Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Analisis Performa Afrika Selatan di Piala Dunia 2026
ilustrasi pertandingan (unsplash.com/vb7)
  • Afrika Selatan tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah kalah 0-1 dari Kanada lewat gol menit akhir Stephen Eustaquio di Los Angeles Stadium.
  • Produktivitas gol menjadi masalah utama dengan hanya dua gol tercipta sepanjang turnamen, meski pelatih Hugo Broos sudah mencoba berbagai perubahan taktik dan formasi.
  • Lini pertahanan tampil solid dengan hanya kebobolan empat gol dalam empat laga, menonjolkan duet bek muda Mbokazi dan Okon serta performa impresif kiper Ronwen Williams.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Afrika Selatan mengakhiri perjalanannya di Piala Dunia 2026 pada 32 besar. Mereka kalah menyakitkan 0-1 dari Kanada di Los Angeles Stadium, Amerika Serikat, pada Minggu (28/6/2026). Bafana Bafana kecolongan gol yang dicetak Stephen Eustaquio pada menit 90+2. Lantas, seperti apa kiprah Afrika Selatan secara keseluruhan di Piala Dunia 2026 ini?

1. Sisi ofensif buruk

Produktivitas menjadi masalah terbesar Afrika Selatan di Piala Dunia 2026. Mereka cuma mampu mencetak dua gol sepanjang kompetisi. Pertama lewat eksekusi penalti Teboho Mokoena ketika menahan Republik Ceko 1-1. Kedua, Thapelo Maseko melepaskan tendangan dari dalam kotak penalti yang menghasilkan kemenangan 1-0 atas Korea Selatan.

Jumlah dua gol ini merupakan yang terminim di antara semua keterlibatan mereka di Piala Dunia. Padahal, edisi 2026 adalah pertama kalinya Afrika Selatan menembus fase gugur. Mereka menciptakan 3 gol saat debut di Piala Dunia pada 1998 dan ketika menjadi tuan rumah pada 2010 serta membuat 5 gol pada 2002.

Ironisnya, problem ini sebetulnya sudah terjadi jauh sebelum turnamen dimulai. Afrika Selatan hanya mencetak 3 gol dari 4 pertandingan pemanasan terakhir mereka. Sang pelatih, Hugo Broos, melakukan berbagai cara untuk mengatasi situasi tersebut sepanjang Piala Dunia 2026. Ia mengganti personel hingga formasi. Namun, hasilnya nihil sampai akhirnya ditendang Kanada.

2. Kreativitas yang rendah

Kegagalan Afrika Selatan mencetak gol yang cukup di Piala Dunia 2026 bukan hanya persoalan penyelesaian akhir. Kreativitas mereka juga memang rendah. Kondisi ini sebetulnya bisa dimaklumi mengingat ketiadaan pengatur serangan yang mumpuni. Hugo Broos lantas menyiasatinya dengan memainkan direct football. Mereka mengirim umpan-umpan panjang dan tembakan jarak jauh.

Dua gol yang mereka dapat memang hasil dari taktik tersebut. Gol penalti Teboho Mokoena ke gawang Republik Ceko berasal dari tendangan Thapelo Maseko di luar kotak penalti yang mengenai tangan Pavel Sulc. Sementara, gol kemenangan atas Korea Selatan yang dicetak Thapelo Maseko diawali umpan panjang Ime Okon dan total prosesnya cuma memakan sembilan sentuhan.

Namun, hanya dua gol dari begitu banyak percobaan jelas tidak memuaskan. Sebagai gambaran lain, data dari FIFA menunjukkan, Afrika Selatan melepaskan 39 tembakan sepanjang Piala Dunia 2026. Dari jumlah itu, 26 di antaranya terluncur dari luar kotak penalti. Hanya Turki yang lebih sering melakukan percobaan di area tersebut dibanding Afrika Selatan (33).

3. Pertahanan cukup oke

Pertahanan menjadi aspek yang bisa menjadi catatan positif bagi Afrika Selatan di Piala Dunia 2026. Mereka hanya kebobolan 4 gol dari 4 pertandingan. Sebelum kalah 0-1 dari Kanada pada 32 besar dan imbang 1-1 dengan Republik Ceko, mereka menyerah 0-2 dari Meksiko pada partai pembuka. Jumlah ini lebih rendah dari 6 gol pada 1998 dan 5 gol pada 2002 serta 2010. Padahal, mereka cuma bermain tiga kali dalam tiga Piala Dunia pertamanya tersebut.

Penampilan defensif yang solid dari Afrika Selatan paling tergambar ketika tumbang dramatis di tangan Kanada. Sebelum kebobolan pada menit akhir, mereka sebetulnya mampu membuat sang lawan frustasi. Aksi Aubrey Modiba membuang bola tepat di garis gawang pada menit 44 begitu luar biasa. Ada pula sapuan heroik nan sigap dari Mbekezeli Mbokazi pada menit 65 yang menggagalkan Jonathan David untuk menyelesaikan peluang dengan leluasa.

Piala Dunia 2026 ini setidaknya memperlihatkan Afrika Selatan yang memiliki tandem bek tengah mumpuni untuk jangka panjang. Mbokazi baru 20 tahun, sedangkan Ime Okon yang merupakan pendampingnya hanya 2 tahun lebih tua. Sayangnya, kiper sekaligus kapten mereka, Ronwen Williams, sudah 34 tahun. Padahal, Williams tampil impresif sepanjang Piala Dunia 2026. Ia tercatat sebagai penjaga gawang dengan jumlah penyelamatan terbanyak keenam (14) per 29 Juni.

Afrika Selatan mengukir sejarah di Piala Dunia 2026 dengan lolos ke fase gugur kompetisi ini untuk pertama kalinya. Mereka pulang dengan sejumlah catatan. Evaluasi tersebut tentu harus dimaksimalkan demi menembus Piala Dunia 2030 dan mengukir pencapaian historis lainnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article