"Laut Jawa menunjukkan laju kenaikan permukaan laut absolut sebesar 5 hingga 6 mm/tahun sejak tahun 2000, sementara penurunan permukaan tanah perkotaan di kota-kota seperti Jakarta mencapai hingga 15 cm/tahun," tulis penelian tersebut.
Studi: Tanah di Pulau Jawa Turun Lebih Cepat dari Kenaikan Air Laut

- Penelitian di jurnal Science Advances menemukan tanah di pesisir utara Jawa turun lebih cepat dibanding kenaikan permukaan laut, menciptakan ancaman besar bagi wilayah padat penduduk.
- Penurunan tanah disebabkan oleh pengambilan air tanah berlebihan, beban pembangunan berat, dan kondisi geologi sedimen yang lunak, mempercepat risiko banjir rob di kota-kota pesisir.
- Lebih dari 25% garis pantai utara Jawa mengalami penurunan lebih dari 1 cm per tahun, menyebabkan banjir rob makin sering serta infrastruktur dan permukiman terdampak parah.
Perubahan sering kali terasa paling nyata bukan saat ia datang tiba-tiba, melainkan ketika ia berlangsung perlahan. Di pesisir utara Pulau Jawa, perubahan itu hadir dalam bentuk yang nyaris tak kasat mata. Tanah yang perlahan turun, sentimeter demi sentimeter, tahun demi tahun. Di saat yang sama, laut juga terus naik, meski dengan ritme yang lebih lambat.
Fenomena ini mungkin terdengar sepele, tapi dampaknya jauh dari kata sederhana. Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science Advances, para ilmuwan menemukan bahwa kombinasi antara penurunan tanah dan kenaikan permukaan laut menciptakan ancaman yang jauh lebih besar daripada yang selama ini kita bayangkan.
Penelitian tersebut menggunakan pengamatan radar satelit untuk menghasilkan penilaian resolusi tinggi tentang penurunan tanah di seluruh Pulau Jawa dan mengevaluasi kontribusinya terhadap perubahan RSL (Rising Sea Level) abad ke-21. Temuan ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk mengintegrasikan penurunan tanah ke dalam penilaian risiko dan adaptasi permukaan laut di wilayah pesisir yang rentan.
Kombinasi yang bikin situasi makin pelik

Selama ini, isu perubahan iklim sering dikaitkan dengan naiknya permukaan laut. Namun di Pulau Jawa, cerita yang terjadi sedikit berbeda. Laut memang naik, tapi tanah di banyak wilayah pesisir justru turun dengan kecepatan yang lebih tinggi. Ini yang bikin situasinya jadi lebih pelik dan urgent.
Peneliti mengidentifikasi penurunan tanah yang meluas dan berkembang seiring waktu dengan laju mulai dari 1 hingga 15 cm/tahun di beberapa kota pesisir pulau Jawa. Perbedaan skala ini membuat efek yang dirasakan masyarakat menjadi jauh lebih ekstrem.
Akibatnya, wilayah pesisir tidak hanya “tergenang” oleh laut yang naik, tetapi juga seperti “ditarik turun” oleh tanah yang kehilangan ketinggiannya. Kombinasi ini menciptakan fenomena yang disebut sebagai relative sea level rise, kenaikan permukaan laut relatif terhadap daratan. Ini yang perlu segera ditangani agar warga di pesisir Pulau Jawa tak semakin tergenang.
Apa itu Relative Sea Level?
Salah satu poin penting dari penelitian ini adalah konsep relative sea level. Ini bukan hanya soal laut yang naik, tetapi juga tentang posisi tanah yang berubah.
Bayangkan berdiri di pantai. Jika laut naik satu tingkat, itu sudah cukup untuk membuat garis air mendekat. Tapi jika tanah tempat kita berdiri juga turun, efeknya menjadi berlipat ganda.
Dengan kata lain, ancaman yang dihadapi wilayah pesisir Jawa bukanlah satu masalah tunggal, melainkan dua proses yang terjadi bersamaan dan saling memperkuat.
Alasan penurunan permukaan tanah

