Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi sarang burung
ilustrasi sarang burung (commons.wikimedia.org/Christine Matthews)

Intinya sih...

  • Burung tidak selalu bersarang di pohon, tetapi menyesuaikan lokasi dengan habitatnya.

  • Tanah, tebing, perairan, dan bangunan bisa menjadi alternatif sarang yang aman.

  • Pemilihan lokasi sarang dipengaruhi oleh perlindungan predator dan adaptasi lingkungan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Burung tidak selalu membangun sarang di pepohonan meski anggapan tersebut masih umum dalam masyarakat. Berbagai spesies burung tercatat memilih lokasi alternatif sebagai tempat berkembang biak. Itu karena kondisi habitat, tekanan predator, dan perubahan bentang alam akibat aktivitas manusia.

Tempat menemukan sarang burung selain pohon bisa dijumpai di area terbuka, perairan, hingga bangunan yang ada di sekitar manusia. Fenomena ini sering terlihat di sekitar permukiman, wilayah perairan, hingga area terbuka tanpa vegetasi tinggi. Penjelasan berikut memaparkan fakta ilmiah mengenai lokasi-lokasi tersebut berdasarkan karakter habitat dan perilaku burung.

1. Permukaan tanah dipilih sesuai karakter habitat alami

ilustrasi sarang burung (commons.wikimedia.org/Shpowell)

Sejumlah spesies burung membangun sarang di permukaan tanah karena hidup di habitat terbuka yang tidak menyediakan struktur vertikal. Burung cerek (plover), camar pantai, bebek liar, dan kalkun liar ditemukan berkembang biak di padang rumput, pantai berpasir, dan lahan basah dangkal. Habitat tersebut secara alami minim pepohonan sehingga lokasi sarang menyesuaikan kondisi lingkungan sekitar.

Sarang di tanah umumnya berupa cekungan dangkal yang terbentuk dari pasir, tanah, atau kerikil. Lapisan tambahan, seperti rumput kering dan daun, berfungsi sebagai alas telur. Telur burung memiliki pola warna menyerupai substrat lingkungan sehingga mengurangi kemungkinan terdeteksi predator. Jadi, perlindungan sarang lebih bergantung pada kamuflase dibandingkan posisi vertikal.

2. Lubang tanah dan tebing berfungsi sebagai pelindung alami

ilustrasi sarang burung (commons.wikimedia.org/Walter Baxter)

Sejumlah spesies burung bersarang di lubang tanah atau tebing karena karakter fisik lokasi tersebut relatif stabil sepanjang musim bertelur. Raja udang, layang-layang tebing, dan burung hantu tanah membuat liang di tanah lunak atau memanfaatkan lubang yang sudah ada. Habitat semacam ini umumnya ditemukan di bantaran sungai, tepi danau, serta lereng berpasir.

Ruang di dalam tanah memiliki suhu dan kelembapan yang lebih konstan dibandingkan lingkungan terbuka. Posisi sarang juga terlindung dari hujan langsung dan sulit dijangkau predator udara. Kondisi tersebut membuat lubang tanah dan tebing menjadi lokasi efektif untuk menyimpan telur selama masa inkubasi.

3. Celah bebatuan dan tebing curam mendukung hidup berkoloni

ilustrasi sarang burung (commons.wikimedia.org/ Charles J. Sharp )

Celah bebatuan dan tebing curam sering dimanfaatkan burung laut serta burung pemanjat cepat sebagai lokasi bersarang karena aksesnya terbatas bagi predator darat. Tebing batu, dinding karang, serta ceruk alami menyediakan permukaan sempit untuk meletakkan telur tanpa perlu struktur sarang kompleks. Kondisi geografis ini mengurangi risiko gangguan dari mamalia pemangsa.

Habitat tersebut umum dijumpai di wilayah pesisir, pulau berbatu, dan kawasan pegunungan. Sarang pada celah batu biasanya sangat sederhana karena permukaan alami sudah cukup menopang telur. Banyak spesies di habitat ini bersarang berdekatan dalam satu area karena ketersediaan ruang aman terbatas pada lokasi tertentu.

4. Permukaan air dan lumpur digunakan di wilayah perairan dangkal

ilustrasi sarang burung (commons.wikimedia.org/Christine Matthews)

Burung air membangun sarang di permukaan air atau lumpur pada habitat perairan dangkal, seperti rawa, danau, dan laguna. Titihan (grebe), mandar-hitam (coot), dan flamingo menggunakan vegetasi air, ranting, serta lumpur basah sebagai alas sarang untuk meletakkan telur. Pemilihan lokasi tersebut berkaitan langsung dengan karakter lingkungan perairan tempat spesies tersebut hidup.

Sarang terapung biasanya diikat atau tersangkut pada tanaman air agar posisinya tetap stabil. Ketinggian sarang mengikuti perubahan muka air sehingga telur tidak mudah terendam. Struktur sarang bersifat sederhana dan disesuaikan dengan kondisi perairan di sekitarnya.

5. Bangunan buatan manusia menjadi lokasi bersarang baru

ilustrasi sarang burung (commons.wikimedia.org/Snežana Lukić)

Burung di wilayah perkotaan menggunakan bangunan sebagai tempat bersarang karena ketersediaan struktur pengganti habitat alami. Gedung bertingkat, kolong atap, jembatan, dan tiang lampu menyediakan permukaan keras, celah sempit, serta posisi tinggi yang sesuai untuk peletakan sarang. Kondisi tersebut menyerupai tebing atau lubang alami yang sebelumnya tersedia di alam terbuka.

Spesies seperti walet, burung gereja, merpati, dan burung hantu gudang tercatat rutin berkembang biak di bangunan aktif maupun bangunan terbengkalai. Lokasi tersebut relatif terlindung dari hujan langsung dan paparan Matahari berlebih. Aktivitas manusia yang rendah di area tertentu turut menurunkan risiko gangguan selama masa pengeraman telur.

Informasi mengenai tempat menemukan sarang burung, selain pohon, menunjukkan bahwa lokasi berkembang biak burung tidak terbatas pada struktur vegetasi tinggi. Variasi lokasi sarang dipengaruhi oleh habitat, tekanan predator, dan perubahan lingkungan alami serta buatan. Pemahaman ini membantu membaca pola adaptasi burung di alam terbuka maupun kawasan terbangun secara lebih akurat.

Referensi
"9 Different Types of Bird Nests and How to Spot Them". Birds and Bloom. Diakses Januari 2026.
"10 Different Bird Nests And How To Spot Them". Birdfy. Diakses Januari 2026.
"A guide to bird nests: how, where and why birds make nests". Discover Wildlife. Diakses Januari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