Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ilmuwan Simulasikan Tabrakan Dua Wormhole, Hasilnya Menarik
ilustrasi black hole (commons.wikimedia.org/Event Horizon Telescope )
  • Simulasi tiga dimensi memperlihatkan dua wormhole dapat saling menarik, menjauh, atau berinteraksi dengan cara berbeda bergantung pada kondisi awal.

  • Dalam skenario tertentu, tabrakan wormhole membentuk horizon bersama yang berkembang menjadi lubang hitam, dengan luas horizon menyusut sekitar 28 persen.

  • Interaksi wormhole diprediksi menghasilkan gelombang gravitasi berbeda dari tabrakan lubang hitam, tetapi belum menjadi bukti keberadaan wormhole.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
1971

Stephen Hawking mengemukakan teorema yang menyatakan luas permukaan event horizon lubang hitam tidak dapat berkurang dalam kondisi fisika tertentu.

2019

Sinyal gelombang gravitasi tidak biasa GW190521 terdeteksi. Peristiwa ini pernah diteliti sebagai kemungkinan petunjuk fenomena ruang-waktu eksotis, tetapi belum terbukti berasal dari wormhole.

kini

Keberadaan wormhole belum dibuktikan melalui pengamatan langsung. Penelitian simulasi tersebut masih menunggu penilaian ilmiah lebih lanjut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Simulasi menunjukkan interaksi dua wormhole dapat menghasilkan saling menjauh, saling menarik, terbentuknya lubang hitam, dan gelombang gravitasi dengan pola berbeda.
  • Who?
    Fisikawan Nikita M. Shirokov dari Moscow Institute of Physics and Technology dan insinyur machine learning Ilya Nachevsky dari Higher School of Economics.
  • Where?
    Interaksi dipelajari dalam simulasi tiga dimensi terhadap wormhole jenis Ellis-Bronnikov. Lokasi kejadian fisiknya belum diketahui.
  • When?
    Penelitian ini masih berupa penelitian awal dan saat ini tersedia melalui server pracetak arXiv.
  • Why?
    Peneliti ingin mempelajari perilaku dua wormhole yang sensitif terhadap gangguan serta karakteristik gelombang gravitasi yang mungkin dihasilkannya.
  • How?
    Peneliti mengubah jarak, lintasan pergerakan, dan karakteristik medan skalar fantom dalam simulasi untuk mengamati beberapa kemungkinan hasil interaksi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ilmuwan membuat simulasi tentang dua lubang cacing yang bertabrakan. Mereka melihat dua wormhole bisa saling mendekat, menjauh, atau membuat lubang hitam. Simulasi juga menunjukkan gelombang gravitasi yang berbeda. Wormhole belum pernah dilihat langsung, jadi hasil ini masih berupa dugaan dari perhitungan dan belum menjadi bukti keberadaannya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Simulasi ini memberikan kerangka untuk mengenali kemungkinan sinyal dari objek-objek eksotis di alam semesta. Dengan membandingkan pola gelombang gravitasi wormhole dan lubang hitam, penelitian tersebut membantu memperjelas karakteristik yang dapat dicari, meski hasilnya masih berupa prediksi teoretis dan menunggu penilaian ilmiah lebih lanjut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Para ilmuwan berhasil menyimulasikan apa yang mungkin terjadi ketika dua wormhole atau lubang cacing saling bertabrakan di alam semesta. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa interaksi antara dua struktur ruang-waktu hipotetis ini dapat menghasilkan berbagai fenomena tidak biasa, mulai dari saling menjauh hingga membentuk lubang hitam. Menariknya, salah satu simulasi bahkan memperlihatkan terbentuknya horizon yang luas permukaannya justru menyusut, berbeda dari perilaku lubang hitam dalam kondisi fisika biasa.

Penelitian ini dilakukan oleh fisikawan Nikita M. Shirokov dari Moscow Institute of Physics and Technology bersama Ilya Nachevsky, seorang insinyur machine learning dari Higher School of Economics, Rusia. Keduanya menggunakan simulasi tiga dimensi untuk mempelajari interaksi dua wormhole jenis Ellis-Bronnikov, yaitu model lubang cacing yang secara teori memungkinkan sesuatu melewatinya. Penelitian tersebut menjadi menarik karena keberadaan wormhole hingga kini belum pernah dibuktikan melalui pengamatan langsung.

