Pada 8 Juli 1964, sehari setelah Papa Doc menyatakan diri sebagai presiden seumur hidup, pasukan paramiliter rezim mendatangi Joe Gaetjens. Saat itu, alasannya memilih tidak ikut bersembunyi seperti anggota keluarga yang lain karena merasa tidak terlibat politik. Naas, alasan itu dianggap tak cukup. Pahlawan Timnas Amerika Serikat di Piala Dunia 1950 itu ditangkap, dimasukkan ke bagasi mobil, dan dibawa pergi.
Berdasarkan penelusuran ESPN, Gaetjens dijebloskan ke Fort Dimanche, sebuah penjara bawah tanah yang terkenal sebagai tempat penyiksaan dan eksekusi mati para tahanan politik. Sejak hari penangkapan, ia tidak pernah terlihat lagi. Gaetjens dinyatakan hilang dan tidak ada catatan resmi kapan atau bagaimana ia meninggal. Namun, ESPN meyakini Gaetjens dieksekusi mati pada 10 Juli 1964. Jasadnya tidak pernah ditemukan hingga hari ini.
Joe Gaetjens mungkin hanya mencetak satu gol di Piala Dunia 1950, tetapi gol itu mengukir salah satu kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola. Ironisnya, sosok yang pernah dielu-elukan sebagai pahlawan justru menghilang tanpa jejak akibat kebrutalan rezim di tanah kelahirannya, meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh bagi keluarga maupun dunia sepak bola. Kisahnya menjadi pengingat tentang kejayaan di lapangan tidak selalu mampu melindungi seseorang dari kerasnya realitas politik.