Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Kontroversi Piala Dunia 2026: Visa Ditolak Hingga Wasit Dideportasi
Bola resmi Piala Dunia 2026, Adidas Trionda (Dokumentasi Adidas)
  • Piala Dunia 2026 di AS, Meksiko, dan Kanada menuai kritik karena berbagai kontroversi politik, termasuk masalah visa dan deportasi wasit yang menimbulkan kecaman internasional.
  • Sistem penjualan tiket progresif FIFA membuat harga melonjak drastis hingga ratusan juta rupiah, memicu investigasi hukum oleh otoritas New York dan New Jersey.
  • Biaya transportasi dan makanan di stadion melambung tinggi, sementara perlakuan diskriminatif terhadap tim seperti Iran, Irak, Uzbekistan, dan Senegal memperburuk citra tuan rumah Amerika Serikat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, dianggap publik sebagai edisi terburuk. Sebab, sejumlah kontroversi, yang mayoritas dibumbui aroma politik, mewarnai turnamen.

Sikap AS tentunya yang paling disorot. Sebab, mayoritas kontroversi justru datang dari Negeri Paman Sam. Tak ada jaminan setiap negara peserta bisa masuk ke wilayah AS.

Bahkan, Iran dan Irak sempat mengalami masalah terkait visa, hingga ada pemain yang ditahan selama tujuh jam karena diwawancarai oleh petugas imigrasi di bandara. Selain itu, seorang wasit malah gagal masuk ke wilayah AS. Padahal, namanya tercantum sebagai pengadil resmi dari FIFA.

Tak cuma itu, suporter juga menjadi korban dari kontroversi sepanjang Piala Dunia kali ini. Berikut deretan kontroversi Piala Dunia 2026:

1. Harga tiket yang gak masuk akal

Kekacauan Piala Dunia 2026 mulai meningkat ketika tiket dijual ke publik. Sistem progresif diberlakukan oleh FIFA dan membuat harganya terus melambung seiring tingginya permintaan.

FIFA menerapkan skema first come, first served dalam penjualan tiket Piala Dunia 2026. Dengan sistem tersebut, harga tiket bisa semakin mahal karena permintaan yang melonjak. Pergerakannya juga menjadi begitu liar.

Sebagai sampel, tiket Kategori 1 untuk partai final naik nyaris 50 persen. Awalnya, tiket tersebut seharga 6.370 dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp108 juta. Tapi, ketika suporter mulai berebut, harganya meningkat hingga 10.990 dolar Amerika Serikat atau senilai Rp186,5 juta.

Bukan cuma tiket kelas atas saja yang mengalami kenaikan, tapi juga kategori di bawahnya. Tiket Kategori 3 partai final menjadi 5.785 dolar AS (Rp98,2 juta), naik dua kali lipat. Kemudian, tiket Kategori 2 menjadi 7.380 dolar AS (Rp125 juta).

Harga tiket sejak fase grup juga bergerak liar karena sistem ini. Dengan skema itu, bahkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga enggan membeli tiket Piala Dunia.

Akibat hal ini, FIFA pun diinvestigasi oleh otoritas hukum di AS. Jaksa wilayah New York dan New Jersey memastikan akan mengambil tindakan atas sistem ini.

"Jujur tentang penjualan tiket sebenarnya tidak susah. Tapi, FIFA sudah membuat penjualan tiket menjadi senjata untuk membingungkan orang, kelangkaan semu, dan harga tak masuk akal. Semuanya telah mengorbankan konsumen dan pekerja dari New Jersey," ujar Jaksa Agung New Jersey, Jennifer Davenport, dilansir Daily Mirror.

2. Transportasi yang mahal

ilustrasi New York City (pexels.com/jimmy teoh)

2. Transportasi yang mahal

Jajanan dan transportasi juga menjadi sorotan. Semua dimulai dari ongkos transportasi yang dipatok sangat tinggi. Harga tiket kereta, contohnya dari Penn Station ke MetLife Stadium, New Jersey, dibanderol hingga 150 dolar Amerika Serikat (Rp2,62 juta) untuk pulang-pergi. Padahal, jarak tempuhnya 28,3 kilometer, tergolong dekat untuk ukuran kereta.