Selain memperlihatkan kemungkinan terbentuknya lubang hitam, simulasi ini juga menghasilkan prediksi mengenai gelombang gravitasi yang muncul ketika dua wormhole berinteraksi. Sinyalnya diperkirakan berbeda dari pola gelombang gravitasi yang biasanya dihasilkan oleh dua lubang hitam yang saling mendekat. Meski masih berupa penelitian awal yang belum melalui proses peer review, temuan tersebut dapat membantu ilmuwan memahami karakteristik sinyal yang mungkin dihasilkan oleh objek-objek eksotis di alam semesta.

1. Wormhole merupakan jalan pintas hipotetis di ruang-waktu

Black Hole di tengah sebuah galaksi (https://www.pexels.com/Daniel%20Cid)

Wormhole selama ini lebih sering dikenal melalui film dan cerita fiksi ilmiah sebagai terowongan yang menghubungkan dua lokasi berjauhan di alam semesta. Konsep tersebut sebenarnya memiliki dasar dalam teori relativitas umum Albert Einstein, yang menjelaskan gravitasi sebagai akibat kelengkungan ruang dan waktu. Secara matematis, ruang-waktu dapat memiliki konfigurasi yang memungkinkan dua wilayah terhubung melalui sebuah terowongan.

Jika struktur tersebut benar-benar ada, wormhole secara teori dapat menyediakan jalur penghubung antara dua wilayah yang terpisah sangat jauh. Namun, kemungkinan matematis tidak otomatis membuktikan bahwa objek tersebut benar-benar terbentuk di alam semesta. Hingga saat ini, para ilmuwan belum memiliki bukti pengamatan yang memastikan keberadaan wormhole.

Salah satu model wormhole yang dikenal adalah jembatan Einstein-Rosen, tetapi struktur ini tidak dapat dilewati dari satu sisi ke sisi lainnya. Berbeda dari model tersebut, wormhole Ellis-Bronnikov secara teori memungkinkan objek melintasi terowongan yang menghubungkan dua wilayah ruang-waktu. Model inilah yang digunakan Shirokov dan Nachevsky untuk mempelajari kemungkinan interaksi antara dua lubang cacing.

2. Wormhole Ellis-Bronnikov memiliki sifat yang tidak stabil

Wormhole Ellis-Bronnikov memiliki karakteristik khusus karena membutuhkan sesuatu yang disebut phantom scalar field atau medan skalar fantom. Medan hipotetis tersebut memiliki sifat energi negatif yang tidak biasa, sehingga secara teori dapat menjaga terowongan wormhole tetap terbuka. Tanpa mekanisme tersebut, struktur lubang cacing berpotensi menutup akibat pengaruh gravitasi.

Namun, kemampuan mempertahankan terowongan tetap terbuka tidak berarti wormhole memiliki struktur yang stabil. Bahkan gangguan kecil dapat mengubah keseimbangan medan yang menopangnya dan memicu perubahan besar pada struktur ruang-waktu. Dalam kondisi tertentu, terowongan wormhole dapat runtuh dan membentuk lubang hitam.

Kemungkinan lainnya adalah terowongan tersebut mengalami pengembangan yang tidak terkendali melalui proses yang disebut inflation. Kondisi ini membuat wormhole Ellis-Bronnikov menjadi objek yang menarik untuk dipelajari melalui simulasi. Para peneliti ingin mengetahui bagaimana dua struktur yang sangat sensitif terhadap gangguan tersebut akan berperilaku ketika saling mendekat atau bertabrakan.

3. Simulasi menunjukkan wormhole bisa saling menarik atau menjauh

Ilustrasi Black hole (Unplash.com/ NASA Hubble Space Telescope)

Untuk memahami interaksi tersebut, Shirokov dan Nachevsky menjalankan simulasi tiga dimensi yang melibatkan sepasang wormhole Ellis-Bronnikov. Mereka mengubah beberapa kondisi awal, termasuk jarak antara kedua wormhole, lintasan pergerakannya, serta karakteristik medan skalar fantom yang mempertahankan struktur masing-masing. Variasi tersebut memungkinkan peneliti mengamati beberapa kemungkinan hasil interaksi.

