Apakah Gaji Mahal Casemiro di MU Sepadan dengan Kontribusinya?

Manchester United resmi mengumumkan bahwa Casemiro akan mengakhiri masa baktinya di Old Trafford hingga musim 2025/2026 selesai. Keputusan ini sekaligus menandai berakhirnya salah satu transfer paling ambisius sekaligus kontroversial usai era Sir Alex Ferguson. Kedatangan Casemiro sejak awal memang tidak pernah berdiri sebagai proyek jangka panjang, melainkan respons cepat atas krisis struktural yang membelit lini tengah MU.
Transfer Casemiro dari Real Madrid pada Agustus 2022 lahir dari situasi darurat. Setan Merah kala itu membutuhkan figur berpengalaman yang mampu memberi dampak instan di tengah ketidakstabilan performa dan tekanan publik yang masif. Namun, seiring berjalannya waktu, apakah gaji dan biaya besar yang digelontorkan klub benar-benar sepadan dengan kontribusi Casemiro di lapangan?
1. Casemiro direkrut MU dengan biaya mahal saat telah berusia 30 tahun
Manchester United merekrut Casemiro dengan nilai transfer mencapai 60 juta pound sterling (Rp1,374 triliun), dengan potensi tambahan hingga 10 juta pound sterling (Rp229,07 miliar) dalam klausul performa. Angka tersebut menunjukkan ambisi besar MU yang bersedia membayar mahal demi mendapatkan solusi instan di posisi gelandang bertahan. Jika melihat iklim transfer pemain di English Premier League (EPL), biaya tersebut menempatkan Casemiro sebagai salah satu pembelian termahal untuk pemain berusia di atas 30 tahun.
Selain biaya transfer, struktur gaji Casemiro juga mempertegas status istimewanya di skuad. Ia menandatangani kontrak dengan bayaran sekitar 350 ribu pound sterling (Rp8,017 miliar) per pekan, yang kemudian turun ke kisaran di bawah 300 ribu pound sterling (Rp6,872 miliar) akibat pemotongan kolektif karena gagal lolos ke Liga Champions Eropa. Kendati demikian, angka tersebut tetap menempatkannya di jajaran pemain dengan bayaran tertinggi di MU.
Struktur gaji ini menciptakan ekspektasi yang nyaris tidak memberi ruang toleransi. Pemain dengan bayaran sebesar itu dituntut tampil konsisten, dominan, dan menjadi pembeda di laga besar. Casemiro pun tidak datang sebagai rekrutan teknis semata, melainkan menjadi jalan pintas MU yang berharap pengalaman dan mental juara bisa menambal lubang sistemik.
Ekspektasi tersebut kian berat mengingat Casemiro telah melewati masa jayanya. Ia direkrut pada usia 30 tahun, fase ketika gelandang bertahan mulai mengalami penurunan fisik secara alamiah. Investasi besar pada pemain yang memasuki masa akhir kariernya sejak awal membawa risiko, terutama di liga dengan intensitas setinggi Premier League.
Dengan latar belakang tersebut, kontrak Casemiro tidak semata mencerminkan nilai finansial, tetapi juga keputusan berisiko demi kestabilan instan. Fokus perdebatan pun bergeser dari kualitas individual sang pemain. Yang menjadi pertanyaan, apakah biaya tinggi yang digelontorkan klub bagi seorang pemain gaek mampu menjawab masalah sistemik MU?
2. Casemiro tampil solid pada awal musim, tetapi performanya menurun pada musim berikutnya
Pada musim pertamanya, Casemiro menjawab sebagian besar ekspektasi tersebut. Ia menjadi jangkar yang menyeimbangkan lini tengah, memperbaiki organisasi bertahan, dan memberi rasa aman dalam transisi. Kemampuannya membaca permainan, memutus serangan lawan, serta memenangi duel membuat Manchester United tampil lebih stabil dibanding musim sebelumnya.
