Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tarsius: Primata Kecil yang Memilih Bunuh Diri Saat Stres
Tarsius (commons.wikimedia/James)
  • Tarsius adalah primata kecil bermata besar yang hidup di hutan Asia Tenggara, memiliki anatomi unik seperti kepala bisa berputar 180 derajat dan ekor panjang bersisik.
  • Sebagai satu-satunya primata karnivora, tarsius memangsa serangga hingga burung dengan kemampuan melompat tinggi serta cengkraman kuat dari ujung jarinya yang menyerupai cakram.
  • Tarsius sangat sensitif terhadap stres; di penangkaran mereka sering membenturkan kepala atau mogok makan hingga mati karena tidak tahan terhadap cahaya, kebisingan, dan sentuhan manusia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tarsius si primata mungil dengan mata besar yang mencolok ini hidup di tengah rimbunnya hutan hujan Asia Tenggara. Bukan sekadar primata biasa, tarsius adalah satu-satunya primata karnivora. Meskipun menghabiskan waktunya di pepohonan, namun tarsius tidak menyentuh daun atau buah-buahan untuk di makan.

Lebih dari itu, tarsius adalah makhluk dengan tingkat sensitivitas psikologis yang luar biasa. Bahkan ancaman bunuh diri pun nyata mereka lakukan. Melalui artikel ini kita akan berkenalan lebih dalam dengan tarsius, primata kecil yang rentan bunuh diri.

1. Anatomi tarsius si pemilik mata raksasa

Tarsius (commons.wikimedia/Sakurai)

Sebagai anggota famili Tarsiidae, tarsius merupakan kelompok primata kecil yang terdiri dari 13 spesies dengan habitat spesifik di Kepulauan Asia Tenggara, salah satunya Filipina. Secara taksonomi, primata ini berada di antara lemur dan monyet. Ukuran tubuhnya pun sangat mungil hanya 9-16 cm, tidak termasuk ekor yang panjangnya sekitar dua kali lipat.

Sekilas tarsius terlihat seperti lemur karena cenderung aktif di malam hari dan memiliki indra penciuman yang sangat baik. Sementara itu, tarsius tampak seperti monyet dan kera karena mereka memiliki hidung yang kering dan berbulu, bukan lembap dan botak seperti lemur.

Ciri khas paling mencolok terlihat pada sepasang matanya yang besar. Bahkan, ukuran satu bola mata tarsius lebih besar daripada volume otaknya sendiri. Otak kecil tarsius memiliki korteks visual yang sangat besar untuk memproses informasi dari mata besarnya.

Tubuh tarsius juga dilengkapi tulang pergelangan kaki yang sangat panjang, tubuh pendek dan kepala yang dapat diputar 180 derajat. Begitupun dengan wajahnya yang terlihat pendek, telinga besar dan berselaput yang hampir selalu bergerak. Bulunya tebal, halus, dan berwarna abu-abu hingga cokelat tua. Jika diamati, ekor tarisus bersisik di bagian bawah layaknya ekor tikus.

2. Satu-satunya primata karnivora

Tarsius (commons.wikimedia/James)

Tarsius merupakan karnivora sejati, mereka umumnya memangsa serangga, kadal, kelelawar, katak, burung dan ular. Saat bertengger tegak di pepohonan, tarsius mengandalkan ekornya sebagai tumpuan kokoh yang menekan batang kayu. Kemampuan cengkraman mereka pun semakin luar biasa berkat ujung jari yang melebar menyerupai cakram untuk memperkuat daya cengkram. Tarsius bergerak di hutan dengan melompat dari batang pohon ke batang pohon lainnya, didorong oleh tungkai belakangnya yang sangat memanjang.

Anatomi mulut tarsius dilengkapi dengan rahang dan gigi yang kuat serta mulut lebar untuk ukuran tubuhnya yang kecil. Tidak heran kalau tarsius mampu memangsa hewan yang lebih besar.

Bisa dibilang tarsius termasuk predator penyergap yang handal, mereka menunggu mangsa mendekat dengan tenang, bahkan mampu menangkap burung dan kelelawar langsung dari udara.

3. Tarsius dikenal rentan stress hingga risiko bunuh diri

Tarsius (commons.wikimedia/James)

Karakteristik habitat dan kebutuhan pangan yang sangat spesifik menjadikan upaya penangkaran tarsius sangat sulit dilakukan. Hal ini dibuktikan dari tingkat keberlangsungan hidup yang rendah. Artinya, hanya sekitar separuh dari populasi tarsius di fasilitas penangkaran yang mampu bertahan hidup.

Tarsius yang hidup di kandang atau penangkaran cenderung mengalami stres. Faktor pemicu stresnya pun beragam mulai dari cahaya, kebisingan manusia, dan sentuhan yang membuat tarsius kurang nyaman.

Ketika dirinya merasa stres, tarsius akan membenturkan tengkorak tipisnya ke pohon, lantai, atau dinding kandang. Kekerasan yang tarsius lakukan pada dirinya sendiri adalah bentuk pelarian dari rasa takut yang luar biasa atau lingkungan yang membuatnya kurang nyaman.

Tidak hanya melukai diri sendiri sampai mati, seringkali tarsius menunjukkan perilaku mogok makan hingga sistem imun tubuhnya menurun dan mati dalam waktu singkat.

Tarisus merupakan primata dengan ciri khas mata besar dan satu-satunya primata karnivora. Tarsius menghabiskan hidupnya di alam bebas, kehidupan di kandang atau penangkaran adalah ancaman nyata bagi tarsius karena bisa memicu stres yang berakhir bunuh diri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team