Sanggring merupakan tradisi khas masyarakat di Jawa yang biasanya dilakukan pada malam ke-23 Ramadan. Nama “Sanggring” sendiri berasal dari kata “sang” yang berarti raja dan “gering” yang berarti sakit. Tradisi ini berkaitan dengan kisah masa lalu ketika masyarakat mencari obat bagi seorang raja yang sakit.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat menyiapkan hidangan khas berupa kolak ayam, yaitu makanan berbahan ayam dan santan yang memiliki rasa manis dan gurih. Hidangan ini kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol kebersamaan sekaligus doa agar diberi kesehatan dan keberkahan pada malam-malam penuh kemuliaan Ramadan.
Tradisi malam Lailatul Qadar di Indonesia di atas menunjukkan setiap daerah memiliki cara khas menyambut malam penuh berkah ini. Selain menjadi warisan budaya, tradisi ini juga menguatkan kebersamaan warga. Kalau di tempat tinggalmu, apakah ada tradisi khusus untuk menyambut malam Lailatul Qadar?
Mengapa masyarakat Indonesia memiliki tradisi menyambut Lailatul Qadar? | Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk syukur, doa, dan harapan agar mendapatkan keberkahan pada malam Lailatul Qadar. |
Apa saja contoh tradisi malam Lailatul Qadar di Indonesia? | Beberapa contoh tradisi yang sering dilakukan antara lain Selikuran di Jawa, Nujuh Likur di daerah Melayu, Kenduri atau doa bersama, hingga tradisi menyalakan obor seperti Damar Malam. |
Kapan biasanya tradisi malam Lailatul Qadar dilakukan? | Tradisi ini biasanya dilakukan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil seperti malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29. |
Referensi
"Tradisi Khas Malam Selikuran (21 Ramadhan) di Dusun Lumbu Desa Lumansari". Desa dan Kelurahan Kabupaten Kendal. Diakses Maret 2026.
"Memaknai Tradisi Nujuh Likur". Diskominfotik Kabupaten Bengkalis. Diakses Maret 2026.
"Kenduri Seni". Kecamatan Jebres. Diakses Maret 2026.
"Kolak Ayam (Sanggring)". Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Gresik. Diakses Maret 2026.