Referensi
"Tradisi Khas Malam Selikuran (21 Ramadhan) di Dusun Lumbu Desa Lumansari". Pemerintah Kabupaten Kendal Desa Lumansari. Diakses Maret 2026.
"Adat dan Makna Malam Selikuran Pada Bulan Puasa". Kalurahan Tepus. Diakses Maret 2026.
"Malem Selikuran, Sebuah Warisan Tradisi Menyambut Malam Seribu Bulan". Kalurahan Tepus. Diakses Maret 2026.
Apa Itu Malam Selikuran? Tradisi Menyambut Lailatul Qadar

Malam Selikuran adalah tradisi masyarakat Jawa yang digelar pada malam ke-21 Ramadan untuk menyambut 10 malam terakhir, termasuk kemungkinan datangnya Lailatul Qadar.
Tradisi ini diisi dengan doa bersama, kenduri, dan kebersamaan warga sebagai simbol solidaritas serta pelestarian budaya lokal.
Berasal dari masa penyebaran Islam oleh Wali Songo, Malam Selikuran menjadi sarana dakwah budaya yang mengajak umat memperbanyak ibadah dan refleksi diri menjelang akhir Ramadan.
Bulan Ramadan selalu dipenuhi dengan berbagai tradisi yang sarat makna, terutama di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga sekarang adalah Malam Selikuran. Tradisi ini identik dengan kebersamaan, doa, dan kegiatan keagamaan menjelang 10 malam terakhir Ramadan.
Sebenarnya apa itu Malam Selikuran? Ini merupakan kebiasaan masyarakat Jawa yang dilakukan pada malam ke-21 Ramadan sebagai bentuk penyambutan terhadap 10 malam terakhir yang penuh keutamaan, termasuk kemungkinan datangnya Lailatul Qadar. Untuk memahami makna, tradisi, dan asal-usulnya lebih dalam, simak penjelasan berikut.
Table of Content
1. Apa itu Malam Selikuran?
Malam Selikuran adalah tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan pada malam ke-21 bulan Ramadan. Kata selikuran berasal dari bahasa Jawa, yaitu selikur yang berarti angka 21. Malam ini dianggap istimewa karena menandai dimulainya 10 malam terakhir Ramadan yang diyakini sebagai waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah dan mencari Lailatul Qadar.
Dalam tradisi Jawa, Malam Selikuran biasanya dirayakan dengan kegiatan berkumpul bersama warga untuk mengadakan doa bersama atau kenduri. Setiap orang membawa nasi dan lauk dari rumah masing-masing, lalu disantap bersama setelah doa selesai. Kegiatan ini dipimpin oleh tokoh agama atau pemimpin doa setempat. Dilakukan juga pembacaan doa untuk memohon keberkahan, keselamatan, serta kelancaran dalam menjalankan ibadah selama Ramadan.
Lebih dari sekadar tradisi makan bersama, Malam Selikuran juga memiliki makna kebersamaan dan solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat. Tradisi ini menjadi momen bagi warga untuk mempererat hubungan, saling berbagi, sekaligus melestarikan budaya lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
2. Asal-usul malam selikuran
Tradisi Malam Selikuran diyakini sudah ada sejak awal penyebaran Islam di tanah Jawa. Konon, tradisi ini diperkenalkan oleh para Wali Songo sebagai salah satu cara berdakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan budaya masyarakat Jawa. Melalui pendekatan budaya tersebut, masyarakat diajak memahami makna penting 10 malam terakhir Ramadan sebagai waktu mencari malam Lailatul Qadar.
Pada masa lalu, perayaan Malam Selikuran bahkan digelar dengan meriah dan melibatkan banyak pihak, termasuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Seiring waktu, tradisi Selikuran berkembang menjadi kegiatan keagamaan sekaligus budaya yang mengajak masyarakat memperbanyak ibadah, bersedekah, dan melakukan introspeksi diri pada penghujung Ramadan. Tradisi ini menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT serta meningkatkan amal ibadah pada 10 malam terakhir bulan Ramadan.
Itulah ulasan apa itu malam selikuran, tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan untuk menyambut malam-malam istimewa pada akhir Ramadan. Selain menjadi momen kebersamaan, tradisi ini juga mengajak umat Muslim untuk memperbanyak ibadah dan refleksi diri. Siap menyambutnya?
FAQ seputar apa itu malam selikuran
| Apa yang dimaksud dengan Malam Selikuran? | Malam Selikuran adalah tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan pada malam ke-21 bulan Ramadan untuk menyambut 10 malam terakhir. |
| Apa saja kegiatan yang dilakukan saat Malam Selikuran? | Biasanya masyarakat mengadakan doa bersama, kenduri, serta makan bersama dengan membawa nasi dan lauk sebagai simbol kebersamaan. |
| Apa tujuan diadakannya tradisi Malam Selikuran? | Tradisi ini bertujuan untuk mengingatkan umat Muslim agar memperbanyak ibadah, sedekah, dan doa pada sepuluh malam terakhir Ramadan. |



















![[QUIZ] Dari Struktur Protein yang Kamu Pilih, Ini Caramu Hadapi Tantangan](https://image.idntimes.com/post/20240905/atom-1222511-4c4e0935346233c8fec14261a45ff371-87d5722f9661fd12ae58e03548ebf261.jpg)