Comscore Tracker

5 Fakta Kehidupan Lawas di Korea menurut KDrama Pachinko

Di era kolonial Jepang, warga Korea gak bisa makan nasi!

Telah tamat pada Jumat (29/4), KDrama Pachinko besutan AppleTV+ yang dibintangi Lee Min Ho sukses curi atensi pencinta KDrama.

Tayang 25 Maret, KDrama yang diadaptasi dari novel judul serupa ini mengisahkan cerita tentang zanichi, masyarakat etnis Korea yang bermigrasi ke Jepang di era kolonial pada tahun 1910-1945.

Melalui Pachinko, setidaknya penonton dapat mengetahui situasi kehidupan yang dijalani masyarakat Korea di bawah kekuasaan Jepang yang telah dirangkum sebagai berikut. Sstt, bagi yang belum nonton, artikel ini mengandung spoiler alert, ya!

1. Masyarakat hidup dari hasil bertani

5 Fakta Kehidupan Lawas di Korea menurut KDrama PachinkoIlustrasi penduduk yang sedang bertani (dok. AppleTV+/Pachinko)

Mungkin kamu tidak heran saat melihat ilustrasi di episode 1 yang menggambarkan ayah Sunja sedang bertani bersama penduduk lainnya. Faktanya, sebelum adanya industrialisasi, bertani memang merupakan hal yang lazim dilakukan sebagian besar masyarakat di dunia untuk menyambung hidup. Hingga memasuki abad ke-20 pun, masyarakat di Asia termasuk Korea juga kebanyakan masih bermatapencaharian sebagai petani.

Dilansir britannica, di bawah kekuasaan Jepang, tanah-tanah milik penduduk banyak yang dirampas atau terpaksa dijual murah kepada pemerintah kolonial. Alhasil para petani kehilangan tanah mereka dan harus membayar sewa atas tanah yang mereka gunakan untuk bertani. Selain itu, mereka juga kerap dikenakan pajak yang tidak masuk akal dan diwajibkan untuk bekerja membangun proyek irigasi Jepang.

Menurut sejarah yang dikutip dari jurnal berjudul Colonial Modernity and Rural Markets during the Japanese Colonial Period yang ditulis oleh Hur Young Ran, untuk dapat bertahan hidup dan membayar sewa, para petani menjual hasil tani seperti biji-bijian, ternak, sayuran, serta kayu bakar di changsi, pasar yang diceritakan selalu didatangi Sunja untuk membeli kebutuhan pangan keluarganya. Demi menambah pemasukan, tak sedikit pula petani yang harus bekerja sampingan, paruh waktu, atau menjadi buruh temporer.

2. Institusi pendidikan wajib menggunakan bahasa Jepang dalam kegiatan sehari-hari

5 Fakta Kehidupan Lawas di Korea menurut KDrama PachinkoIlustrasi penggunaan bahasa Jepang dalam surat pribadi (dok. AppleTV+/Pachinko)

Disamping fakta bahwa Pachinko merupakan drama tiga bahasa, tahukah kamu mengapa drama ini sangat banyak menggunakan percakapan dalam bahasa Jepang? Mulai dari Koh Hansu, Isak, bahkan penjahit baju mereka pun menggunakan bahasa Jepang padahal mereka semua merupakan orang Korea.

Dilansir History, hal itu dikarenakan selama masa pendudukannya di Korea pada tahun 1910-1945, Jepang berusaha menghapus seluruh sejarah, bahasa, serta kebudayaan Korea. Karena itu, sekolah-sekolah dan universitas di Korea wajib menggunakan bahasa Jepang sebagai bahasa pengantar mereka. Di beberapa tempat umum, penggunaan bahasa Jepang juga merupakan sebuah keharusan, disusul dengan maklumat yang mewajibkan pembuatan film dalam bahasa Jepang.

Tak berhenti sampai di situ, mengajarkan sejarah bangsa Korea dari teks yang tidak disetujui Jepang pun menjadi sebuah tindakan kriminal bagi siapapun yang melakukannya. Usut punya usut, demi menghapuskan seluruh sejarah Korea, pemerintah Jepang bahkan sampai memusnahkan 200.000 dokumen historis Korea.

3. Masyarakat dilarang mengenakan hanbok putih

5 Fakta Kehidupan Lawas di Korea menurut KDrama PachinkoSunja mengenakan Hanbok biru (dok. AppleTV+/Pachinko)

Menurut Professor dari Department of Fashion Design Universitas Chung-Ang, Hwang Oak Soh, jauh sebelum Jepang menguasai Semenanjung Korea, negara ini telah lebih dulu dikenal sebagai white clothing nation karena tradisi masyarakatnya yang selalu mengenakan pakaian berwarna putih. Namun jika kamu perhatikan, masyarakat Korea di Pachinko tidak ada yang mengenakan hanbok berwarna putih, lho. Ternyata pemerintah Jepang juga menjadi alasan dibalik hal ini.

Dikutip dari jurnal Joseon in Color: “Colored Clothes Campaign” and the “White Clothes Discourse” yang ditulis oleh Seokhee Kim, setelah resmi menganeksasi Korea, pemerintah Jepang menciptakan kebijakan yang melarang penggunaan baju putih dan mendorong (atau lebih tepatnya memaksa) masyarakat Korea untuk memakai baju berwarna karena warna putih dianggap sebagai warna yang merepresentasikan kelemahan dan ketidakberdayaan.

