Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi latihan interval
ilustrasi latihan interval (pexels.com/RDNE Stock project)

Latihan interval belakangan jadi primadona buat banyak orang yang ingin meningkatkan stamina dengan waktu lebih singkat. Metode ini menggabungkan fase gerakan intens dengan fase istirahat aktif secara bergantian. Kamu mungkin sering mendengar istilah HIIT atau interval training di media sosial. Sekilas terlihat melelahkan, tapi justru di situlah rahasia utamanya. Tubuh dipaksa beradaptasi sehingga kapasitas jantung dan paru jadi lebih kuat.

Banyak orang gagal merasakan manfaat latihan interval karena caranya kurang tepat. Ada yang terlalu memaksakan diri, ada juga yang justru kurang menantang tubuhnya. Padahal kunci latihan ini ada pada pengaturan ritme dan konsistensi. Kamu gak perlu jadi atlet untuk memulainya. Dengan pendekatan yang benar, siapa pun bisa merasakan peningkatan stamina dalam beberapa minggu. Yuk simak tips yang bisa langsung kamu praktikkan.

1. Tentukan tujuan latihan yang jelas

ilustrasi lakukan pemanasan (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Sebelum mulai interval training, kamu perlu tahu dulu tujuan utamanya. Apakah ingin meningkatkan napas saat lari, memperkuat jantung, atau membakar lemak. Tujuan yang jelas akan menentukan jenis interval yang kamu pilih. Misalnya, pelari pemula butuh rasio kerja dan istirahat yang berbeda dengan pesepeda. Jangan asal ikut program orang lain tanpa menyesuaikan kebutuhan. Tubuh kamu punya titik awal yang unik.

Dengan tujuan yang spesifik, kamu juga lebih mudah mengukur perkembangan. Setiap sesi latihan jadi terasa punya arah, bukan sekadar capek. Kamu bisa mencatat durasi, jarak, atau detak jantung sebagai indikator. Dari catatan itu, pola peningkatan akan terlihat pelan pelan. Perasaan lebih kuat saat beraktivitas sehari hari juga jadi tanda positif. Semua berawal dari tujuan yang kamu tetapkan sejak awal.

2. Mulai dari intensitas yang realistis

ilustrasi lakukan pemanasan (pexels.com/MART PRODUCTION)

Kesalahan paling umum adalah langsung memilih intensitas terlalu tinggi. Banyak orang ingin cepat hebat lalu memaksa tubuh di luar batas. Akibatnya baru beberapa menit sudah kehabisan napas dan kapok latihan. Kamu sebaiknya memulai dari level yang terasa menantang tapi masih bisa dikontrol. Prinsipnya, tubuh perlu diberi waktu untuk beradaptasi. Interval training bukan lomba sekali jadi.

Cobalah rasio sederhana seperti 30 detik cepat dan 60 detik pelan. Lakukan selama 10 sampai 15 menit dulu di minggu pertama. Rasakan bagaimana respon tubuh kamu setelahnya. Kalau masih terlalu berat, turunkan lagi durasinya. Gak ada yang salah dengan mulai perlahan. Justru cara ini membuat progres kamu lebih aman dan bertahan lama.

3. Jangan pernah melewatkan pemanasan

ilustrasi pemanasan (pexels.com/Allan Mas)

Pemanasan adalah gerbang utama sebelum masuk ke sesi interval. Tanpa pemanasan, otot dan sendi kamu belum siap menerima lonjakan intensitas. Risiko cedera seperti kram atau tarikan otot jadi jauh lebih besar. Kamu bisa melakukan jalan cepat, jogging ringan, atau gerakan mobilitas selama lima menit. Tujuannya menaikkan suhu tubuh secara bertahap. Dari sini latihan akan terasa lebih nyaman.

Selain fisik, pemanasan juga menyiapkan mental kamu. Tubuh jadi punya waktu untuk beralih dari mode santai ke mode latihan. Napas mulai menyesuaikan ritme dan detak jantung meningkat perlahan. Banyak orang meremehkan tahap ini karena ingin cepat selesai. Padahal pemanasan yang baik justru menentukan kualitas interval kamu. Jangan sampai langkah awal ini kamu lewati.

