Comscore Tracker

7 Momen Penting yang Mendefinisikan Era 90-an, Apa Saja?

Dari runtuhnya Tembok Berlin sampai Bubble Dotcom

Setiap generasi sering meremehkan pendahulunya, tapi di sisi lain mengagungkan beberapa hal yang ada di masa itu. Misalnya, para Yuppie 1980-an yang tertarik dengan Hippie 1960-an. Contoh lainnya, dekade 2010-an yang terobsesi dengan hal-hal berbau 1990-an.

Ya, sejujurnya tahun 90-an cukup ideal untuk ditinggali, di mana orang-orang menganggapnya sebagai dekade yang cukup 'tenang'. Perang Dingin telah berakhir, era internet dimulai, dan demokrasi liberal siap untuk berkembang biak di mana saja.

Setidaknya ada beberapa hal yang mendefinisikan 1990-an, satu dekade yang lebih terasa seperti seabad silam daripada satu generasi yang lalu. Berikut daftarnya!

1. Runtuhnya Tembok Berlin

https://www.youtube.com/embed/RIUd5Cc3S6I

Pada awalnya, banyak yang menganggap 90-an mirip seperti dekade-dekade sebelumnya. Setidaknya sampai 9 November 1989 ketika Tembok Berlin diruntuhkan. Perang Dingin mencapai ujungnya, dan para warga Berlin Timur yang selama hampir tiga dekade terkurung kembali memeluk saudaranya di sisi lain dari tembok.

Uni Soviet memang bertahan selama dua tahun lagi, sampai 26 Desember 1991 ketika Gorbachev mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaannya kepada Boris Yeltsin. Malam itu, bendera Soviet diturunkan dari Kremlin dan diganti dengan bendera tiga warna Rusia.

2. Perang Teluk dan awal keangkuhan Amerika

7 Momen Penting yang Mendefinisikan Era 90-an, Apa Saja?Pasukan Amerika Serikat saat Perang Teluk Pertama (The Wall Street Journal)

Pada bulan Agustus 1990, pasukan Irak di bawah kepemimpinan Saddam Hussein menyerbu negara kecil di Teluk Persia, Kuwait. Tentu saja, Amerika Serikat dan NATO langsung bergerak, meskipun rasa takut akan kekalahan di Vietnam masih menghantui mereka.

Bagaimanapun, tentara Irak adalah yang terbesar kelima di dunia pada saat itu. Menurut data dari Britannica, Irak memiliki sekitar 950.000 personel, 5.500 tank, 10.000 kendaraan lapis baja, dan 4.000 artileri.

Namun apa yang terjadi selanjutnya adalah salah satu pertempuran paling berat sebelah dalam sejarah militer modern. Irak kehilangan 25.000 tentara dan diusir dari Kuwait pada akhir Februari 1991. 

Bagi Amerika, kemenangan atas Irak menegaskan mereka sebagai kekuatan terbesar dunia. Mereka pun menjadi angkuh, dan rasa-rasanya bisa mengawasi dunia. Sampai akhirnya mereka mengalami kegagalan militer di Mogadishu, Somalia, pada tahun 1993 atau yang lebih dikenal sebagai insiden "Black Hawk Down."

Persepsi Amerika yang tak terkalahkan pun mulai runtuh bersama dengan dua gedung pencakar langit terbesar di dunia pada 11 September 2001. Seketika, warga Amerika merasa tidak lagi aman di negaranya sendiri.

3. Nirvana dan apatisme anak muda

https://www.youtube.com/embed/hTWKbfoikeg

Kita mungkin setuju kalau ada banyak musisi yang membuat hits, tapi sedikit yang berhasil merubah paradigma musik. Pada 17 September 1991, Guns N' Roses merilis album ganda yang ambisius, Use Your Illusion I & II. Dua lagunya, November Rain dan Don't Cry sukses secara kritis dan komersial.

Namun seminggu kemudian, hegemoni mereka langsung runtuh. Pada tanggal 24 September, album Nevermind dari Nirvana menghancurkan musik glam rock yang sempat berjaya di tahun 80-an. Bahkan, video klip Smells Like Teen Spirit dianggap sebagai salah satu video paling berpengaruh secara kultural dalam sejarah musik. 

Tahun 90-an pun menjadi saksi dari kebangkitan era grunge, yang lekat dengan kemeja flanel dan kebencian terhadap bentuk maskulinitas konvensional. Bersama dengan Nirvana, band lain asal Seattle seperti Soundgarden, Pearl Jam, dan Alice in Chains turut memberikan pengaruh budaya di dekade 90-an.

4. Rap dari kaum kulit hitam menjadi musik mainstream

https://www.youtube.com/embed/mwgZalAFNhM

Awal tahun 1990-an adalah titik demarkasi untuk budaya kulit hitam di Amerika Serikat dan dunia, yang dimulai berkat hip-hop dan rap berbasis realitas. Biggie (The Notorious B.I.G.), Tupac Shakur, Wu-Tang Clan, dan Snoop Dogg membuat musik rap menjadi sesuatu yang mainstream dan diterima oleh banyak orang.