Data menit bermain menunjukkan betapa sentralnya peran Casemiro. Menurut The Athletic, pada 2022/2023, ia mencatatkan lebih dari 3.900 menit bermain di semua kompetisi, angka yang mencerminkan kepercayaan penuh dari manajer. Kontribusinya tidak hanya defensif, tetapi juga ofensif, dengan sejumlah gol penting yang lahir dari timing masuk ke kotak penalti.
Namun, memasuki musim-musim berikutnya, penurunan mulai terlihat. Casemiro makin sering mengambil risiko dalam distribusi bola, dengan persentase umpan progresif meningkat, tetapi akurasinya menurun drastis. Akurasi umpan panjangnya merosot dari 76,1 persen pada musim terakhirnya bersama Real Madrid menjadi sekitar 52,9 persen di Premier League.
Penurunan ini berdampak langsung pada stabilitas tim. Casemiro kerap kehilangan bola di area berbahaya, baik akibat tekanan lawan maupun keputusan yang terlalu ambisius. Dalam beberapa laga besar, seperti kekalahan telak 0-4 atas Crystal Palace pada Mei 2024 dan 0-3 dari Liverpool pada September 2024, yang berawal dari kesalahan individu Casemiro berujung gol hingga meruntuhkan struktur tim.
Dari sisi defensif, beban fisik juga kian terasa. Jumlah tekel, intersepsi, dan duel suksesnya mengalami penurunan signifikan. Ia lebih sering dilewati lawan di ruang terbuka, sesuatu yang jarang terjadi pada fase puncak kariernya di Real Madrid. Dalam sistem yang menuntut gelandang bertahan menutup area luas sendirian, keterbatasan mobilitas ini menjadi masalah struktural.
Meski begitu, kontribusi Casemiro tidak sepenuhnya menghilang. Ia tetap menunjukkan kepemimpinan, keberanian mengambil tanggung jawab, serta pengalaman dalam mengatur ritme saat tim tertekan. Namun, dampak tersebut bersifat situasional dan inkonsisten dari pekan ke pekan.
3. Dengan total gaji mencapai 140 juta pound sterling, apakah kontribusi Casemiro sepadan di MU?
Evaluasi terhadap Casemiro tidak bisa dilepaskan dari gambaran besar Manchester United. Klub ini telah lama mengandalkan nama besar dan reputasi masa lalu sebagai jalan pintas menuju stabilitas. Casemiro menjadi contoh paling jelas dari pola tersebut dengan label mahal, berpengalaman, dan diharapkan langsung mengubah nasib tim.
Jika ditilik dari aspek kepemimpinan dan mental juara, Casemiro masih memberikan nilai tambah. Rekam jejaknya sebagai pemain juara Liga Champions lima kali memberi standar profesionalisme yang dibutuhkan ruang ganti MU. Dalam situasi tertentu, kehadirannya masih membantu menenangkan permainan dan memberi arahan bagi pemain muda.
Namun, ketika kontribusi di lapangan mulai menurun, beban gaji yang besar menjadi sulit dibenarkan. Dengan total biaya transfer dan gaji yang diperkirakan melampaui 140 juta pound sterling (Rp3,207 triliun) hingga akhir kontraknya, nilai ekonomi Casemiro menjadi sorotan tajam, terlebih dalam konteks efisiensi skuad dan perencanaan jangka panja
MU kini dihadapkan pada titik krusial dalam arah kebijakannya. Kebangkitan performa Casemiro di bawah Ruben Amorim tidak menghapus fakta bahwa kepergiannya kelak akan membuka ruang finansial yang signifikan. Dari situlah, klub harus memilih antara terus membayar mahal nilai historis atau mengalihkan investasi ke profil yang lebih selaras dengan tuntutan taktis dan fisik sepak bola modern.
Pada akhirnya, Casemiro bukanlah kegagalan total, tetapi juga bukan investasi ideal. Awalnya, ia memberi dampak signifikan awal, lalu perlahan tergerus oleh usia, sistem, dan tuntutan liga. Dalam konteks ini, Manchester United tampak lebih terjebak pada romantisme pengalaman ketimbang kalkulasi jangka panjang.

















