Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana Kolonialisme Menentukan Kekuatan Dominan Sepak Bola?
penggemar Timnas Portugal (pexels.com/Bastian Riccardi)
  • Negara eks-penjajah memiliki keunggulan historis dalam sepak bola karena warisan finansial dan infrastruktur olahraga yang dibangun sejak era kolonial, menjadikan mereka pusat kekuatan global hingga kini.
  • Negara Amerika Latin seperti Brasil dan Argentina mewarisi sistem sosial rasialis dari masa kolonial, di mana dominasi keturunan Eropa membentuk struktur kekuasaan dan identitas nasional dalam dunia sepak bola.
  • Pemain diaspora dari negara bekas jajahan mencerminkan ketimpangan kolonial yang berlanjut, di mana migrasi dan dependensi ekonomi memperkuat dominasi negara eks-penjajah dalam peta sepak bola dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Memasuki fase gugur, pola familier mulai terbaca dalam Piala Dunia 2026. Tim-tim yang mendekat ke final mayoritas adalah kekuatan tradisional. Spanyol, Portugal, Brasil, Prancis, Inggris, Belgia, dan beberapa kekuatan baru seperti Amerika Serikat, Meksiko, Paraguay, Kanada, dan Maroko. Dari negara-negara yang sudah dinyatakan lolos ke fase 16 besar itu, hampir separuhnya adalah negara eks penjajah.

Mengapa pola ini tidak juga berubah? Apakah ini bagian dari legasi kolonial yang katanya sudah dihapuskan berabad-abad lalu? Mari kupas lebih jauh.

1. Negara eks penjajah punya sumber daya untuk mencuri start

Ini sebenarnya logika yang cukup mudah. Dengan menjajah, negara-negara tadi diuntungkan secara finansial lewat berbagai skema curang seperti perbudakan dan perampasan aset. Mereka bisa meraup profit maksimal dengan modal sekecil mungkin. Ketika penduduk negara-negara jajahan sibuk memikirkan bagaimana mereka bisa bertahan hidup esok hari, negara penjajah punya banyak waktu dan sumber daya untuk memikirkan perihal kurang mendesak seperti industrialisasi olahraga.

Mereka membuat klub-klub sepak bola, mendirikan federasi dan persatuan, dan dapat banyak hak istimewa dengan status pendiri itu. Seperti Inggris Raya yang bisa mengirim empat perwakilan terpisah dalam berbagai turnamen olahraga, termasuk sepak bola. Tak heran pula bila akhirnya kini mereka jadi kiblat sepak bola, pengalaman dan infrastruktur memadai tidak bisa bohong. Untuk dicap sukses, seorang atlet pasti akan berkiblat ke Eropa, tempat negara-negara penjajah bersatu.

2. Amerika Latin bukan sembarang wilayah jajahan

Pertanyaan lanjutan mungkin terlintas di benakmu melihat Brasil dan Argentina yang juga bekas negara jajahan bisa jadi salah satu kekuatan dominan dalam sepak bola. Ini sebenarnya kasus yang polanya tidak jauh beda. Kalau kita perhatikan lebih seksama, Brasil, Argentina, bahkan Paraguay dan Meksiko adalah negara jajahan yang sebagian penduduknya adalah keturunan Eropa. Mereka bukan seperti negara jajahan Eropa di Afrika dan Asia yang setelah dieksploitasi dan diobrak-abrik sistemnya, ditinggalkan dan dibiarkan terjebak dalam kemiskinan, dependensi ekonomi, serta korupsi.