4. Atur rasio kerja dan istirahat dengan cerdas

Ilustrasi seseorang melakukan pendinginan setelah latihan (pexels.com/Jonathan Borba)

Inti dari latihan interval ada pada permainan antara kerja dan istirahat. Kalau waktu kerjanya terlalu panjang, kamu akan cepat kelelahan. Sebaliknya, kalau istirahatnya terlalu lama, efek latihannya jadi kurang terasa. Kamu perlu menemukan rasio yang pas sesuai level kebugaran. Pemula biasanya cocok dengan rasio 1 banding 2 atau 1 banding 3. Seiring waktu, rasio ini bisa kamu perketat.

Perhatikan juga kualitas saat fase istirahat aktif. Jangan benar benar berhenti diam, tapi tetap bergerak pelan. Misalnya dari lari cepat turun jadi jalan santai. Cara ini membantu detak jantung turun tanpa membuat tubuh kaget. Dengan pengaturan rasio yang tepat, stamina kamu akan meningkat lebih stabil. Latihan pun terasa menantang sekaligus menyenangkan.

5. Jaga teknik gerakan tetap benar

ilustrasi interval training (pexels.com/Kampus Production)

Saat kelelahan, teknik gerakan sering jadi korban pertama. Langkah kaki mulai asal, posisi tubuh membungkuk, dan napas kacau. Padahal kualitas teknik jauh lebih penting daripada sekadar kecepatan. Kamu perlu tetap sadar pada postur meski intensitas meningkat. Lebih baik melambat sebentar daripada memaksakan gerakan yang salah. Tubuh kamu akan berterima kasih di kemudian hari.

Teknik yang baik juga membuat energi lebih efisien. Kamu gak cepat habis hanya karena gerakan boros tenaga. Fokuskan pandangan ke depan, bahu rileks, dan ayunan tangan natural. Hal hal kecil ini sangat berpengaruh pada hasil akhir. Interval training bukan hanya soal cepat, tapi juga soal pintar bergerak.

6. Beri waktu pemulihan yang cukup

ilustrasi latihan interval (pexels.com/Jari Lobo)

Latihan interval memang efektif, tapi juga memberi beban besar pada tubuh. Karena itu kamu perlu memberi jeda pemulihan yang cukup. Gak perlu melakukan interval setiap hari. Dua sampai tiga kali seminggu sudah lebih dari cukup untuk pemula. Di hari lain, kamu bisa memilih latihan ringan atau peregangan. Tubuh butuh waktu untuk membangun kembali energi.

Tidur yang cukup juga bagian dari pemulihan. Tanpa tidur berkualitas, stamina kamu sulit meningkat. Perhatikan asupan air dan makanan setelah latihan. Kombinasi pemulihan yang baik akan membuat progres terasa lebih cepat. Ingat, peningkatan terjadi saat kamu beristirahat, bukan saat sedang berlari.

7. Lakukan evaluasi dan naikkan level bertahap

ilustrasi latihan interval (pexels.com/Andrew Durkin)

Agar gak jalan di tempat, kamu perlu mengevaluasi latihan secara rutin. Setiap dua minggu, coba lihat apakah kamu sudah merasa lebih kuat. Kalau iya, saatnya menaikkan sedikit tantangan. Kamu bisa menambah durasi kerja atau memperpendek waktu istirahat. Perubahan kecil seperti ini sangat berarti bagi stamina. Jangan langsung melonjak terlalu ekstrem.

Mencatat perkembangan akan membantu kamu tetap termotivasi. Kamu bisa menulis jarak, waktu, atau perasaan setelah latihan. Dari catatan itu, kamu akan melihat perjalanan yang nyata. Stamina meningkat bukan keajaiban semalam. Semua adalah hasil dari langkah kecil yang konsisten. Teruslah naik satu level demi satu level.

Latihan interval adalah cara cerdas untuk meningkatkan stamina tanpa harus menghabiskan waktu berjam jam. Dengan tujuh tips tadi, kamu punya panduan yang lebih terarah untuk memulainya. Ingat bahwa kunci utamanya bukan seberapa keras kamu berlatih, tapi seberapa konsisten kamu melakukannya. Tubuh akan beradaptasi sedikit demi sedikit mengikuti ritme yang kamu bangun. Nikmati prosesnya, bukan hanya hasil akhirnya.

Setiap orang punya titik awal yang berbeda, jadi jangan membandingkan diri dengan orang lain. Fokus saja pada perkembangan versi kamu sendiri. Kalau dilakukan dengan benar, latihan interval bisa membuat kamu lebih bertenaga dalam aktivitas sehari hari. Mulai dari langkah kecil hari ini, dan rasakan perubahan besar beberapa minggu ke depan. Tubuh kuat adalah hadiah terbaik untuk kamu yang mau berusaha.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAtqo Sy