Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Akhir Tragis Joe Gaetjens, Pahlawan AS di Piala Dunia 1950

Akhir Tragis Joe Gaetjens, Pahlawan AS di Piala Dunia 1950
ilustrasi olahraga sepak bola (pixabay.com/ulleo)
Intinya Sih
  • Joe Gaetjens, imigran asal Haiti di New York, dipanggil memperkuat Timnas AS untuk Piala Dunia 1950 meski belum resmi menjadi warga negara Amerika Serikat.
  • Gol sundulan Gaetjens ke gawang Inggris membawa kemenangan bersejarah 1-0 bagi Amerika Serikat di Piala Dunia 1950, menjadikannya pahlawan tak terduga.
  • Setelah pulang ke Haiti, Gaetjens ditangkap pasukan rezim diktator Francois Duvalier pada 1964 dan hilang tanpa jejak, diyakini menjadi korban eksekusi politik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Piala Dunia kerap melahirkan nama-nama yang selalu disebut pencinta sepak bola. Namun, ada satu kisah tragis sekaligus misterius dari panggung Piala Dunia 1950 di Brasil. Ini tentang Joseph Edouard Gaetjens atau yang lebih dikenal sebagai Joe Gaetjens.

Gaetjens adalah pencetak gol semata wayang yang membawa Amerika Serikat menumbangkan raksasa, Inggris. Takluknya The Three Lions saat itu menjadi salah satu kejutan terbesar dalam sejarah Piala Dunia. Namun, alih-alih menikmati masa tua sebagai legenda, hidup Joe Gaetjens justru berakhir tragis di tangan rezim diktator.

1. Imigran Haiti di New York yang mendadak dipanggil memperkuat Timnas Amerika Serikat

Joe Gaetjens lahir di ibu kota Haiti, Port-au-Prince, pada 19 Maret 1924. Berasal dari keluarga berada, minatnya kepada sepak bola tumbuh sejak memperkuat klub lokal, Etoile Haitienne, pada 1938. Masuk 1947, Gaetjens pindah ke New York, Amerika Serikat, dengan tujuan belajar akuntansi di Columbia University berkat beasiswa dari pemerintah Haiti.

Demi menyambung hidup dan menyalurkan hobinya, ia bekerja sebagai pencuci piring di sebuah restoran lokal sambil bermain untuk Brookhattan. Klub tersebut saat itu mentas di American Soccer League (ASL), cikal bakal Major League Soccer (MLS). Setelah menjadi top scorer ASL 1949/1950 dengan total 18 gol dari 15 laga, Gaetjens dipanggil memperkuat Amerika Serikat untuk Piala Dunia 1950. Padahal, ia hanya menandatangani pernyataan berniat untuk menjadi warga negara AS dan belum secara resmi memegang paspor negara tersebut.

2. Gol semata wayangnya membawa Amerika Serikat menang dramatis atas Inggris

Amerika Serikat tergabung di Grup 2 bersama Inggris, Spanyol, dan Chile. Di laga pembuka fase grup, tim asuhan William Jeffrey takluk 1-3 dari Spanyol pada 25 Juni 1950. Namun, kejutan terjadi 4 hari berselang saat Amerika Serikat bertemu Inggris di Estadio Independencia, Belo Horizonte. Kala itu, Inggris dijuluki Raja Eropa yang bertabur pemain bintang, sementara Amerika Serikat hanyalah tim semenjana yang bermaterikan para pemain amatir paruh waktu.

Inggris diprediksi akan menang mudah dengan skor telak. Namun, keajaiban runtuh pada menit ke-38. Dilansir The Ringer, gelandang AS, Walter Bahr, melepaskan tembakan jarak jauh dari luar kotak penalti. Kiper Inggris, Bert Williams, sudah bersiap menangkap bola yang mengarah ke sisi kiri. Secara tak terduga, Joe Gaetjens terbang menyundul bola tersebut, mengarahkannya ke sudut kanan gawang dan gol. Skor 1-0 bertahan hingga peluit tanda berakhirnya pertandingan. Inggris pulang dengan rasa malu, sementara Gaetjens diarak keliling lapangan oleh publik Brasil yang ikut merayakan kekalahan Inggris.

3. Terpilihnya Francois Duvalier sebagai Presiden Haiti membawa marabahaya untuk keluarga Gaetjens

Setelah Piala Dunia 1950, Joe Gaetjens sempat berkarier semusim di Prancis bersama Racing Club de Paris. Namun, ia memilih pulang ke tanah airnya, Haiti, pada 1953. Di sana, ia disambut sebagai pahlawan nasional dan tetap aktif bermain sepak bola hingga akhirnya pensiun karena cedera pada 1957.

Badai dalam hidup Gaetjens datang pada tahun yang sama ketika gantung sepatu. Dilansir BBC, Francois Duvalier alias Papa Doc terpilih sebagai presiden Haiti melalui pemilihan umum, tetapi berubah menjadi diktator setelah menggagalkan kudeta militer pada 1958. Di sisi lain, keluarga Gaetjens aktif berpolitik dan berdiri di sisi faksi oposisi. Meskipun sama sekali tidak pernah tertarik kepada politik dan mengaku hanya seorang atlet, nama belakangnya sudah cukup untuk membuat dirinya masuk daftar orang yang diawasi rezim.

4. Joe Gaetjens ditangkap pasukan paramiliter Haiti dan diyakini menjadi korban kebrutalan rezim Duvalier

Pada 8 Juli 1964, sehari setelah Papa Doc menyatakan diri sebagai presiden seumur hidup, pasukan paramiliter rezim mendatangi Joe Gaetjens. Saat itu, alasannya memilih tidak ikut bersembunyi seperti anggota keluarga yang lain karena merasa tidak terlibat politik. Naas, alasan itu dianggap tak cukup. Pahlawan Timnas Amerika Serikat di Piala Dunia 1950 itu ditangkap, dimasukkan ke bagasi mobil, dan dibawa pergi.

Berdasarkan penelusuran ESPN, Gaetjens dijebloskan ke Fort Dimanche, sebuah penjara bawah tanah yang terkenal sebagai tempat penyiksaan dan eksekusi mati para tahanan politik. Sejak hari penangkapan, ia tidak pernah terlihat lagi. Gaetjens dinyatakan hilang dan tidak ada catatan resmi kapan atau bagaimana ia meninggal. Namun, ESPN meyakini Gaetjens dieksekusi mati pada 10 Juli 1964. Jasadnya tidak pernah ditemukan hingga hari ini.

Joe Gaetjens mungkin hanya mencetak satu gol di Piala Dunia 1950, tetapi gol itu mengukir salah satu kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola. Ironisnya, sosok yang pernah dielu-elukan sebagai pahlawan justru menghilang tanpa jejak akibat kebrutalan rezim di tanah kelahirannya, meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh bagi keluarga maupun dunia sepak bola. Kisahnya menjadi pengingat tentang kejayaan di lapangan tidak selalu mampu melindungi seseorang dari kerasnya realitas politik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra

Related Articles

See More