Tarif ini meningkat lebih dari 10 kali lipat, karena harga normal berada di kisaran 12,9 dolar AS (Rp226 ribu) untuk pulang-pergi. Tak cuma tiket kereta, tapi shuttle bus juga melonjak tajam. Tarif shuttle bus di New York kini mencapai 80 dolar AS (Rp1,4 juta) untuk pulang-pergi.

Namun, pada akhirnya pemerintah New York dan New Jersey mengambil tindakan. Mereka bernegosiasi dengan operator untuk menurunkan harga tiket. Hingga akhirnya, permintaan tersebut diakomodir.

3. Jajanan juga mencekik

Harga jajanan di dalam stadion Piala Dunia 2026 juga begitu mencekik. Tanda-tanda mahalnya harga jajanan terlihat ketika Inggris beruji coba kontra Selandia Baru di Raymond James Stadium, Tampa, Florida, Sabtu (6/6/2026). Dalam momen itu, suporter dibuat bingung oleh harga minuman yang mahal.

Jurnalis yang bertugas seperti Mike Keegan (Daily Mail), dilansir SportBible, sampai memotret harga bir di stadion tersebut. Keegan bahkan sampai menyatakan jika harga bir di stadion terlalu mahal.

Untuk menu premium, bir dibanderol 18 dolar Amerika Serikat (Rp324.915) per gelas. Sementara, bir domestik yang paling murah harganya 16,75 dolar AS (Rp302.352) per gelas.Harga minuman ini tampaknya diterapkan secara seragam di seluruh vendor yang beroperasi di Raymond James Stadium.

4. Kontroversi visa dan deportasi wasit FIFA

Visa menjadi salah satu topik panas yang menyelimuti Piala Dunia 2026. Kebijakan AS yang tak meloloskan 15 aplikasi visa dari 70 personel Iran di Piala Dunia 2026 dikecam berbagai pihak.

Selain itu, ada perlakuan tak menyenangkan yang diterima oleh striker Irak, Aymen Hussein, saat hendak masuk ke AS lewat Miami International Airport. Hussein ditahan selama tujuh jam untuk diwawancarai.

Perlakuan itu agak berbeda dengan rekan-rekannya di skuad Irak. Ditinjau rekor perjalanan, Hussein sempat mengunjungi Spanyol, negara yang pernah menolak permintaan Presiden Donald Trump untuk menggunakan pangkalan militernya demi menyerang Iran. Hingga, akhirnya Hussein bisa masuk setelah menjalani proses panjang. Namun, nasib berbeda dialami fotografer Irak yang akhirnya harus dideportasi.

Hal serupa ternyata juga dialami wasit asal Somalia, Omar Artan. Dia dideportasi dari AS, meski sudah memegang dokumen yang sah, termasuk visa.

Petugas imigrasi mengklaim Artan memiliki hubungan dengan jaringan teroris Somalia, yang kebetulan negara tersebut memang masuk dalam daftar hitam AS. Anehnya, FIFA tak bisa berbuat banyak terkait kondisi Artan dan menimbulkan asumsi jika posisi tawarnya begitu lemah.

5. Diskriminasi ke Uzbekistan dan Senegal

Sikap AS juga disorot kepada Uzbekistan dan Senegal. Mereka menerapkan prosedur keamanan ketat dengan menerjunkan anjing pelacak hingga metal detector yang begitu rinci.

Bahkan, para pemain Senegal diperiksa di landasan pacu bandara. Sementara, pemain Uzbekistan diperiksa saat hendak masuk ke stadion jelang duel uji coba melawan Belanda.

Perlakuan berbeda diterima Spanyol saat tiba di Meksiko. Mereka malah disambut dengan berbagai nyanyian dan tarian khas.

Editorial Team

Related Article