Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi bioluminescence (unsplash.com/David Clode)
ilustrasi bioluminescence (unsplash.com/David Clode)

Intinya sih...

  • Biophoton dan proses biologis - Proses biologis menghasilkan cahaya lemah yang disebut biophoton. - Reactive oxygen species (ROS) diduga sebagai sumber pancaran cahaya ini.

  • Eksperimen pada tikus dan tumbuhan - Eksperimen dilakukan pada tikus hidup dengan kamera sensitif. - Pancaran cahaya berkurang drastis setelah organisme mati, menunjukkan keterkaitan dengan kehidupan.

  • Cahaya meredup setelah kematian - Foton individual menurun drastis setelah organisme mati. - Tanaman juga menunjukkan perubahan emisi cahaya saat stres biologis meningkat.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menurut sains, hidup ternyata memancarkan cahaya. Sebuah studi dari peneliti University of Calgary dan National Research Council of Canada menemukan bukti fisik langsung bahwa makhluk hidup menghasilkan pancaran cahaya sangat lemah yang dikenal sebagai biophoton. Pancaran cahaya ini berhenti saat kematian terjadi.

Melalui eksperimen pada tikus serta daun dari dua spesies tanaman, para ilmuwan mengamati bahwa “cahaya kehidupan” tersebut lenyap seiring berhentinya proses biologis. Hal ini membuka kemungkinan bahwa tubuh manusia pun sebenarnya bercahaya selama masih hidup.

Meski sekilas terdengar seperti sains fiksi yang kerap dikaitkan dengan aura atau fenomena paranormal, temuan ini justru berakar pada pengukuran fisika yang ketat dan dapat diverifikasi secara ilmiah. Penelitian ini diterbitkan dalam The Journal of Physical Chemistry Letters pada Mei 2025.

1. Biophoton dan proses biologis

Secara ilmiah, konsep biophoton memang masih tergolong kontroversial, tetapi bukan tanpa pijakan riset. Sejumlah proses biologis sudah lama diketahui mampu menghasilkan cahaya melalui mekanisme kimia tertentu, seperti kemiluminesensi.

Selain itu, selama beberapa dekade terakhir, para peneliti juga mencatat adanya pancaran cahaya spontan dari sel hidup dengan panjang gelombang sekitar 200 hingga 1.000 nanometer. Fenomena ini teramati pada berbagai sistem biologis yang sangat beragam, mulai dari jaringan jantung sapi hingga koloni bakteri, meskipun intensitasnya sangat lemah dan tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Salah satu kandidat terkuat sebagai sumber pancaran ini adalah aktivitas reactive oxygen species (ROS). Ini merupakan molekul reaktif yang secara alami diproduksi sel saat mengalami stres, seperti paparan panas, racun, patogen, atau kekurangan nutrisi.

Ketika ROS bereaksi dengan lemak dan protein di dalam sel, elektron bisa terdorong ke tingkat energi yang lebih tinggi. Saat elektron tersebut kembali ke kondisi stabil, energi dilepaskan dalam bentuk foton. Kilatan cahaya mikroskopis inilah yang diduga menjadi jejak fisik dari proses metabolisme dan kehidupan di tingkat sel.

2. Eksperimen pada tikus dan tumbuhan

ilustrasi bioluminescence (unsplash.com/Nick Fewings)

Untuk memastikan apakah fenomena biophoton tidak hanya terjadi pada jaringan atau sel terisolasi, tetapi juga pada organisme utuh, para peneliti melakukan eksperimen pada tikus hidup. Mereka menggunakan kamera sangat sensitif, yakni electron-multiplying charge-coupled device (EMCCD) dan charge-coupled device (CCD).

Kamera ini mampu menangkap pancaran cahaya paling lemah sekalipun. Dengan teknologi ini, tim peneliti membandingkan emisi cahaya dari tubuh tikus secara utuh saat masih hidup dan setelah mati.

Sebanyak empat ekor tikus ditempatkan satu per satu di dalam kotak gelap total dan direkam selama satu jam dalam kondisi hidup. Setelah itu, tikus-tikus tersebut dieutanasia dan kembali direkam selama satu jam berikutnya.

Menariknya, tubuh tikus tetap dijaga pada suhu normal tubuh bahkan setelah kematian, untuk memastikan panas tidak memengaruhi hasil pengamatan. Hasil perbandingan inilah yang kemudian menjadi dasar kuat bahwa pancaran cahaya tersebut benar-benar terkait dengan proses biologis kehidupan.

3. Cahaya meredup setelah kematian

Para peneliti berhasil menangkap foton individual dalam spektrum cahaya tampak yang dipancarkan oleh sel-sel tikus, baik sebelum maupun sesudah kematian. Namun jumlahnya berbeda drastis. Setelah tikus dieutanasia, tingkat ultraweak photon emission (UPE) turun signifikan, menunjukkan bahwa pancaran cahaya tersebut sangat terkait dengan proses biologis yang hanya aktif saat organisme masih hidup.

Pola serupa juga terlihat pada eksperimen tanaman. Daun thale cress (Arabidopsis thaliana) dan dwarf umbrella tree (Heptapleurum arboricola) menunjukkan perubahan emisi cahaya yang jelas ketika diberi stres, baik berupa luka fisik maupun paparan bahan kimia.

Respons ini memperkuat dugaan bahwa reactive oxygen species berperan besar dalam menghasilkan cahaya redup tersebut. Saat stres biologis meningkat, cahaya ikut berubah, dan ketika kehidupan berhenti, pancaran itu pun memudar.

Temuan ini memberikan kemungkinan baru dalam memahami kondisi tubuh dari sudut pandang yang berbeda. Di masa depan, pancaran cahaya paling samar dari sel yang sedang mengalami stres mungkin bisa menjadi penanda objektif tentang seberapa sehat tubuh kita.

Editorial Team