Tiap kali Kualifikasi Piala Dunia zona Asia berlangsung, Tim Nasional Jepang selalu mampu tampil sebagai raksasa menakutkan. Mereka secara konsisten mewakili Benua Kuning sejak pertama kali lolos ke putaran final pada 1998 meski hasil akhir belum berpihak kepada Samurai Biru, termasuk kegagalan pada babak 32 besar edisi 2026. Namun, di balik pencapaian tersebut, terdapat sebuah kegagalan menyakitkan yang justru menjadi titik awal kebangkitan mereka, yakni tragedi Agony of Doha pada 1993.
Agony of Doha, Memori Kelam Jepang Menuju Piala Dunia

1. Mimpi Jepang ke Piala Dunia pupus dalam tragedi Agony of Doha
Sebelum laga terakhir putaran final Kualifikasi Piala Dunia 1994 zona Asia, Jepang berada di ambang sejarah. Samurai Biru memiliki peluang besar untuk lolos ke putaran final Piala Dunia pertama mereka, dengan kemenangan atas Irak akan memastikan tiket ke Amerika Serikat 1994. Pertandingan di Stadion Al-Ahli, Doha, Qatar, pada 28 Oktober 1993 pun menjadi laga penentu yang sangat dinantikan publik Jepang.
Jepang memulai pertandingan dengan sempurna setelah Kazuyoshi Miura membawa timnya unggul pada menit kelima melalui sundulan kepala. Irak kemudian menyamakan kedudukan lewat Ahmed Radhi pada awal babak kedua, tetapi Masashi Nakayama membawa Jepang kembali memimpin 2-1 pada menit ke-69. Keunggulan tersebut membuat para pemain, staf pelatih, dan suporter Jepang mulai percaya bahwa mimpi tampil di Piala Dunia akhirnya akan menjadi kenyataan.
Harapan itu justru runtuh pada injury time. Berawal dari situasi sepak pojok, Jaffar Salman sukses menanduk bola ke gawang Jepang dan mengubah skor menjadi 2-2 hanya beberapa saat sebelum peluit panjang dibunyikan. Hasil imbang tersebut membuat Jepang gagal lolos ke Piala Dunia 1994 setelah disalip Arab Saudi dan Korea Selatan di klasemen akhir. Peristiwa dramatis itu kemudian dikenang sebagai Agony of Doha, salah satu tragedi paling menyakitkan dalam sejarah sepak bola Jepang.
2. Luka mendalam yang mengubah cara pandang Jepang
Gol penyeimbang Irak pada injury time tidak hanya mengubah skor menjadi 2-2, tetapi juga menghancurkan impian Jepang untuk tampil di Piala Dunia 1994. Para pemain Samurai Biru langsung terdiam, sementara banyak yang terduduk dan terbaring di lapangan setelah peluit panjang berbunyi. Bagi para suporter yang menyaksikan pertandingan, momen itu terasa seperti kemenangan yang direnggut dalam sekejap.
Tragedi tersebut meninggalkan luka yang begitu dalam bagi sepak bola Jepang. Banyak orang yang menyaksikan pertandingan itu mengaku masih mengingat dengan jelas rasa terkejut, putus asa, dan sulit mempercayai apa yang baru saja terjadi. Bahkan, Agony of Doha disebut sebagai "memori negatif" yang membekas layaknya trauma bagi para pemain, staf pelatih, maupun masyarakat Jepang yang mengikuti pertandingan tersebut.
Meski begitu, kegagalan di Doha juga mengajarkan pelajaran berharga bagi sepak bola Jepang. Pengalaman pahit itu membuat banyak pihak menyadari bahwa setiap kegagalan selalu memiliki penyebab yang harus dipelajari agar tidak terulang pada masa depan. Karena itulah, Agony of Doha juga dikenang sebagai contoh penting tentang bagaimana sebuah kegagalan dapat menjadi pelajaran berharga bagi generasi sepak bola Jepang berikutnya.
3. Setelah kegagalan di Doha, Jepang menjadi langganan Piala Dunia
Empat tahun setelah Agony of Doha, Jepang akhirnya mampu menghapus kenangan pahit tersebut. Dalam perjalanan menuju Piala Dunia 1998, Samurai Biru kembali menghadapi persaingan ketat pada fase kualifikasi. Perjuangan mereka berbuah manis setelah mengalahkan Iran 3-2 pada laga play-off di bawah arahan pelatih Takeshi Okada. Kemenangan itu memastikan Jepang lolos ke putaran final Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Keberhasilan menuju Prancis 1998 menjadi awal dari era baru sepak bola Jepang. Sejak saat itu, Jepang selalu berhasil mengamankan tiket ke putaran final Piala Dunia pada setiap edisi berikutnya hingga 2026 ini. Bahkan, pencapaian mereka menunjukkan progres positif dengan beberapa kali menembus babak 16 besar dan melahirkan banyak pemain yang mampu bersaing di klub-klub papan atas Eropa.
Bagi banyak pihak, Agony of Doha dianggap sebagai titik balik kebangkitan sepak bola Jepang. Pengalaman pahit tersebut menjadi pelajaran yang terus dikenang dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai pengingat bahwa setiap kegagalan menyimpan alasan dan pelajaran penting untuk berkembang. Peristiwa di Doha pun menjadi fondasi penting yang mengawali perjalanan Jepang hingga dikenal sebagai salah satu kekuatan sepak bola terbesar di Asia.
Meski belum mampu mempersembahkan gelar juara dunia, Jepang telah menjelma menjadi langganan Piala Dunia sekaligus salah satu kekuatan utama sepak bola Asia. Konsistensi mereka tampil di setiap edisi sejak 1998 menjadi bukti bahwa keberhasilan tersebut dibangun melalui proses panjang, termasuk belajar dari kegagalan paling menyakitkan dalam sejarahnya. Agony of Doha pun tetap dikenang sebagai fondasi yang mengawali perjalanan Jepang hingga mampu bersaing secara konsisten di panggung dunia.