Meskipun rap telah dipelopori sejak tahun 80-an, genre ini baru meledak pada tahun 90-an dan akhirnya mengakar di tengah masyarakat Barat sampai saat ini. Bahkan jauh sebelum meledak, musik KPop yang hari ini terkenal lewat rapnya juga dipengaruhi oleh para musisi rap kulit hitam di dekade ini.

Baca Juga: 5 Macam Sistem Bilangan yang Tercatat Sepanjang Sejarah

5. Fight Club dan hinaan terhadap postmodernisme

7 Momen Penting yang Mendefinisikan Era 90-an, Apa Saja?Brad Pitt sebagai Tyler Durden di film "Fight Club" (BBC)

Hari ini, banyak orang yang cemas ketika melihat media sosial. Entah saat melihat sesuatu yang too good to be true atau memabca komentar menjengkelkan di suatu postingan. Tentunya, hal ini sangat jauh dari budaya 90-an. Lagipula, siapa yang peduli dengan apa yang mereka pikirkan?

Sikap acuh tak acuh di dekade 90-an lekat dengan Nirvana dan pentolannya, Kurt Cobain. Kecenderungan ini diperkuat dengan pidato dari karakter Tyler Durden (Brad Pitt) dalam film Fight Club yang dirilis pada tahun 1999.

Sebagai 'anak tengah' dalam sejarah, Durden menganggap kalau generasinya menghadapi perang besar berupa perang spiritual, di mana Depresi Hebat adalah hidup mereka. Kemarahan seperti ini akhirnya menular dan mewabah di tahun 90-an. 

Melakukan sesuatu dengan tujuan kekayaan atau pujian itu tidak keren. Orang seperti itu akan diberi label 'tidak autentik'. Pada akhirnya, apa yang dikatakan Durden adalah penghinaan terhadap nilai-nilai postmodernisme yang marak di dekade 90-an.

6. Francis Fukuyama dan "The End of History and the Last Man"

https://www.youtube.com/embed/b2-_FTpnMJ0

Runtuhnya Tembok Berlin dan Uni Soviet, Perang Teluk, serta era grunge dan apatisme anak muda. Sejauh ini dekade 90-an terdengar sangat nyentrik, bukan? Namun tunggu dulu, sampai kamu membaca The End of History and the Last Man karya Francis Fukuyama.

Diterbitkan pada tahun 1992, Fukuyama coba menyorot masa 90-an ketika demokrasi liberal menang telak atas komunisme gaya Soviet. Ia menyatakan bahwa dekade ini adalah titik akhir dari evolusi ideologis umat manusia, di mana universalisasi demokrasi liberal ala Barat sebagai bentuk akhir dari pemerintahan manusia.

Fukuyama berpendapat bahwa sejarah adalah proses evolusi, dan demokrasi liberal adalah yang terbaik—atau bentuk akhir—pemerintahan semua bangsa. Sebagai bukti, Fukuyama merujuk pada manfaat etis, politik, dan ekonomi progresif dari demokrasi liberal sejak akhir 1700-an.

Sejujurnya, Fukuyama memberikan banyak ruang dalam klaimnya. Menurut prediksinya, otoritarianisme akan muncul kembali, tetapi pada akhirnya akan dihentikan oleh demokrasi. Nyatanya, sekarang ada radikalisme agama, Uni Soviet 2.0 ala Vladimir Putin, dan erosi demokrasi di negara-negara barat.

7. Dotcom Bubble

https://www.youtube.com/embed/25_WjiZnvQk

Untuk alasan yang bagus, tahun 90-an dipenuhi dengan keangkuhan. Dotcom Bubble adalah bukti lainnya. Saat internet mulai terbentuk, potensinya terlihat jelas. Inilah platform untuk mempromosikan produk, berbagi informasi, dan meningkatkan kehidupan konsumen. 

Singkatnya, gelembung Dot-Com pada tahun 90-an disebabkan oleh menjamurnya situs web dari banyak perusahaan tanpa tahu cara memonetisasinya. Ketika indeks saham NASDAQ yang didominasi oleh perusahaan teknologi terus melesat dari tahun 1995 sampai 2000, ekuitas saham pun "menggelembung" dan akhirnya pecah.

Resesi di awal 2000-an akhirnya mengembalikan mereka yang berkhayal kembali ke realita. Banyak situs web yang dengan cepat menghilang pula. Ingatkah Pets.com? Webvan.com? eToys.com atau Flooz.com. Tidak ingat juga, bukan?

Meskipun dikenal sebagai dekade yang penuh nostalgia, tahun 1990-an juga memiliki banyak sisi buruk yang ikut membentuknya. Mulai dari perang, ledakan budaya baru, hingga 'bubble teknologi', banyak hal yang terjadi di masa transisi ini.

Baca Juga: 10 Kegiatan Anak Generasi 90an Setelah Pulang Sekolah, Nostalgia!

Shandy Pradana Photo Verified Writer Shandy Pradana

"I don't care that they stole my idea. I care that they don't have any of their own." - Tesla // I am a 20% historian, 30% humanist and 50% absurdist // For further reading: linktr.ee/pradshy

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Debby Utomo

Berita Terkini Lainnya