Ganda putra muda Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin di semifinal All England 2026 (dok.PP PBSI)
All England Open 2026 adalah momen paling dinanti sekaligus paling mengecewakan bagi Indonesia. Pada turnamen tertua dan paling bergengsi di dunia bulu tangkis ini berlevel Super 1000, Indonesia sempat memasang target satu gelar juara.
“Dengan persiapan menyeluruh dan fokus penuh, Indonesia menargetkan minimalkan satu gelar juara pada All England 2026,” tulis PBSI dalam keterangan tertulis, Minggu (22/2/2026).
Indonesia tampil dengan kekuatan lebih besar, menurunkan 14 wakil sekaligus. Tercatat 11 di antaranya merupakan debutan di All England. Sebelumnya, pelatih ganda putra utama Indonesia, Antonius Budi Ariantho menargetkan pasangan Fajar/Fikri bisa keluar sebagai juara.
“Fajar/Fikri targetnya (juara All England) ya. Menurut saya, persiapan ini baik, ya. Karena mereka ada waktu, berapa bulan mempersiapkan diri untuk All England. Dibandingkan Raymond/Joaquin, sudah dari Thailand, Kejuaraan Bulu Tangkis Beregu Asia (BATC) 2026, pulang. Ini kan mereka persiapannya berapa minggu? Dua minggu ke Eropa. Tentu kan lebih bagus Fajar/Fikri," kata Anton ditemui di Pelatnas PBSI.
Menariknya, persiapan All England 2026 dilakukan dengan sangat matang. Tim yang diturunkan bahkan lebih dulu melakukan aklimatisasi jelang turnamen tersebut di Milton Keynes, Inggris. Kawasan ini berada kisaran 120 kilometer (km) di sebelah selatan Birmingham, tempat All England 2026 berlangsung.
“Aklimatisasi menjadi faktor krusial. Tim akan menjalani program aklimatisasi pada 24–28 Februari 2026 di Milton Keynes, yang berjarak sekitar 120 kilometer di sebelah selatan Birmingham. Selanjutnya, pada 1 Maret, tim akan berpindah ke kota Birmingham agar para atlet memiliki waktu adaptasi yang optimal dengan venue pertandingan,” kata Eng Hian.
Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana kandas di 32 besar All England 2026 (dok.PP PBSI)
Target satu gelar dari All England 2026 pun tidak terwujud. Di tengah kegagalan itu, justru muncul kisah mengejutkan dari pasangan debutan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin.
Ganda putra muda Indonesia ini tampil melampaui ekspektasi dengan berhasil menembus babak semifinal All England. Capaian ini bukan hal sepele untuk ajang level Super Series.
Pelatih Kepala Ganda Putra Utama, Antonius Budi Ariantho, menilai penampilan Raymond/Joaquin cukup baik dan memenuhi target, meskipun masih ada evaluasi di sisi non-teknis seperti komunikasi di lapangan dan kemampuan menganalisa permainan lawan.
“Secara permainan, mereka menunjukkan potensi yang positif. Namun masih ada beberapa evaluasi, terutama dari sisi non-teknis seperti komunikasi di lapangan, fokus, dan kemampuan menganalisa permainan lawan,” kata Anton.
All England 2026 membukukan catatan buruk lainnya. Dari data yang didapat lewat laman resmi BWF, ternyata benar ini menjadi kali pertama buat Indonesia tak main di final dalam 15 tahun terakhir. Sejak 2012, Pasukan Garuda selalu mengirimkan minimal satu wakil ke final.
Tanpa gelar dari All England, PBSI langsung bergerak cepat melakukan evaluasi menyeluruh. Eng Hian menegaskan, PBSI berkomitmen membenahi aspek mentalitas dan kematangan bermain agar para atlet muda semakin siap bersaing di level elite dunia.
“Hasil di tur Eropa ini akan menjadi pijakan penting untuk langkah selanjutnya, dengan berbagai perbaikan yang akan dilakukan secara bertahap dan terukur,” kata Eng Hian.