Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Studi Ungkap Budaya Kuno Gunakan Meteorit Jadi Senjata Ritual
ilustrasi meteorit (Pixabay/PeterJupke)
  • Peneliti menemukan artefak logam berusia 3.000 tahun di situs Sanxingdui yang diyakini terbuat dari meteorit, menunjukkan manusia purba telah memanfaatkan logam luar angkasa sebelum teknologi peleburan besi berkembang.
  • Situs Sanxingdui dikenal dengan ribuan objek ritual seperti topeng perunggu dan giok, termasuk artefak besi unik dari Pit No. 7 yang memberi petunjuk penggunaan material meteorit oleh budaya kuno tersebut.
  • Analisis sinar-X mengungkap artefak mengandung lebih dari 90% besi dan sekitar 7,41% nikel, komposisi khas meteorit yang memperkuat dugaan bahwa benda ini digunakan dalam ritual persembahan masyarakat Sanxingdui.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebuah penemuan arkeologi baru mengungkap artefak logam berusia sekitar 3.000 tahun yang diyakini berasal dari meteorit, batuan luar angkasa yang jatuh ke Bumi. Temuan ini menunjukkan bahwa manusia purba mungkin sudah memanfaatkan “logam dari langit” jauh sebelum teknologi peleburan besi berkembang luas.

Artefak berbentuk kapak tersebut ditemukan di situs Sanxingdui dan diduga terbuat dari besi meteoritik. Penelitian yang dipimpin oleh Haichao Li dari Sichuan University menyebutkan bahwa benda ini merupakan salah satu artefak besi meteorit tertua dari Zaman Perunggu di wilayah barat daya China.

1. Situs Sanxingdui dan jejak ritual misterius

Sanxingdui merupakan salah satu situs arkeologi paling penting di Tiongkok barat daya, dengan rentang waktu sekitar 2800 hingga 600 SM. Peradaban ini mencapai puncaknya pada masa Shang Dynasty (sekitar 1600–1050 SM) yang meninggalkan warisan berupa karya seni yang ikonik dan kerap dianggap misterius, serta menunjukkan kuatnya peran ritual dalam kehidupan masyarakatnya.

Salah satu temuan paling menarik dari situs ini adalah “lubang persembahan” atau sacrificial pits yang berada di kawasan ritual kota bertembok. Dari delapan lubang tersebut, para arkeolog berhasil mengangkat sekitar 17.000 objek ritual luar biasa, mulai dari topeng perunggu, patung, gading, hingga alat dari batu giok. Koleksi ini memperlihatkan kompleksitas budaya Sanxingdui sekaligus menjadi konteks penting bagi penemuan artefak logam yang diduga berasal dari meteorit.

2. Lubang persembahan dan temuan artefak besi

ilustrasi para arkeolog yang tengah meneliti artefak (pexels.com/Alpert Murat KİRPİK)

Fungsi pasti dari “lubang persembahan” di Sanxingdui hingga kini masih menjadi misteri. Namun, keberadaan abu, arang, serta jejak pembakaran pada sejumlah objek menunjukkan bahwa tempat ini kemungkinan digunakan untuk ritual persembahan. Apa pun tujuan sebenarnya, lubang-lubang ini telah menjadi sumber artefak yang sangat berharga untuk memahami nilai estetika dan material yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Sanxingdui.

Di antara ribuan temuan tersebut, satu artefak dari Pit No. 7 mencuri perhatian para peneliti. Benda ini berupa artefak besi yang tidak biasa dan diberi kode K7QW-TIE-1. Penemuan ini menjadi petunjuk penting yang mengarah pada kemungkinan penggunaan material meteorit oleh budaya kuno tersebut yang menjadikannya salah satu temuan paling unik dari keseluruhan situs.

3. Komposisi logam ungkap asal dari luar angkasa

Artefak besi yang ditemukan di Sanxingdui ini memiliki panjang sekitar 20 cm dengan lebar 5–8 cm. Karena kondisinya yang rapuh, para peneliti tidak langsung memisahkannya, melainkan mengambil seluruh bagian tanah tempat benda itu tertanam untuk dianalisis di laboratorium.

Berdasarkan kronologi artefak di sekitarnya, benda ini berasal dari masa Shang Dynasty, periode sebelum teknologi peleburan besi menyebar luas di Tiongkok. Namun, analisis menggunakan sinar-X menunjukkan bahwa objek ini terdiri dari lebih dari 90 persen besi, dengan sekitar 7,41 persen nikel serta sejumlah elemen jejak lainnya. Komposisi seperti ini sangat sulit dicapai dengan teknologi metalurgi pada masa itu.

Sebagai perbandingan, pada Zaman Perunggu, logam utama yang digunakan untuk alat, senjata, dan perhiasan adalah perunggu, paduan tembaga dan timah yang lebih mudah diproduksi. Karena itu, kandungan nikel tinggi pada artefak ini menjadi petunjuk kuat bahwa materialnya kemungkinan berasal dari meteorit, bukan hasil peleburan manusia, menguatkan dugaan bahwa budaya kuno ini memanfaatkan “logam dari langit.”

Penemuan artefak besi meteorit di Sanxingdui ini membuka kemungkinan material dari luar angkasa bukan sekadar benda biasa bagi masyarakat kuno tersebut. Karena ditemukan di dalam lubang ritual, logam ini tampaknya memiliki nilai khusus, bahkan cukup berharga untuk dijadikan bagian dari persembahan yang dikumpulkan dan dibakar.

Referensi

Li, Haichao, Zishu Yang, Yuniu Li, Jiahui Liu, Yu Lei, and Honglin Ran. “The Earliest Meteoritic Iron Artefact of the Chinese Bronze Age Discovered at Sanxingdui, Southwest China.” Archaeological Research in Asia 46 (February 17, 2026): 100692.

Editorial Team