa ikan sapu-sapu cepat berkembang biak?

Ikan ini tahan terhadap berbagai kondisi lingkungan dan memiliki tingkat reproduksi yang tinggi.

Referensi

Islam, Md Jakiul, Esrat Jahan Essu, Md. Forhad Hossain, Md. Ariful Islam, Sumit Kumer Paul, Md Afsar Ahmed Sumon, Mohammad Abu Jafor Bapary, and Hien Van Doan. “Can Invasive Suckermouth Catfish, Hypostomus Plecostomus , Be Used as Fishmeal? A Potential Solution to Eradicate It From the Buriganga River, Bangladesh.” Aquaculture Fish and Fisheries 6, no. 2 (March 23, 2026).
Killgore, K. Jack, Alfred F. Cofrancesco Jr, Jan Jeffrey Hoover, Environmental Laboratory, and Aquatic Nuisance Species Research Program. “Suckermouth Catfishes: Threats to Aquatic Ecosystems of the United States?,” February 1, 2004.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Lea Lyliana
EditorLea Lyliana
Follow Us

Latest in Science

See More