Penurunan tanah bukan terjadi tanpa sebab. Ada beberapa faktor utama yang mendorong fenomena ini, terutama di wilayah perkotaan dan pesisir padat penduduk. Memang ada faktor alamiah yang tidak bisa diabaikan. Banyak wilayah pesisir Jawa terbentuk dari endapan sedimen yang memang cenderung lebih mudah mengalami penurunan dibandingkan tanah keras.
Namun hasil penelitian di Science Advances juga menyebutkan bahwa salah satu penyebab terbesar adalah pengambilan air tanah secara berlebihan. Ketika air di bawah permukaan tanah terus diambil, ruang kosong yang tersisa membuat struktur tanah menjadi tidak stabil dan akhirnya mengempis.
Selain itu, beban pembangunan juga ikut berperan. Kota-kota besar di Jawa dipenuhi gedung, jalan, dan infrastruktur berat yang terus menekan lapisan tanah di bawahnya. Di atas tanah yang secara alami sudah lunak, tekanan ini mempercepat proses penurunan.
Dampak nyata yang sudah terasa

Apa yang diungkap dalam penelitian tersebut bukan sekadar prediksi masa depan. Dampaknya sudah dirasakan saat ini, terutama di wilayah pesisir utara Pulau Jawa.
"Analisis VLM (vertical land movement) yang bervariasi secara spasial di sepanjang garis pantai utara menunjukkan bahwa lebih dari 25% dari bentangan garis pantai sepanjang 1500 km (didefinisikan sebagai zona penyangga 10 km yang membentang ke pedalaman dari garis pantai) mengalami penurunan permukaan tanah dengan laju lebih dari 1 cm/tahun, dengan penurunan paling parah terkonsentrasi di daerah dataran rendah dan daerah dengan kepadatan penduduk tinggi," tulis penelitian tersebut.
Imbahnya nyata terasa. Banjir rob menjadi semakin sering terjadi dan sulit surut di wilayah Pantura seperti Demak, Pekalongan, dan Semarang. Air laut yang masuk ke daratan kini membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke laut, karena permukaan tanah sudah lebih rendah dari sebelumnya.
Di beberapa tempat, warga bahkan harus mengungsi secara berkala. Jalan-jalan menjadi retak, bangunan perlahan miring, dan sistem drainase tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya.
Dalam skenario yang lebih ekstrem, ada wilayah yang perlahan “hilang”, bukan karena tenggelam seketika, tetapi karena terus tergerus oleh kombinasi penurunan tanah dan naiknya air laut.
Tantangan besar di pulau terpadat
Dengan populasi lebih dari 150 juta orang (sekitar 2% populasi global) dan peran sebagai pusat ekonomi Indonesia, setiap perubahan lingkungan di pulau Jawa tentu memiliki dampak luas. Penurunan tanah dan kenaikan permukaan laut bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan kota, infrastruktur, hingga kehidupan jutaan orang di pesisir.
Tanpa pengelolaan yang tepat, terutama dalam penggunaan air tanah dan perencanaan pembangunan, risiko ini akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Penelitian ini mengingatkan bahwa ancaman terbesar sering kali bukan yang datang tiba-tiba, melainkan yang bergerak perlahan tanpa disadari. Di pesisir Jawa, perubahan itu sudah berlangsung. Laut memang naik, tetapi tanah yang turun membuat segalanya terasa lebih cepat dan lebih dekat.
Referensi
Science.org. Diakses pada April 2026. Land subsidence on Java Island and its contributions to relative sea level change
Phys.org. Diakses pada April 2026. Sinking land drives coastal flood risk on densely populated Java Island











![[QUIZ] Dari Jenis Batu Meteorit Pilihanmu, Ini Caramu Buat Keputusan](https://image.idntimes.com/post/20231106/photo-1655448985613-3d16697a7250-a0a51f7a58669ba98ac0be589946151c-582e29b6ef454bb2ca77a031bc4a427c.jpeg)





