Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rapor Merah Bulu Tangkis Indonesia: Nir Gelar di Tur Eropa
Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin di 16 besar All England 2026 (dok.PP PBSI)
  • Skuad bulu tangkis Indonesia gagal meraih satu pun gelar dari empat turnamen Tur Eropa 2026, termasuk German Open, All England, Swiss Open, dan Orleans Masters.
  • Meski tanpa gelar, beberapa pemain muda seperti Alwi Farhan dan Putri Kusuma Wardani menunjukkan performa menjanjikan dengan menembus final Swiss Open 2026.
  • PP PBSI menilai hasil ini sebagai sinyal evaluasi besar untuk memperkuat mentalitas dan konsistensi atlet jelang Kejuaraan Asia 2026, sementara pengamat menyebut kondisi ini sebagai lampu merah prestasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Rangkaian Tur Eropa 2026 resmi berakhir. Sepanjang Februari hingga Maret 2026, para pebulu tangkis Indonesia unjuk gigi di empat turnamen bergengsi — German Open (Super 300), All England (Super 1000), Swiss Open (Super 300), dan Orleans Masters (Super 300). 

Alih-alih pulang membawa gelar juara, skuad Merah Putih justru harus menelan kenyataan pahit, nol gelar juara dari empat turnamen yang diikuti.

Kegagalan meraih satu pun titel bukan semata soal angka. Ini menjadi sinyal yang harus dibaca serius oleh Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI).

Di satu sisi, banyak debutan diturunkan untuk menambah jam terbang. Namun, hasil tanpa gelar membuat tim Indonesia makin tertinggal dibandingkan negara-negara lainnya.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Eng Hian tidak sepenuhnya pesimistis. Menurutnya, ada perkembangan positif dari sisi performa dan daya saing atlet saat berhadapan dengan pemain-pemain elite dunia. 

1. Diawali dengan tanpa gelar di German Open 2026

Amalia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti kandas di perempat final Indonesia Masters 2026 usai kalah atas wakil Jepang. (IDN Times/Aditya Mustaqim)

German Open 2026 menjadi pintu pembuka Tur Eropa skuad Indonesia. Digelar di Westenergie Sporthalle, Mülheim, Jerman, pada 24 Februari – 1 Maret 2026, turnamen berlevel Super 300 ini hanya diikuti tiga wakil Indonesia. 

Ketiga wakil tersebut semuanya berasal dari sektor ganda, yakni Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi dan Apriyani Rahayu/Lanny Tria Mayasari dari ganda putri, serta Hee Yong Kai Terry/Gloria Emanuelle Widjaja, yang merupakan pasangan gado-gado Singapura-Indonesia di ganda campuran.

Capaian terbaik dari German Open 2026 diraih dua wakil yang menembus babak semifinal. Pasangan Fadia/Tiwi dan Terry/Gloria kandas di empat besar. Ini menjadi PR pertama yang langsung terbawa ke turnamen berikutnya.

2. All England 2026: Persiapan matang berakhir rekor buruk

Ganda putra muda Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin di semifinal All England 2026 (dok.PP PBSI)

All England Open 2026 adalah momen paling dinanti sekaligus paling mengecewakan bagi Indonesia. Pada turnamen tertua dan paling bergengsi di dunia bulu tangkis ini berlevel Super 1000, Indonesia sempat memasang target satu gelar juara.

“Dengan persiapan menyeluruh dan fokus penuh, Indonesia menargetkan minimalkan satu gelar juara pada All England 2026,” tulis PBSI dalam keterangan tertulis, Minggu (22/2/2026).

Indonesia tampil dengan kekuatan lebih besar, menurunkan 14 wakil sekaligus. Tercatat 11 di antaranya merupakan debutan di All England. Sebelumnya, pelatih ganda putra utama Indonesia, Antonius Budi Ariantho menargetkan pasangan Fajar/Fikri bisa keluar sebagai juara. 

“Fajar/Fikri targetnya (juara All England) ya. Menurut saya, persiapan ini baik, ya. Karena mereka ada waktu, berapa bulan mempersiapkan diri untuk All England. Dibandingkan Raymond/Joaquin, sudah dari Thailand, Kejuaraan Bulu Tangkis Beregu Asia (BATC) 2026, pulang. Ini kan mereka persiapannya berapa minggu? Dua minggu ke Eropa. Tentu kan lebih bagus Fajar/Fikri," kata Anton ditemui di Pelatnas PBSI.

Menariknya, persiapan All England 2026 dilakukan dengan sangat matang. Tim yang diturunkan bahkan lebih dulu melakukan aklimatisasi jelang turnamen tersebut di Milton Keynes, Inggris. Kawasan ini berada kisaran 120 kilometer (km) di sebelah selatan Birmingham, tempat All England 2026 berlangsung.

“Aklimatisasi menjadi faktor krusial. Tim akan menjalani program aklimatisasi pada 24–28 Februari 2026 di Milton Keynes, yang berjarak sekitar 120 kilometer di sebelah selatan Birmingham. Selanjutnya, pada 1 Maret, tim akan berpindah ke kota Birmingham agar para atlet memiliki waktu adaptasi yang optimal dengan venue pertandingan,” kata Eng Hian.

Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana kandas di 32 besar All England 2026 (dok.PP PBSI)

Target satu gelar dari All England 2026 pun tidak terwujud. Di tengah kegagalan itu, justru muncul kisah mengejutkan dari pasangan debutan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin. 

Ganda putra muda Indonesia ini tampil melampaui ekspektasi dengan berhasil menembus babak semifinal All England. Capaian ini bukan hal sepele untuk ajang level Super Series.

Pelatih Kepala Ganda Putra Utama, Antonius Budi Ariantho, menilai penampilan Raymond/Joaquin cukup baik dan memenuhi target, meskipun masih ada evaluasi di sisi non-teknis seperti komunikasi di lapangan dan kemampuan menganalisa permainan lawan.

“Secara permainan, mereka menunjukkan potensi yang positif. Namun masih ada beberapa evaluasi, terutama dari sisi non-teknis seperti komunikasi di lapangan, fokus, dan kemampuan menganalisa permainan lawan,” kata Anton.

All England 2026 membukukan catatan buruk lainnya. Dari data yang didapat lewat laman resmi BWF, ternyata benar ini menjadi kali pertama buat Indonesia tak main di final dalam 15 tahun terakhir. Sejak 2012, Pasukan Garuda selalu mengirimkan minimal satu wakil ke final.

Tanpa gelar dari All England, PBSI langsung bergerak cepat melakukan evaluasi menyeluruh. Eng Hian menegaskan, PBSI berkomitmen membenahi aspek mentalitas dan kematangan bermain agar para atlet muda semakin siap bersaing di level elite dunia.

“Hasil di tur Eropa ini akan menjadi pijakan penting untuk langkah selanjutnya, dengan berbagai perbaikan yang akan dilakukan secara bertahap dan terukur,” kata Eng Hian.

3. Swiss Open 2026 jadi capaian paling baik

Tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting di kualifikasi Swiss Open 2026 (dok.PP PBSI)

Swiss Open 2026 menjadi turnamen yang memberikan angin segar bagi Indonesia di Tur Eropa 2026. Meskipun, skuad Garuda tetap berakhir tanpa gelar di ajang berlevel Super 300 tersebut.

Indonesia menurunkan 11 wakil, termasuk Anthony Sinisuka Ginting yang turun bertanding dan berhasil menembus babak semifinal. Capaian ini bisa dianggap menjadi sebuah sinyal bahwa sang jagoan tunggal putra belum sepenuhnya pudar. Swiss Open 2026 sekaligus menjadi ajang pertama yang diikuti Ginting dari rangkaian tur Eropa awal musim 2026 ini. Ginting bahkan tak punya target muluk dalam turnamen ini.

"Target saya pastinya di dua turnamen ini ingin mendapatkan hasil yang maksimal. Memang perjalanannya gak mudah karena di Swiss mulai main dari kualifikasi. Maka dari itu, gak mau berpikir terlalu jauh juga tapi tetap ingat sama target pribadi," kata Ginting kepada beberapa media termasuk IDN Times.

Alwi Farhan di final Swiss Open 2026 (dok.PP PBSI)

Pencapaian paling memukau datang dari dua nama, Alwi Farhan (tunggal putra) dan Putri Kusuma Wardani (tunggal putri). Keduanya berhasil menembus babak final Swiss Open 2026.

Ini sekaligus jadi capaian terbaik skuad Garuda sepanjang rangkaian tur Eropa di awal musim ini.

Alwi Farhan bahkan berhasil menyingkirkan unggulan pertama, Li Shi Feng dari China, dalam perjalanannya ke final. Sebuah kemenangan yang mendapat pujian dari pelatihnya, Indra Wijaya.

“Di semifinal, penampilan Alwi sangat baik, terutama saat mengalahkan Li Shifeng yang secara level permainan sudah berada di atas. Tapi di final, performanya tidak sebaik saat semifinal,” kata Indra.

Sayangnya, baik Alwi dan Putri KW gagal meraih gelar di partai puncak. Alwi Farhan harus menyerah kepada wakil Jepang, Yushi Tanaka, dengan skor 18-21, 12-21. Sementara Putri Kusuma Wardani takluk dari wakil Thailand, Supanida Katethong, dengan skor 11-21, 15-21. 

Di luar sektor tunggal, pasangan ganda campuran Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah juga berhasil menembus semifinal. 

4. Tarik pemain sebelum turnamen mulai, Orleans Masters ditutup tanpa gelar

Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum di Orleans Masters 2025 (dok.PP PBSI)

Orleans Masters 2026 menjadi penutup rangkaian Tur Eropa Indonesia. Turnamen yang berlangsung di Prancis ini diikuti 10 wakil Garuda.

