Morf, Luca, Ravit Helled, Luca Morf, and Ravit Helled. “Icy or Rocky? Convective or Stable?” Astronomy and Astrophysics 704 (October 4, 2025): A183.
Studi Baru Ungkap Uranus dan Neptunus Mungkin Bukan Raksasa Es

- Inti planet mungkin lebih berbatu dan dinamisStudi baru menemukan bahwa Uranus dan Neptunus mungkin memiliki inti yang lebih berbatu dan sedikit es. Proses konveksi di dalam planet juga mirip dengan Bumi.
- Klasifikasi planet klasik mulai dipertanyakanUranus dan Neptunus diklasifikasikan sebagai raksasa es, namun studi baru menunjukkan struktur internalnya lebih kompleks, meragukan pembagian planet menjadi gas, es, dan batuan.
- Komposisi berbatu menjelaskan anomali magnetKomposisi internal Uranus dan Neptunus ternyata tidak harus didominasi oleh es. Temuan ini juga memberikan penjelasan baru untuk medan magnet yang tidak biasa.
Uranus dan Neptunus selama ini dikenal sebagai raksasa es, meski secara teknis termasuk planet gas raksasa. Julukan ini muncul karena keduanya mengandung lebih banyak metana, air, dan senyawa volatil lain dibanding Jupiter dan Saturnus. Di bawah tekanan ekstrem di bagian dalam planet, unsur-unsur ini diperkirakan membeku dan membentuk es.
Namun pemahaman tersebut kini dipertanyakan. Penelitian baru dari University of Zurich dan National Centre of Competence in Research PlanetS menunjukkan bahwa kondisi di interior Uranus dan Neptunus mungkin tidak membentuk es seperti yang selama ini diasumsikan. Temuan ini membuka kemungkinan bahwa struktur dalam kedua planet tersebut jauh lebih kompleks dari gambaran klasik raksasa es.
1. Inti planet mungkin lebih berbatu dan dinamis
Studi yang dipublikasikan bulan ini di Astronomy and Astrophysics menyimpulkan bahwa Uranus dan Neptunus mungkin memiliki inti yang lebih berbatu dan jauh lebih sedikit es dari perkiraan sebelumnya. Tim peneliti juga menemukan kemungkinan adanya konveksi di bagian dalam planet. Material di interior bisa bergerak dan bersirkulasi, bukan berada dalam kondisi statis.
Proses ini mirip dengan dinamika internal Bumi, meski mekanismenya berbeda. Model ini bisa menjelaskan sejumlah sifat Uranus dan Neptunus yang selama ini sulit dipahami, termasuk perilaku medan magnet dan distribusi panas internal.
2. Klasifikasi planet klasik mulai dipertanyakan

Selama puluhan tahun, planet di Tata Surya dikelompokkan berdasarkan komposisi dan jaraknya dari Matahari. Planet berbatu menempati wilayah dalam, sedangkan planet di luar garis beku terbagi menjadi raksasa gas dan raksasa es. Dalam kerangka ini, Uranus dan Neptunus diklasifikasikan sebagai raksasa es karena diyakini kaya air, amonia, dan metana yang membeku di interiornya.
Studi baru oleh Luca Morf dan Ravit Helled dari University of Zurich dan NCCR PlanetS menunjukkan bahwa pembagian ini mungkin terlalu sederhana. Model mereka mengindikasikan struktur internal Uranus dan Neptunus lebih beragam, sehingga perbedaan antara planet gas, es, dan batuan tidak lagi bersifat kaku.
3. Komposisi berbatu menjelaskan anomali magnet
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi internal Uranus dan Neptunus tidak harus didominasi es. Model terbaik justru mengarah pada kandungan batuan yang lebih besar. Temuan ini sejalan dengan data dari Hubble Space Telescope dan misi New Horizons yang menunjukkan Pluto tersusun sekitar 70 persen batuan dan logam serta 30 persen air berdasarkan massa.
Studi ini juga menawarkan penjelasan baru untuk medan magnet Uranus dan Neptunus yang tidak biasa. Medan magnet keduanya memiliki lebih dari dua kutub dan struktur yang tidak simetris. Interior yang lebih berbatu dan dinamis dapat membantu menjelaskan sifat magnet yang selama ini sulit dipahami.
Temuan ini mengubah cara kita memahami Uranus dan Neptunus. Kedua planet tersebut mungkin bukan raksasa es sederhana, tetapi dunia dengan interior berbatu dan aktif. Hasil ini juga berdampak pada cara ilmuwan menafsirkan planet serupa di luar Tata Surya.
Referensi


