Hal yang dikenal dengan Colored Clothes Campaign ini menjadi sebuah tindakan penindasan dan pemaksaan pada tahun 1932 yang ditentang keras oleh masyarakat Korea.

Namun pemerintah Jepang berdalih bahwa kebijakan ini didasari atas kepercayaan bahwa pakaian berwarna putih tidak 'ekonomis' dan harus ditransformasi melalui proses 'modernisasi.' Karena kebijakan ini, penggunaan pakaian putih dapat dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap imperialisme Jepang.

Baca Juga: 5 Alasan Kamu Harus Nonton Pachinko, Buat Pencinta Drama Korea

4. Masyarakat yang dianggap memberontak akan dihukum

5 Fakta Kehidupan Lawas di Korea menurut KDrama PachinkoIlustrasi penangkapan pembelot oleh polisi Jepang (dok. AppleTV+/Pachinko)

Dalam Pachinko, seluruh warga Korea digambarkan hidup dalam ketakutan atas kekejaman rezim pemerintah Jepang pada saat itu. Karenanya, mereka sangat berhati-hati dalam berbicara maupun bertindak. Jika tidak, benar atau salah mereka akan ditangkap karena dianggap melakukan pemberontakan, seperti ahjussi nelayan penghuni pondok penginapan ayah dan ibu Sunja yang ditangkap karena tak sengaja berbicara soal pemberontakan saat sedang mabuk.

Menurut jurnal yang dimuat dalam International Journal of Korean History, penggambaran tersebut ternyata dilatarbelakangi oleh sejarah dimana pada Januari 1919 para pelajar Korea yang mengenyam pendidikan di Tokyo menuntut kemerdekaan Korea dari Imperium Jepang. Hal itu mendorong 33 aktivis untuk mendeklarasikan kemerdekaan Korea sebagai bentuk determinasi diri pada bulan Maret di tahun yang sama yang dikenal dengan March 1st Movement (Sam-il Movement).

Berkat peristiwa tersebut, aksi demonstrasi damai yang menuntut kemerdekaan Korea mulai menjaring seluruh negeri. Sayangnya para polisi Jepang menanggapi seluruh protes tersebut dengan penangkapan, penyiksaan, dan pemberian hukuman penjara bagi para demonstran. Akibat dari peristiwa ini, semua masyarakat Korea yang tinggal di tanah air mereka sendiri maupun di Jepang dianggap sebagai ancaman bagi perekonomian dan ketertiban hukum Jepang.

Karena itu, hanya dengan satu provokasi saja, cap buruk yang disematkan pada masyarakat Korea sebagai kaum subversif dan kriminal menjadi sebuah legitimasi tak hanya bagi otoritas keamanan tetapi juga masyarakat Jepang untuk menangkap atau melakukan tindakan main hakim sendiri terhadap masyarakat Korea.

5. Masyarakat tak bisa konsumsi nasi

5 Fakta Kehidupan Lawas di Korea menurut KDrama PachinkoIlustrasi menanak nasi putih yang sangat berharga di Korea (dok. AppleTV+/Pachinko)

Mungkin di dalam benakmu masih tersimpan pertanyaan mengapa di hari pernikahan Sunja, ibunya melakukan tawar-menawar yang alot dengan penjual beras hanya untuk membeli dua mangkuk beras. Ternyata hal tersebut juga berhubungan dengan kondisi perekonomian Jepang di tengah Perang Dunia I.

Dikutip dari situs Lib Com, saat itu Jepang tengah mengalami inflasi akibat perang yang diperparah dengan adanya spekulasi komoditas sehingga berakibat pada melambungnya harga barang-barang konsumsi terutama beras. Hal tersebut mengundang kemarahan masyarakat Jepang dan menyebabkan protes berujung kerusuhan yang dikenal dengan peristiwa Rice Riots.

Menurut publikasi Food 52, di masa sulit tersebut Jepang memanfaatkan tanah Korea yang subur untuk meningkatkan produksi beras dengan meminta para petani Korea untuk menanam lebih banyak padi. Ironisnya, mereka yang menanam padi bahkan tak dapat menikmati hasil panennya sendiri karena beras mereka sebagian besar harus diekspor ke Jepang.

Sebagai alternatif untuk mencukupi kebutuhan pangan masyarakat Korea, pemerintah Jepang mengimpor biji-bijian pengganti beras seperti milet, jagung, dan sorgum. Maka dari itu, memakan nasi putih merupakan fenomena yang hampir tak mungkin dirasakan masyarakat Korea pada saat itu.

Nah, usai penayangan episode terakhirnya, Soo Hugh selaku produser eksekutif dari KDrama Pachinko telah mengkonfirmasi bahwa kisah perjuangan multigenerasi keluarga Sunja akan berlanjut ke season yang akan datang. Jadi bagi kamu yang belum puas menonton sejarah dan kisah mengharukan dari para zanichi ini, nantikan kisah lanjutan mereka di Pachinko season 2, ya!

Baca Juga: Dikonfirmasi Season 2, 11 Potret di Balik Layar Drama Korea Pachinko

Trisha Caicartica Photo Writer Trisha Caicartica

always have an urge to write📝

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Debby Utomo

Berita Terkini Lainnya