Hasilnya menunjukkan bahwa dua wormhole tidak selalu langsung bertabrakan ketika berada dalam jarak berdekatan. Dalam beberapa konfigurasi, keduanya dapat saling menarik, sementara konfigurasi lainnya justru menghasilkan interaksi yang bersifat menolak. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perilaku wormhole sangat bergantung pada kondisi awal dan karakteristik medan yang terlibat.

Pada skenario tertentu, kedua wormhole bergerak cukup dekat untuk saling memengaruhi sebelum akhirnya kembali menjauh. Menariknya, interaksi singkat tersebut dapat menyebabkan terowongan masing-masing wormhole mengembang secara drastis. Sementara itu, simulasi lain memperlihatkan dua wormhole bergerak langsung menuju satu sama lain dan menghasilkan perubahan struktur ruang-waktu yang jauh lebih kompleks.

4. Tabrakan dua wormhole bisa membentuk lubang hitam

Salah satu hasil paling menarik muncul ketika dua wormhole bergerak langsung menuju satu sama lain. Alih-alih bergabung menjadi satu wormhole berukuran lebih besar, simulasi memperlihatkan terbentuknya sebuah apparent horizon yang menyelimuti kedua terowongan sekaligus. Struktur tersebut menyerupai batas yang berkaitan dengan pembentukan lubang hitam.

Dalam skenario tersebut, kedua terowongan wormhole tetap berada di dalam satu horizon yang terbentuk bersama. Kondisi ini menunjukkan bahwa interaksi dua wormhole dapat memicu terbentuknya wilayah ruang-waktu yang berkembang menjadi lubang hitam. Hasil tersebut berbeda dari gambaran sederhana mengenai dua terowongan yang menyatu menjadi satu struktur baru.

Namun, fenomena yang lebih mengejutkan muncul setelah horizon tersebut terbentuk. Ketika medan skalar fantom bergerak masuk ke wilayah yang mengalami keruntuhan, luas permukaan horizon justru mengalami penyusutan. Dalam salah satu simulasi, para peneliti menemukan bahwa luas horizon berkurang sekitar 28 persen, sebuah hasil yang tidak biasa dalam kajian fisika lubang hitam.

5. Luas horizon menyusut hingga 28 persen, bagaimana bisa?

Penyusutan horizon menjadi salah satu temuan penting karena berbeda dari perilaku yang dijelaskan melalui teorema luas lubang hitam. Teorema yang dikemukakan Stephen Hawking pada 1971 menyatakan bahwa luas permukaan event horizon lubang hitam tidak dapat berkurang dalam kondisi yang memenuhi asumsi fisika tertentu. Secara umum, luasnya hanya dapat bertambah atau tetap sama.

Namun, simulasi wormhole Ellis-Bronnikov melibatkan medan skalar fantom yang memiliki sifat energi negatif. Karakteristik tersebut tidak memenuhi asumsi energi yang digunakan dalam teorema Hawking, sehingga perilaku horizon dapat berbeda. Dalam simulasi ini, medan tersebut memungkinkan luas apparent horizon menyusut ketika struktur ruang-waktu mengalami perubahan.

Penting untuk dipahami bahwa hasil ini tidak secara langsung membantah teorema Hawking. Penelitian tersebut mengamati apparent horizon, bukan event horizon, dan menggunakan medan hipotetis yang melanggar asumsi dasar teorema tersebut. Meski demikian, penyusutan sebesar 28 persen memperlihatkan bagaimana perilaku gravitasi dapat berubah ketika ilmuwan mempertimbangkan kondisi fisika yang tidak biasa.

