NBA 2025/2026 memasuki akhir musim reguler. Perdebatan mengenai peraih Most Valuable Player (MVP) juga semakin gencar. Wajar saja, persaingan MVP musim ini berjalan ketat. Nama-nama, seperti Shai Gilgeous-Alexander, Nikola Jokic, dan Victor Wembanyama silih-berganti mengisi daftar puncak. Masing-masing dari mereka telah membangun citra positif guna memboyong pernghargaan bergengsi tersebut. Lantas, yang menjadi pertanyaan, apa saja faktor yang membuat pemain bisa memenangkan MVP NBA? Berikut ini ulasannya!
Apa Faktor yang Membuat Pemain Bisa Memenangkan MVP NBA?

1. Statistik individu yang menonjol
Penghargaan MVP berkaitan erat dengan statistik individu yang menonjol. Produktivitas poin, assist, rebound, maupun efisien tembakan begitu penting. Sebab, hal itulah yang akan menjadi penilaian dasar dalam pemilihan.
Nama Nikola Jokic tentu unggul berdasarkan kriteria tersebut. Center asal Serbia ini terkenal serbabisa sehingga rutin mencetak triple-double. Dia telah mengemas 34 triple-double musim ini, jauh meninggalkan pemain lain. Jokic juga memimpin dalam perolehan rebound dan assist. Kemampuan Jokic memang sudah mendapat pengakuan dari liga. Itu terbukti dengan tiga penghargaan MVP yang diraih sebelumnya.
2. Memiliki pengaruh besar untuk kesuksesan tim
Statistik yang mentereng saja belum cukup untuk membawa sang pemain menuju titel MVP. Hal itu harus sejalan dengan kesuksesan tim. Secara sederhana, jika angka-angka yang dicetak bisa dikonversikan menjadi kemenangan, nilainya akan lebih bermakna. Oleh sebab itu, mayoritas pemenang MVP berasal dari tim-tim papan atas yang punya rekor bagus.
Jika menilik kriteria tersebut, Shai Gilgeous-Alxander tentu berada dalam jalan yang tepat. Dia berhasil memimpin Oklahoma City Thunder bertengger kokoh di puncak klasemen Wilayah Barat dan menjadi favorit juara. Situasinya seperti musim lalu ketika SGA meraih MVP perdananya. SGA pun berpeluang besar mengulangi kesuksesan serupa pada 2026 ini.
3. Konsistensi serta bisa mencapai ambang batas 65 pertandingan
Penghargaan MVP layaknya maraton. Diperlukan konsistensi untuk mencapainya. Pemain berkaliber MVP dituntut tampil impresif setiap pertandingan, bukan cuma dalam waktu singkat. Bahkan, menurut aturan terkini, pemain harus menjalani minimal 65 pertandingan musim reguler supaya bisa meraih penghargaan individu.
Namun, aturan tersebut juga menimbulkan dilema. Contohnya dialami Luka Doncic. Doncic yang performanya begitu memukau terancam gugur dari persaingan MVP karena hanya mencatat 64 pertandingan sebelum absen hingga akhir musim reguler karena cedera hamstring. Kendati begitu, pihak Doncic masih bisa mengajukan permohonan "Extraordinary Circumstances Challenge" agar tetap masuk dalam kandidat peraih penghargaan.
4. Momen berkesan yang dibuat
Peraih MVP selalu membuat momen berkesan dalam perjalanannya. Jika ada pemain yang bisa mengangkat performa tim jauh melebihi prediksi, tentu itu akan menyita perhatian. Dinamika tersebut dimiliki oleh Victor Wembanyama. Wembanyama begitu berjasa dalam keberhasilan San Antonio Spurs bersaing di papan atas klasemen Wilayah Barat sehingga kembali lolos ke playoff setelah absen cukup lama. Dia memadukan kemampuan defensif luar biasa serta ofensif yang semakin matang.
Menariknya lagi, usia Wembanyama baru menginjak 22 tahun. Tidak banyak pemain seusianya yang bisa melakukan hal istimewa tersebut. Tak ayal, nama Wembanyama melejit dalam tangga persaingan MVP musim ini.
Banyak faktor yang menjadi pertimbangan guna memilih MVP. Meski begitu, keputusan akhir tetap berada di tangan panelis media yang telah mengikuti liga secara cermat dan akan memberikan peringkat kepada setiap kandidat.
Lantas, siapa yang akan memenangkan MVP NBA 2026? Akankah Nikola Jokic meraih MVP keempatnya atau Shai Gilgeous-Alexander yang mempertahankan titel tersebut? Bahkan, jika Victor Wembanyama yang keluar sebagai pemenang, dia akan menjadi pemain termuda yang menyabet MVP memecahkan rekor Derrick Rose.