Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Indonesia Harus Contoh Korsel dan Thailand Soal Sport Tourism
Potret balapan F1 Powerboat Danau Toba 2024. (Dok. F1H2O).

Jakarta, IDN Times - Pengamat Hubungan Internasional UPN Veteran Jakarta, Asep Kamaluddin Nashir menilai fokus pengembangan olahraga di Indonesia, hanya berputar pada pembinaan atlet. Indonesia harus belajar dari Korea Selatan (Korsel), dan Thailand serta negara lain yang mengembangkan potensi devisa dari sektor olahraga.

Diketahui, Indonesia memiliki potensi wisata di bidang ajang olahraga. Setiap tahun ada pagelaran ajang olahraga berskala Internasional dan nasional diadakan di Indonesia, seperti MotoGP, Indonesia Open, Bali Marathon, Tour de Singkarak, World Surf League, dan lainnya.

“Maksud potensi pariwisata disini bukan hanya pada pagelaran akbar seperti Asian Games 2018, SEA Games 2011, Piala Dunia U-17 2023, maupun Piala Dunia Basket 2023 melainkan kegiatan olahraga lain yang dilakukan secara rutin per tahun," kata Kang Asep, panggilan akrabnya, Jumat (15/3/2024).

1. Indonesia sudah mulai kembangkan sport tourism

UMKM Binaan PT Pertamina (Persero) di ajang MotoGP Mandalika 2023. (dok. Pertamina)

Melihat potensi tersebut, Indonesia seharusnya mengembangkan konsep sport tourism, yaitu kegiatan olahraga yang dipadukan dengan promosi pariwisata. Menurut Kang Asep, Indonesia sudah mulai berupaya untuk mengembangkan sport tourism.

“Upaya mengembangkan sport tourism sebenarnya telah dilakukan. Pada 2023, pelaksanaan MotoGP di Mandalika berhasil menyumbang perekonomian sebesar Rp. 4,5 triliun. Begitu pula dengan pelaksanaan Piala Dunia U-17 yang diduga terjadi perputaran uang sebesar RP. 1,02 triliun,” kata Kang Asep.

2. Alasan sport tourism di Indonesia belum maksimal

Fabio Quartararo dalam jumpa pers usai naik podium di Sirkuit Mandalika, Minggu (15/10/2023). (IDN Times/Tino).

Namun, Kang Asep mengkritik pengembangan sport tourism di Indonesia saat ini. Menurutnya, saat ini sport tourism dibawahi oleh tiga kementerian. Sehingga menyulitkan panitia pelaksana untuk mengurus semua keperluan.

“Untuk persoalan pariwisata akan diberikan kepada Kemenparekraf, sedangkan hal-hal yang menyangkut olahraga diserahkan kepada Kemenpora. Belum lagi jika berurusan dengan aspek promosi budaya diarahkan kepada Kemendikbudristek atau produk-produk kreatifitas yang diwadahi oleh Kemenkop-UMKM,” kata Asep.

3. Bagaimana agar sport tourism di Indonesia maksimal?

UMKM Binaan PT Pertamina (Persero) di ajak MotoGP Mandalika 2023. (dok. Pertamina)

Agar potensi sport tourism ini maksimal, maka diperlukan kesatuan kerja di bawah satu kementerian. Kang Asep mengusulkan untuk menggabungkan Kementerian Olahraga, Kementerian Pariwisata, dan Dirjen Kebudayaan menjadi satu kementerian yang dinamakan Kementerian Budaya, Olahraga, dan Pariwisata.

“Keberadaan kementerian yang memayungi tiga sektor di atas bukanlah suatu hal yang baru. Beberapa negara telah membentuk kementerian semisal, seperti di Korea Selatan, Vietnam, di bawah nama Ministry of Culture, Sport, and Tourism (MCST) maupun Thailand, Kazakhstan, Belarusia, Polandia melalui Ministry of Tourism and Sport (MTS),” ujarnya.

“Merujuk pada kesuksesan Korsel dan Thailand tersebut, ada baiknya pemerintahan yang baru terbentuk nantinya mempertimbangkan untuk menggabungkan Kemenparekraf dan Kemenpora ditambah Ditjen Kebudayaan yang saat ini berada di bawah Kemendikbudristek. Adapun sektor ekonomi kreatif bisa tetap di bawah kementerian baru ini atau dipindahkan posisi ke Kemenkop-UMKM,” tambahnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article