Yvette Cendes, Edo Berger, Paz Beniamini, Ramandeep Gill, Tatsuya Matsumoto, Kate D. Alexander, Michael F. Bietenholz, Aprajita Hajela, Collin T. Christy, Ryan Chornock. “Continued Rapid Radio Brightening of the Tidal Disruption Event AT2018hyz.” The Astrophysical Journal 998, no. 1 (February 5, 2026): 111.
"Look Out Alderaan. This Black Hole Is More Destructive Than The Death Star". Diakses pada Maret 2026. Universe Today.
Studi: Lubang Hitam Ini 100 Triliun Kali Lebih Kuat dari Death Star

- Lubang hitam supermasif AT2018hyz melahap bintang pada 2018 dan terus memancarkan energi meningkat hingga empat tahun kemudian, menunjukkan perilaku tak biasa dibanding peristiwa TDE lain yang biasanya meredup.
- Penelitian tim Yvette Cendes menemukan lonjakan kecerlangan hingga 50 kali lipat, kemungkinan akibat peluncuran tertunda material berenergi tinggi sekitar 620 hari setelah bintang hancur.
- Total energi AT2018hyz diperkirakan setara dengan gamma-ray burst dan bisa mencapai 100 triliun kali lebih kuat dari Death Star, menjadikannya salah satu fenomena paling ekstrem yang pernah diamati.
Empat tahun lalu, para astronom menyaksikan sebuah peristiwa kosmik ekstrem ketika lubang hitam supermasif melahap sebuah bintang yang terlalu dekat. Peristiwa ini dikenal sebagai tidal disruption event (TDE), di mana gravitasi luar biasa kuat dari lubang hitam merobek bintang hingga hancur. Objek tersebut, yang diberi nama AT2018hyz, pertama kali terdeteksi pada 2018 oleh All Sky Automated Survey for SuperNovae.
Yang membuat ilmuwan terkejut, energi dari peristiwa ini tidak langsung mereda. Justru, empat tahun kemudian, pancaran energinya terus meningkat, dengan emisi radio baru terdeteksi pada 2022. Penelitian terbaru yang dipublikasikan di The Astrophysical Journal, dipimpin oleh Yvette Cendes dari University of Oregon, mengungkap bahwa ledakan energi dari TDE ini jauh lebih kuat dari yang diperkirakan. Angka ini bahkan disebut-sebut bisa mencapai kekuatan hingga 100 triliun kali lebih dahsyat dibandingkan senjata fiksi seperti Death Star.
1. Emisi energi yang terus meningkat
Pengamatan terbaru terhadap AT2018hyz mencakup periode sekitar 1.370 hingga 2.160 hari setelah bintang tersebut dihancurkan. Hasilnya, kurva cahaya dari peristiwa ini terus meningkat di semua frekuensi, menunjukkan bahwa energi yang dilepaskan belum mencapai puncaknya bahkan bertahun-tahun setelah kejadian awal. Fenomena ini sangat tidak biasa, karena sebagian besar tidal disruption event cenderung meredup seiring waktu.
Saat pertama kali diamati pada 2018, AT2018hyz tampak seperti TDE pada umumnya. Namun beberapa tahun kemudian, Yvette Cendes menemukan bahwa objek ini memancarkan energi besar dalam bentuk gelombang radio.
Dalam studi lanjutan yang dipublikasikan pada 2022, tim peneliti menyatakan bahwa peningkatan emisi yang sangat tajam ini tidak dapat dijelaskan oleh model standar. Hal ini kemungkinan besar menunjukkan adanya “peluncuran tertunda” (delayed launch) dari material berenergi tinggi setelah peristiwa awal.
2. Energi meledak hingga 50 kali lebih terang

Dalam studi terbaru, tim yang dipimpin Yvette Cendes melaporkan bahwa energi yang dipancarkan oleh lubang hitam supermasif dalam peristiwa AT2018hyz meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, tingkat kecerlangannya kini sekitar 50 kali lebih tinggi dibanding saat pertama kali terdeteksi. Ini menjadi sebuah lonjakan yang sangat tidak biasa untuk fenomena semacam ini.
Para peneliti mengusulkan dua kemungkinan penjelasan, salah satunya adalah skenario delayed spherical outflow. Dalam model ini, semburan material berenergi tinggi tidak langsung terjadi saat bintang hancur, melainkan baru “diluncurkan” sekitar 620 hari setelah peristiwa awal.
Perhitungan evolusi fisik menunjukkan bahwa semburan ini memang mengalami penundaan sekitar 1,7 tahun sejak pertama kali emisi optik terdeteksi yang bisa menjelaskan mengapa energi radio terus meningkat hingga sekarang.
3. Bisa mencapai 100 triliun kali lipat
Saat menghitung total energi dari peristiwa AT2018hyz, para peneliti menemukan kejutan lain. Energi yang dilepaskan ternyata sebanding dengan gamma-ray burst (GRB), yang dikenal sebagai ledakan paling terang dan paling energik di alam semesta. Hal ini menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu fenomena paling dahsyat yang pernah diamati oleh manusia.
Sebagai perbandingan yang lebih populer, tim peneliti bahkan membandingkannya dengan Death Star dari Star Wars. Berdasarkan perhitungan tersebut, lubang hitam ini memancarkan energi setidaknya satu triliun kali lebih besar dari senjata fiksi tersebut, bahkan bisa mencapai hingga 100 triliun kali lipat.
Meski begitu, para ilmuwan menekankan bahwa estimasi ini masih perlu dikonfirmasi melalui pengamatan lanjutan. Penemuan ini juga memunculkan pertanyaan, apakah ada lubang hitam lain di alam semesta yang menunjukkan perilaku serupa, namun belum terdeteksi karena belum banyak diteliti secara mendalam?
Temuan ini menunjukkan bahwa lubang hitam masih menyimpan banyak misteri yang belum sepenuhnya dipahami. Dengan pengamatan lanjutan, para ilmuwan berharap bisa mengungkap apakah fenomena ekstrem seperti ini merupakan kasus langka atau justru lebih umum terjadi di alam semesta.
Referensi









![[QUIZ] Dari Teori Fisika Pilihanmu, Ini Cara Kamu Memahami Dunia](https://image.idntimes.com/post/20250211/pexels-ivan-samkov-5676742-679e4c51d5579cf70d213dbe885ba1b6-738059fd19b65ce69c1a8e11ce7c046b.jpg)








