Awal karier sebagai atlet lari
Awal karier Kipchoge sebagai atlet lari bisa ditelusuri sejak 2002 saat mengikuti Kejuaraan Lintas Negara Dunia IAAF kategori junior. Pada nomor individu, ia menempati posisi kelima. Sedangkan dalam tim junior Kenya, ia turut berkontribusi memenangkan medali emas.
Pada 2003, Kipchoge berhasil memenangi ajang Kejuaraan Lintas Dunia di Lausanne, Swiss. Beberapa waktu berselang, ia juga sukses menjuarai Kejuaraan Dunia Atletik di Paris, Prancis. Meski masih muda, ia waktu itu mampu mengalahkan pelari kenamaan seperti Hicham El Guerrouj dan Kenenisa Bekele.
Beralih ke 2004, Kipchoge menjadi bagian tim Kenya di ajang Olimpiade Athena. Hasilnya tak begitu buruk dengan berhasil meraih medali perunggu.
Mulai beralih ke maraton
Setelah sukses di nomor lintasan, Kipchoge perlahan beralih ke maraton pada 2012. Debutnya sempat mencengangkan dunia karena bisa menjuarai Hamburg Marathon dengan catatan waktu impresif.
Sejak itu, Kipchoge mulai mendominasi berbagai ajang maraton dunia, termasuk di Berlin, London, dan Chicago Marathon. Kemenangannya di Berlin pada 2018 mencetak rekor dunia yang kemudian dilampaui sendiri di ajang Maraton Berlin 2022 dengan catatan 2 jam 1 menit 9 detik.
Pada 2019, Kipchoge mencatat rekor baru saat menyelesaikan lari maraton di bawah 2 jam pada ajang INEOS 1:59 Challenge. Meski tidak tercatat sebagai rekor dunia resmi karena dilakukan dalam kondisi tertentu, pencapaian tersebut tetap dianggap sebagai tonggak sejarah olahraga dunia.
Selain itu, Kipchoge juga meraih medali emas Olimpiade Rio 2016 dan Tokyo 2020. Torehan ini semakin mengukuhkannya sebagai salah satu pelari maraton tersukses sepanjang sejarah.
Pada 2023, Kipchoge kembali mencetak rekor menjadi pelari pertama yang memenangkan lima Maraton Berlin. Setelah gagal di Olimpiade Paris 2024 akibat sakit punggung, ia sempat mengisyaratkan pertimbangkan untuk pensiun.
Misi baru Kipchoge
Namanya kembali muncul sekitar akhir 2025 lalu. Waktu itu, Kipchoge berkompetisi di New York City Marathon dan finis di urutan ke-17. Setelahnya, ia mengumumkan misi baru yang dikenal sebagai ‘Eliud's Running World’, yakni challenge berlari tujuh maraton di tujuh benua selama periode dua tahun untuk tujuan amal.