Sebagian pendatang Eropa yang dahulu datang untuk menjajah, menetap di Amerika Latin dan menciptakan sistem baru yang sebenarnya mirip sistem kasta. Di Brasil, pernah ada yang namanya era Blanqueamiento atau era pemutihan, yakni proses nation building yang amat rasialis. Pemegang kekuasaan Brasil pascakemerdekaan yang tak lain adalah bagian dari keluarga Kerajaan Portugal dan Inggris sebagai kolaboratornya, beraspirasi “membersihkan” Brasil dari jejak budak asal Afrika dan penduduk pribumi. Caranya dengan memastikan keturunan budak Afrika dan penduduk pribumi tetap berada di kasta terendah (membatasi akses dan pergerakan mereka dengan tujuan menekan angka kelahiran) serta menarik kedatangan imigran kulit cerah, terutama dari Eropa. Brasil memang sudah berubah, meritokrasi dan kehadiran sosialisme membuka jalan untuk pemain berlatar belakang pribumi dan kulit hitam di timnas mereka. Namun, ini tidak serta merta membersihkan Brasil dari segregasi rasial yang masih tampak sampai sekarang.

Bagaimana dengan Argentina? Taktik nation building mereka hampir sama dengan Brasil. Namanya, periode Conquest of the Desert (1878–1885), yakni, kampanye militer yang dilakukan pemerintah Argentina (didominasi pendatang keturunan Eropa) untuk menguasai atau lebih tepatnya merebut 60 juta hektar lahan. Mereka tahu ada penduduk pribumi yang tinggal di sana secara turun temurun, tetapi itu bukan hambatan bagi mereka untuk mengusir, bahkan membunuh mereka. Taktik "pemutihan" Argentina juga dilakukan dengan mempromosikan pernikahan campur antara penduduk kulit berwarna dengan kulit putih. Hasilnya lebih kentara dan berhasil, bahkan tercermin dari pemain timnas mereka yang didominasi keturunan Eropa. Jika kamu ulik, hampir semua negara Amerika Latin yang pernah dijajah sempat mengalami era pemutihan. Ini sekaligus mengonfirmasi pola yang berbeda dengan Asia dan Afrika.

3. Pemain diaspora adalah salah satu manifestasi dari dependensi yang diciptakan negara kolonial

Tak hanya mengeksploitasi, negara eks-kolonial bisa mempertahankan sistem tak adil itu karena menerapkan kelicikan lain bernama dependensi. Inggris menggunakan taktik ini saat menjajah Irlandia, begitu pula Prancis saat menjajah negara-negara Afrika dan Karibia. Begitu juga Amerika Serikat saat menjajah Filipina. Tanam paksa yang diikuti dengan monopoli distribusi adalah taktik yang paling sering diadopsi untuk menciptakan ketergantungan tersebut. Pertama, kebijakan itu menciptakan ketergantungan terhadap pasar global yang sebelumnya tidak ada. Kedua, ia merusak alam dan kesehatan penduduk karena penjajah hanya fokus pada produktivitas bukan keberlanjutan.

Ketika dependensi ekonomi terbentuk, kemiskinan struktural pun ikut tercipta dan tak pelak negara bekas jajahan tak melihat masa depan di negara mereka. Alhasil migrasi bahkan eksodus terjadi dan lagi-lagi menguntungkan negara eks-kolonial. Lihat saja sebaran pemain berlatarbelakang negara bekas jajahan di timnas negara kolonial seperti Prancis, Belanda, Jerman, Inggris, dan Portugal. Sebuah riset dilakukan kelompok peneliti di University of Zurich jelang Piala Dunia 2026. Mereka menggunakan game Football Manager 2026 untuk membuat ribuan simulasi realistis guna membuktikan dampak dari keberadaan pemain berlatar belakang negara bekas jajahan dengan performa tim. Hasilnya, pemain dengan latar belakang negara bekas jajahan akan membawa dampak positif ke tim, terutama bila mereka bermain untuk negara asal orangtua mereka (bekas jajahan). Sebaliknya, negara yang kini mereka bela (bekas penjajah) akan mengalami penurunan performa ketika mereka tinggalkan.

Ya, memang mereka layak berterima kasih kepada negara bekas penjajah yang memberi mereka akses dan kesempatan untuk jadi pemain sepak bola profesional tingkat elite. Namun, itu pula yang membuat ketimpangan dalam peta kekuatan sepak bola global makin besar. Kecuali bila pemain berlatar belakang negara jajahan mau membela negara asal orangtua mereka seperti yang terlihat di Timnas Maroko.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article