Jelang dimulainya turnamen, PBSI mengumumkan untuk tidak menurunkan satu pun wakil di sektor tunggal putri karena alasan keamanan perjalanan, khususnya terkait kondisi di wilayah Timur Tengah yang menjadi jalur transit.

Keputusan itu berkaitan dengan nasib Thalita Ramadhani Wiryawan, yang seharusnya menjadi wakil tunggal putri Indonesia di Orleans Masters. 

“Thalita Ramadhani Wiryawan diputuskan untuk tidak tampil pada Orleans Masters 2026 dengan mempertimbangkan faktor keamanan dan keselamatan dalam perjalanan menuju lokasi turnamen,” ujar pelatih tunggal putri Pelatnas PBSI, Imam Tohari.

Di lapangan, wakil Indonesia tetap mampu memberikan perlawanan. Pasangan ganda putra Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana berhasil menembus semifinal. Hasil serupa juga diraih ganda putri Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum yang juga melangkah hingga empat besar.

Namun, sama seperti turnamen-turnamen sebelumnya, tidak ada satu pun yang berhasil melampaui babak semifinal. 

5. Catatan evaluasi tur Eropa 2026 dari PBSI

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Pelatnas PBSI, Eng Hian di Pelatnas Cipayung (IDN Times/Margith Damanik)

Indonesia pulang tanpa gelar juara dari satu pun turnamen yang diikuti di tur Eropa, sehingga dinilai meraih rapor merah. Eng Hian mengatakan, meskipun hasil belum sesuai harapan, daya saing atlet Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup baik, terutama saat berhadapan dengan pemain-pemain top dunia.

“Kalau melihat hasil memang belum sesuai harapan, tetapi dari sisi performa dan progres, kami melihat ada perkembangan yang cukup baik. Daya saing pemain terlihat, terutama saat menghadapi pemain top dunia,” ujar Eng Hian.

Namun, Eng Hian juga tidak menutup mata terhadap kelemahan yang ada. Ia menyoroti pentingnya konsistensi di momen-momen krusial sebagai pembeda antara menang dan kalah. 

“Yang perlu ditingkatkan adalah konsistensi di momen-momen krusial. Dari situ biasanya menjadi pembeda antara menang dan kalah. Ini yang terus kami benahi bersama tim pelatih,” kata Eng Hian

Selanjutnya, perjuangan skuad Garuda berlanjut. Kali ini para pemain elite akan berebut gelar juara di Kejuaraan Asia 2026 di Ningbo, China pada 7-12 April 2026 mendatang.

6. Pengamat sebut ini lampu merah

Ganda campuran Indonesia, Jafar Hidayatullah/Felisha Pasaribu saat menjalani laga perempat final Indonesia Masters 2026. (IDN Times/Aditya Mustaqim)

Pengamat bulu tangkis, Broto Happy, menilai kegagalan skuad Indonesia sepanjang tur Eropa bukan sekadar hasil buruk biasa. Menurut Broto, target yang dipasang tidak tercapai meski persiapan sudah dilakukan secara maksimal. 

“Tentu target PBSI terutama di empat turnamen di Eropa ya bisa dikatakan gagal. Apalagi untuk yang All England kan mereka begitu serius ya. Mengadakan training center dulu, adaptasi dulu, aklimatisasi di Milton Keynes. Jadi sayang banget istilahnya persiapannya begitu matang, terutama pemain-pemain utamanya tidak main di Jerman ya, langsung All England ya. Tapi hasilnya kan juga memprihatinkan gitu loh,” kata Broot Happy kepada IDN Times pada Selasa (31/3/2026) sore WIB.

“Bahwa kenyataan saat sekarang ini berarti prestasi kita udah mulai kalah jauh ya dibanding negara-negara lain. Terutama mungkin paling gampang dengan Taiwan yang bisa membuat kejutan sampai bisa merebut satu atau dua gelar juara,” kata Broto Happy.

Situasi ini dinilai semakin mengkhawatirkan jelang turnamen besar seperti Kejuaraan Asia dan Piala Thomas-Uber yang akan bergulir dalam waktu dekat. Broto menyebut kondisi saat ini bukan lagi sekadar lampu kuning, melainkan tanda bahaya yang serius. 

“malah menurut saya bukan lampu kuning ya, mungkin malah lampu merah gitu lho. Itu menunjukkan bahwa memang prestasi kita udah mulai kalah dan itu saya kira menjadi alarm tadi mungkin lampu merah gitu loh. Bahwa kita udah mulai kalah bersaing,” ujar Broto.

Broto memprediksi, dari sudut pandang lawan, kondisi ini juga membawa dampak signifikan. Broto menilai Indonesia mulai kehilangan aura sebagai kekuatan yang ditakuti. 

“Saat ini kalau kita kalah-kalah terus, saya kira negara-negara lain udah nganggap bahwa Indonesia tuh udah tidak perlu ditakuti lagi gitu loh. Terbukti di empat turnamen, dari 20 gelar nggak ada satu pun yang nyantol gitu loh. Ya itu yang harus menjadi apa namanya, peringatan keras,” kata Broto.

Editorial Team