6. Tabrakan wormhole menghasilkan gelombang gravitasi yang berbeda

Ilustrasi Black Hole (unplash.com/ NASA Hubble Space Telescope)

Selain perubahan struktur ruang-waktu, simulasi ini juga mempelajari gelombang gravitasi yang mungkin dihasilkan ketika dua wormhole berinteraksi. Gelombang gravitasi merupakan riak pada ruang-waktu yang dapat muncul akibat pergerakan objek bermassa besar, termasuk ketika dua lubang hitam saling mendekat dan bertabrakan. Fenomena tersebut menjadi salah satu cara ilmuwan mempelajari peristiwa ekstrem di alam semesta.

Ketika dua lubang hitam bergerak dalam lintasan spiral menuju satu sama lain, gelombang gravitasi yang dihasilkan biasanya menunjukkan pola khas bernama chirp. Sinyal tersebut semakin kuat dan frekuensinya meningkat seiring kedua objek mendekati titik tabrakan. Pola ini menjadi salah satu karakteristik penting dalam pengamatan penggabungan lubang hitam.

Berbeda dari tabrakan lubang hitam, simulasi interaksi wormhole justru menghasilkan gelombang gravitasi berupa semburan singkat dan tajam. Bentuk serta kekuatan sinyal tersebut bergantung pada jenis interaksi yang terjadi, baik ketika kedua wormhole bertabrakan langsung maupun hanya saling melintas dalam jarak dekat. Bahkan, beberapa peristiwa ketika wormhole hanya berpapasan menghasilkan semburan gelombang gravitasi yang cukup kuat tanpa membentuk horizon bersama.

Temuan tersebut membuka kemungkinan bahwa interaksi wormhole dapat memiliki karakteristik gelombang gravitasi yang berbeda dari tabrakan lubang hitam pada umumnya. Namun, semburan singkat tanpa pola chirp tidak dapat langsung dianggap sebagai bukti keberadaan wormhole. Lubang hitam juga dapat menghasilkan sinyal serupa dalam kondisi tertentu, sehingga identifikasi objek membutuhkan analisis yang lebih mendalam.

7. Apakah ilmuwan bisa mendeteksi tabrakan wormhole?

Penelitian ini juga membahas kemungkinan mendeteksi sinyal gelombang gravitasi dari interaksi wormhole menggunakan observatorium modern. Salah satu contoh yang disinggung adalah GW190521, sinyal gelombang gravitasi tidak biasa yang terdeteksi pada 2019. Peristiwa tersebut pernah diteliti sebagai kemungkinan petunjuk fenomena ruang-waktu eksotis, tetapi belum ada bukti bahwa sinyalnya berasal dari wormhole.

Shirokov dan Nachevsky juga mengidentifikasi tantangan besar dalam mendeteksi gelombang gravitasi dari wormhole Ellis-Bronnikov. Jika struktur tersebut terbentuk pada masa awal alam semesta, ekspansi kosmik dapat meregangkan sinyalnya hingga memiliki frekuensi yang sangat rendah. Frekuensi tersebut diperkirakan berada di luar kemampuan deteksi observatorium gelombang gravitasi seperti LIGO (Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory) maupun misi LISA (Laser Interferometer Space Antenna) yang direncanakan.

Agar sinyal seperti yang diprediksi dalam simulasi dapat terdeteksi, wormhole kemungkinan harus terbentuk pada periode yang jauh lebih belakangan dalam sejarah alam semesta. Masalahnya, para ilmuwan belum mengetahui mekanisme yang memungkinkan struktur tersebut terbentuk dalam kondisi demikian. Karena itu, peluang mendeteksi tabrakan wormhole masih menghadapi ketidakpastian besar.

Meski demikian, penelitian ini memberikan gambaran mengenai karakteristik yang dapat dicari apabila suatu saat ilmuwan menemukan sinyal gelombang gravitasi yang tidak biasa. Simulasi tersebut menunjukkan bahwa interaksi dua wormhole dapat menghasilkan berbagai kemungkinan, mulai dari saling menjauh hingga membentuk lubang hitam dengan perilaku horizon yang tidak lazim. Penelitian yang saat ini tersedia melalui server pracetak arXiv tersebut masih menunggu penilaian ilmiah lebih lanjut, sehingga hasilnya perlu dipahami sebagai prediksi teoretis, bukan bukti bahwa wormhole benar-benar ada di alam semesta.

Curated For You

Editorial Team

Related Article